Wednesday, March 7, 2012

SENGON (Albazia Falcataria)

Sengon dalam bahasa latin disebut Albazia Falcataria, termasuk famili Mimosaceae, keluarga petai – petaian. Di Indonesia, sengon memiliki beberapa nama daerah seperti berikut jeunjing, jeunjing laut (sunda), kalbi, sengon landi, sengon laut, atau sengon sabrang (jawa), Maluku : seja (Ambon), sikat (Banda), tawa (Ternate), dan gosui (Tidore).

Tanaman ini beberapa tahun terakhir menjadi primadona petani kayu, karena dari pohon sengon ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman sengon adalah kayunya. Kayu sengon digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, peti kas, perabotan rumah tangga, pagar, tangkai dan kotak korek api, pulp, kertas dan lain-lainnya. Dari sisi perawatan yang mudah maupun usia panen yang cukup pendek dibanding jenis tanaman produksi yang lain semisal kayu jati walaupun dari sisi nilai jual kayu sengon masih kalah jauh dengan kayu jati.

Di samping itu sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya. Keberadaan nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.

HABITAT
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7. Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 – 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° – 27 °C. Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman, pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu.

Tanaman sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 – 4000 mm. Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%.

CIRI-CIRI POHON
Pohonnya dapat mencapai tinggi sekitar 30–45 meter dengan diameter batang sekitar 70 – 80 cm. Bentuk batang sengon bulat dan tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih atau kelabu, tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV - V.

Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing menyukai daun sengon tersebut. Tajuk tanaman sengon berbentuk menyerupai payung dengan rimbun daun yang tidak terlalu lebat. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daunnya kecil-kecil dan mudah rontok, sepintas mirip daun petai. Warna daun sengon hijau pupus, berfungsi untuk memasak makanan dan sekaligus sebagai penyerap nitrogen dan karbon dioksida dari udara bebas.

Sengon memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah, akar rambutnya tidak terlalu besar, tidak rimbun dan tidak menonjol kepermukaan tanah. Akar rambutnya berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah disekitar pohon sengon menjadi subur.

Bunga tanaman sengon tersusun dalam bentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, dengan cara penyerbukan yang dibantu oleh angin atau serangga.

Buah sengon berbentuk polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong buah berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman,agak keras, dan berlilin.

Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon, maka banyak pohon sengon ditanam ditepi kawasan yang mudah terkena erosi, lahan tidur ataupun sebetulnya bisa juga dipakai sebagai pohon penghijau di tepi-tepi jalan Tol seperti Tol Jakarta – Cikampek maupun Tol Jakarta - Merak, dan sesuai dengan daur tebang tanaman sengon biasanya dipanen setiap 5 tahun sekali.

PERBANYAKAN
Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan benih sengon yang baik sebagai berikut :

1. Kulit bersih berwarna coklat tua
2. Ukuran benih maksimum
3. Tenggelam dalam air ketika benih direndam, dan
4. Bentuk benih masih utuh.

Selain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi.

Beberapa hama yang biasa menyerang bibit adalah semut, tikus rayap, dan cacing, sedangkan yang tergolong penyakit ialah kerusakan bibit yang disebabkan oleh cendawan.

SELEKSI BIBIT
Kegiatan seleksi bibit merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum bibit dimutasikan kelapangan, maksudnya yaitu mengelompokan bibit yang baik dari bibit yang kurang baik pertumbuhannya. Bibit yang baik merupakan prioritas pertama yang bisa dimutasikan kelapangan untuk ditanam sedangkan bibit yang kurang baik pertumbuhannya dilakukan pemeliharaan yang lebih intensip guna memacu pertumbuhan bibit sehingga diharapkan pada saat waktu tanam tiba kondisi bibit mempunyai kualitas yang merata.

PEMELIHARAAN
Jenis kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tanaman. Pemeliharaan tahun I sampai dengan tahun ke III kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dapat berupa kegiatan penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemangkasan cabang. Pemeliharaan lanjutan berupa kegiatan penjarangan dengan maksud untuk memberikan ruang tumbuh kepada tanaman yang akan dipertahankan, presentasi dan frekuensi penjarangan disesuaikan dengan aturan standar teknis kehutanan yang ada. Cara penjarangan dilakukan dengan menebang pohon-pohon sengon menurut sistem "untu walang" (gigi belakang) yaitu : dengan menebang selang satu pohon pada tiap barisan dan lajur penanaman.

sumber referensi

DUKU, LANGSEP DAN KOKOSAN

Buah-buahan ini sampai sekarang masih mudah untuk ditemukan terutama duku baik di supermarket maupun pasar tradisional. Kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan ini sering dipakai untuk menggambarkan warna kulit seorang dara cantik berkulit kuning langsat, yang sedikit berbeda dengan kulit Sawo yang sering dipakai untuk menggambarkan warna kulit rata-rata orang Indonesia yakni sawo matang.

Buah duku yang mempunyai rasa manis dan mudah untuk dimakan menjadikannya sampai sekarang masih banyak digemari oleh masyarakat. Sebetulnya Duku adalah nama umum dari sejenis buah-buahan anggota suku Meliaceae. Tanaman yang berasal dari Asia Tenggara sebelah barat ini dikenal pula dengan nama-nama yang lain seperti langsat,, kokosan, pisitan, celoring dan lain-lain dengan pelbagai variasinya. Nama-nama yang beraneka ragam ini sekaligus menunjukkan adanya aneka kultivar yang tercermin dari bentuk buah dan pohon yang berbeda-beda.

Duku, Langsep dan Kokosan ketiga-tiganya sepintas mirip dari tampilan bentuk buahnya dan kebanyakan orang menyebutnua buah Duku, namun sebenarnya Duku berbeda dengan Langsep maupun Kokosan. Begitu pula Langsep dan Kokosan juga berbeda satu sama lainnya. Langsep dan Kokosan juga tidak dijual di supermarket, namun di pasar-pasar tradisional masih dapat dijumpai walaupun jumlahnya tidak sebanyak buah Duku.

Duku amat bervariasi dalam sifat-sifat pohon dan buahnya; sehingga ada pula ahli yang memisah-misahkannya ke dalam jenis-jenis (spesies) yang berlainan. Pada garis besarnya, ada dua kelompok besar buah ini, yakni yang dikenal sebagai duku, dan yang dinamakan langsat. Kemudian ada kelompok campuran antara keduanya yang disebut duku-langsat, serta kelompok terakhir yang di Indonesia dikenal sebagai kokosan.

Sebagai tanaman bertajuk menengah, duku tumbuh baik dalam kebun-kebun campuran (wanatani). Tanaman ini, terutama varietas duku, menyukai tempat-tempat yang ternaung dan lembap. Di daerah-daerah produksinya, duku biasa ditanam bercampur dengan durian, petai, jengkol, serta aneka tanaman buah dan kayu-kayuan lainnya, meski umumnya duku yang mendominasi.

Duku biasa ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl., di wilayah dengan curah hujan antara 1.500-2.500 mm per tahun. Tanaman ini dapat tumbuh dan berbuah baik pada berbagai jenis tanah, terutama tipe tanah latosol, podsolik kuning, dan aluvial. Duku menyenangi tanah bertekstur sedang dan berdrainase baik, kaya bahan organik dan sedikit asam, namun dengan ketersediaan air tanah yang cukup. Sementara itu varietas langsat lebih tahan terhadap perubahan musim, dan dapat menenggang musim kemarau asalkan cukup ternaungi dan mendapatkan air. Duku tidak tahan penggenangan.
Duku umumnya berbuah sekali dalam setahun, sehingga dikenal adanya musim buah duku. Musim ini dapat berlainan antar daerah, namun umumnya terjadi di sekitar awal musim hujan.

Ciri-Ciri Umum
Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin).
Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm.

Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. Putiknya tebal dan pendek.

Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding) buah tipis hingga tebal (kira-kira 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh salut biji (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis.

Perbanyakan yang dilakukan menggunakan biji mengakibatkan lambannya tanaman dalam menghasilkan buah. Tanaman baru berbunga pada umur 10 sampai 15 tahun. Perkecambahan tumbuhan ini memiliki perilaku poliembrioni (satu biji menghasilkan banyakembrio atau semai): satu embrio hasil pembuahan, dan sisanya embrio apomiktik, Embrio apomiktik berkembang dari jaringan pohon induk sehingga keturunannya memiliki karakter yang serupa dengan induknya. Biji bersifat rekalsitran, penyimpanan lebih daripada tujuh hari akan menyebabkan kemunduran daya kecambah yang cepat.

Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan pencangkokan dan sambung pucuk, bahkan ada beberapa petani yang telah mencoba pohon Kokosan maupun Langsep disambung pucuk dengan pucuk pohon Duku yang sudah siap buah.

DUKU
Kelompok yang dikenal sebagai duku (Lansium domesticum var. duku) umumnya memiliki pohon yang bertajuk besar, padat oleh dedaunan yang berwarna hijau cerah, dengan tandan yang relatif pendek dan berisi sedikit buah. Butiran buahnya besar, cenderung bulat, berkulit agak tebal namun cenderung tidak bergetah bila masak, umumnya berbiji kecil dan berdaging tebal, manis atau masam, dan berbau harum.

Ada beberapa varietas duku. Mulai dari duku "palembang" yang berkulit tebal serta berwarna agak "kemerahan" sampai duku condet yang berkulit tipis dan berwarna agak kehijauan. Langsat yang berkulit sangat tipis, berwarna kuning keputih-putihan serta bergetah itu pun merupakan salah satu varietas dari duku. Pertumbuhan pohon duku sangat lamban. Dalam kondisi yang sangat optimal, umur 10 sd. 15 tahun baru akan mulai berbuah. Dalam kondisi yang kurang bergitu menguntungkan, pada umur-umur tersebut, tanaman baru akan mencapai ketinggian antara 3 sd. 5 m. dan belum berbuah.

Para petani Thailand, memiliki resep sederhana untuk memupuk tanaman duku mereka. Kalau diameter batang 30 cm, maka dosis pupuknya 3 kg. NPK 19-19-19. (Nitrogen, Phospat dan Kalium masing-masing 19%). Kalau diameter tanaman 50 cm, maka pupuknya 5 kg NPK 19-19-19. Demikian seterusnya, pada tiap peningkatan diameter batang 10 cm, dosis pupuknya ditambah 1 kg. Atau tiap peningkatan diameter batang 1 cm. dosisnya tambah 0,1 kg.

LANGSEP
Buah yang bentuknya kecil-kecil agak lonjong mirip buah kemiri yang rasanya manis sedikit masam ini banyak digemari masyarakat. Buah Langsep jaman dahulu yang terkenal dari Singosari Malang Jawa Timur, namun sebetulnya sekarang di Singosari sendiri sudah tidak dapat ditemui pohon Langsep. Langsep-langsep yang beredar di pasar sebetulnya berasal dari daerah sekitar Singosar. Hal seperti ini juga terjadi dengan Duku Palembang yag sebetulnya berasal dari daerah OKU/OKI maupun daerah-daerah di luar Sumatera Selatan seperti Jambi maupun Lampung.

Langsep atau Langsat (L. domesticum var. domesticum) kebanyakan memiliki pohon yang lebih kurus, berdaun kurang lebat yang berwarna hijau tua, dengan percabangan tegak. Tandan buahnya panjang, padat berisi 15–25 butir buah yang berbentuk bulat telur dan besar-besar. Buah langsat berkulit tipis dan selalu bergetah (putih) sekalipun telah masak. Daging buahnya banyak berair, rasanya masam manis dan menyegarkan. Tidak seperti duku, langsat bukanlah buah yang bisa bertahan lama setelah dipetik. Dalam tiga hari setelah dipetik, kulit langsat akan menghitam sekalipun itu tidak merusak rasa manisnya. Hanya saja tampilannya menjadi tidak menarik. Mengingat daya tahan buahnya yang tak seperti duku, langsat umumnya dikenal secara lebih terbatas dan lokal. Beberapa kultivar yang populer, di antaranya adalah langsep singosari dari Malang, langsat tanjung dari Kalsel, langsat punggur dari Kalbar, dan sebagainya. Dari Thailand dikenal langsat uttaradit, dan dari Luzon, Filipina, dikenal langsat paete.

KOKOSAN
Kokosan (L. domesticum var. aquaeum) dibedakan oleh daunnya yang berbulu, tandannya yang penuh butir buah yang berjejalan sangat rapat, dan kulit buahnya yang berwarna kuning tua. Butir-butir buahnya umumnya kecil, berkulit tipis dan sedikit bergetah, namun sukar dikupas. Sehingga buah dimakan dengan cara digigit dan disedot cairan dan bijinya (maka disebut kokosan), atau dipijit agar kulitnya pecah dan keluar bijinya (maka dinamai pisitan, pijetan, bijitan).

Bentuk pohonnya hampir sama dengan pohon duku; namun bentuk daunnya lebih lanset, bulu daun lebih lebat dan kasar; malai bunga lebih panjang; buahnya lebih kecil. Kadang daging buahnya berwarna kuning kemerah-merahan dengan biji relatif besar dan berdaging tipis, dan berair. Kokosan umumnya berasa masam sampai masam sekali. Buah Kokosan ini biasanya dijual berikut tangkainya, karena buah yang matang masih kuat menempel di tangkai buah. Kalau makan kokosan hati-hati jangan sampai bijinya tergigit. Biji kokosan rasanya pahit.

baca manfaat duku di sini

Friday, March 2, 2012

JAMUR SO NAN LEZAT

JAMUR atau Mushroom adalah salah satu bahan makanan yang telah lama dikenal oleh manusia, walaupun ada yang beracun dan tidak beracun. Salah satu yang sedikit beracun tetapi kalau bisa mengolahnya akan menjadi sajian makanan yang enak adalah JAMUR SO. Kata So berasal dari pohon So atau pohon Melinjo, kalau kata “So” bersumber dari nama daunnya, sedangkan kalau Melinjo bersumber dari nama buahnya. Jamur So ini dinamakan demikian karena habitat tum buhnya biasanya di bawah pohon So. namun dalam mencari jamur ini haruslah pada musim hujan,karena jamur ini biasa muncul saat musim hujan saja.

Tanaman ini termasuk dalam golongan "jejamuran", yang nama latinnya dikenal dengan Scleroderma Aurantium Vulgare. Bentuknya bulat seperti bongkahan telur, Peridium (kulit buah) berwarna coklat kekuningan, permukaan bagian dalam berwarna kuning, lebar sekitar 4-8 cm dan tinggi 2-6 cm, Gleba (bagian spora) dari warna putih menjadi gunduk keunguan dan akhirnya menjadi kecoklatan sampai coklat gelap sebagai spora.

Kandungan Senyawa Kimia
Jamur So mengandung senyawa kimia yang berupa Sterol, Glukosa, Fruktosa, Maltosa dan indol. Dalam ekstrak etanol, beberapa asam amino bebsa, alanin asparangin , phenyl alani, alfa asam aminobutyric, asam aspartat, asam glutamat, lensin, lisin, serin, tirosin dan valin telah teriindentifikasi menggunakan kramotagrafi kertas dua demensi (Grzybowska, 1967).

Jamur So tumbuh di hampir seluruh kepulauan Indonesia juga tersebar luas di Asia, Eropa dan Amerika Utara ditemukan di hutan terutama pada saat musim hujan dan tumbuh di sekitar pohon melinjo. Hanya saja di desa-desa pulau Jawa seperti sekitar kota Yogyakarta, jamur So ini sudah sulit dijumpai seiring dengan mulai habisnya populasi pohon melinjo dan usaha untuk membudidayakan jamur ini pun kelihatannya belum ada yang tertarik.

Jamur jenis ini termasuk aman dikonsumsi, asal dipilih yang masih muda atau belum berspora dan setelah mendapatkan jamur ini lalu pastikan jamur ini dalamnya masih bewarna putih,kemudian kupas kulitnya sampai warna kuningnya hilang. Jamur yang sudah tua atau pengupasannya kurang bersih akan menyebabkan keracunan apabila dimakan. Waktu kecil penulis sering sekali bergerilya mencari jamur jenis ini untuk dikonsumsi. Cara memasaknya salah satunya dengan metode dilinthing, yaitu dengan cara dibungkus memakai daun pisang dengan dicampur bumbu berupa garam dan cabe sesuai selera, kemudian dibakar, tetapi kalau penulis mendapat banyak jamur So orang tua kami biasanya memasaknya dengan cara ditumis bahkan kadang dibuat rica rica jamur So yang lezat. Mengenai rasa seperti daging ayam (maklum orang desa nggak pernah makan daging) dan teksturnya lembut seperti tahu.


Kenali jenis-jenis jamur beracun atau tidak beracun

Apakah bentuk, warna, atau tempat tumbuhnya dapat dijadikan acuan untuk menentukan suatu jenis jamur beracun atau tidak? Jawabnya, ya. Meski harus diakui, sampai saat ini, melihat dari sisi penampilan saja belum cukup, apalagi jika dijadikan acuan untuk membedakan tingkat keamanan sebuah jamur. Cara ini juga tidak dapat menjadi pedoman yang harus dipercaya 100%. Ketika kita menemukan jamur jenis baru di pekarangan atau saat berkemah di tengah hutan, misalnya.

Namun setidaknya, masih ada filter yang dapat mencegah masuknya racun jamur ke dalam perut. Dari beberapa panduan sederhana yang biasa digunakan oleh para penjelajah hutan, misalnya, atau adopsi dari mata ajaran survival para calon prajurit pasukan elite di luar maupun dalam negeri, terungkap adanya beberapa pedoman yang dapat dijadikan bekal dalam menghadapi racun jamur.

Pelajaran itu memberikan pengetahuan bahwa jenis jamur beracun pada umumnya memiliki warna cukup mencolok mata. Misalnya, merah darah, hitam, cokelat, hijau tua, biru tua, dan sejenisnya. Sebaliknya, menurut pelajaran ini, jamur-jamur berwarna terang tergolong ke dalam kelompok yang dapat dimakan.

Namun, teori warna ini juga ada pengecualiannya. Sepanjang pengetahuan para ahli, jamur Shiitake ternyata tidak mengandung racun, padahal ia berwarna cokelat. Begitu juga dengan sejumlah jamur berkulit terang, di kemudian hari ternyata diketahui mengandung racun. Jamur beracun biasanya juga memiliki ciri lain, yaitu berbau busuk akibat senyawa sulfida di dalamnya. Jamur beracun juga mengandung senyawa sianida yang membuat berbagai serangga atau binatang kecil lainnya juga enggan untuk hinggap atau berada di jamur itu. Jadi untuk mudahnya, bila lalat dan serangga lainnya saja menjauh, masak kita mau mendekat, bahkan mengolahnya menjadi santapan kita?

Ciri lainnya, jika jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan dengan benda yang terbuat dari perak asli (pisau, sendok, garpu, atau cincin), pada permukaan benda-benda itu akan muncul warna hitam (karena sulfida) atau kebiruan (karena sianida). Cara ini cukup efektif jika kita cuma punya sedikit waktu untuk menentukan suatu jamur beracun atau tidak saat sedang berkemah atau mendaki gunung, misalnya. Namun, bila mempunyai waktu yang panjang dan mau sedikit repot, tips turun-temurun dari sejumlah desa di Nusantara ini layak dicoba. Untuk memastikan ada tidaknya racun, kita masak atau pepes saja jamur yang dicurigai bersama nasi putih. Jika warna nasi berubah menjadi cokelat, kuning, merah, atau hitam, besar kemungkinannya jamur itu beracun. Keruan, bukan cuma jamurnya yang harus dihindari, nasinya pun tak boleh disantap lagi.

Selain mengenali jamur beracun atau tidak dari warnanya, berikut beberapa ciri umum yang membedakan jamur beracun dan tidak beracun:

•Jamur beracun biasanya mempunyai cincin atau cawan. Tetapi khusus untuk beberapa jamur itu tak berlaku, seperti pada jamur merang yang memiliki cawan dan campignon yang bercincin.
•Bau jamur yang beracun selalu menusuk. Bisa seperti bau telur busuk atau seperti bau amoniak.
•Jamur beracun biasanya tumbuh di tempat yang kotor.
•Jamur beracun akan cepat menimbulkan karat pada pisau yang dipakai mengeratnya. Namun, jika pisau yang dipakai terbuat dari perak, warna hitam atau biru tua akan segera muncul.
•Jamur beracun berubah warna dengan cepat pada waktu pemanasan dan pemasakan.

Gejala Keracunan
Ketika seseorang mengalami keracunan jamur banyak vareasi gejala yang mungkin dialaminya. Gejala-gejala itu dapat berupa:
•Sakit pada bagian perut
•Wajah pucat
•Berkeringat dingin
•Mual, bahkan muntah
•Tubuh lemas terkadang disertai kejang-kejang
•Bibir kering
•Mata berkunang-kunang
•Pingsan, bahkan
•Meninggal dunia


Penanganan
Penanganan atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada kejadian keracunan jamur yaitu:
•Jangan banyak bergerak
•Minum air putih sebanyak-banyaknya untuk mencegah dehidrasi
•Bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat

baca UJI AKTIVITAS ANTI OKSIDAN Jamur So

Thursday, March 1, 2012

SISIK NAGA (PAKIS PICISAN)

Ada kenal dengan sisik naga atau biasanya tanaman ini diberi nama daerah Sumatera: picisan, sisik naga (Semenanjung Melayu), sakat riburibu (Pantai Sumatera Barat). Jawa: paku duduwitan (Sunda), pakis duwitan (Jawa). Nama asing Bao shu lian (C), dubbeltjesvaren, duiteblad, duitvaren (B). Nama simplisia Drymoglossi Herba (herba picisan). Sisik Naga ini biasanya tumbuh di batang dan dahan pohon. Akar rimpangnya panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 5-22 cm, dan melekat kuat. Habitat sisik naga ini biasanya di dahan pohon yang lingkungan sekitarnya lembab.Tumbuhan ini dapat ditemukan di seluruh daerah Asia tropik, tumbuh liar di hutan, di ladang, dan tempat-tempat lainnya pada daerah yang agak lembab mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl.

Sisik naga (Drymoglossum piloselloides [L.] Presl.), merupakan tumbuhan yang menumpang pada pohon lain (epifit), tetapi bukan parasit karena dapat membuat makanan sendiri. Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh dengan jarak pendek. Bertangkai pendek, tebal berdaging, berbentuk jorong atau jorong memanjang, ujung tumpul atau membundar, pangkal runcing, tepi rata, permukaan daun tua gundul dan berambut jarang pada permukaan bawah, serta berwarna hijau sampai kecoklatan. Daunnya ada yang mandul dan ada yang berspora. Sisik naga dapat diperbanyak dengan spora dan pemisahan akar.

Sistematika tanaman:

Divisio : Pteridophyta
Classis : Pteridopsida
Ordo : Polypodiales
Familia : Polypodiaceae
Genus : Drymoglossum
Spesies : Drymoglossum piloselloides Presl. (Anonimc, 2007)

Pada waktu penulis kecil jenis tanaman ini sering dipakai untuk mainan “pasar-pasaran”, . Ukuran daun yang berbentuk bulat sampai jorong hampir sama dengan uang logam picisan sehingga dinamakan picisan dan sering dipakai anak-anak sebagai “uang-uangan” pada permainan mereka. Kadang pada waktu lotisan (rujakan) juga dimakan dengan sambal, rasanya yang sedikit asam manis dan terasa dingin seperti tanaman lidah buaya bahkan kalau mencucinya kurang bersih kulit ari luarnya sedikit terasa pahit.

Tanaman ini di daerah kota besar seperti Jakarta sudah sangat sulit ditemukan, di samping terbatasnya habitat pohon tua juga karena suhu udara yang panas sudah tidak cocok lagi dengan jenis tumbuhan ini. Namun begitu sebetulnya ini merupakan salah satu jenis herbal yang mempunyai manfaat untuk pengobatan. Di dalam dunia pengobatan cina tanaman ini dikenal dengan nama, Bao Shu Lian, ini khasiatnya sebagai antiradang, penghilang nyeri (analgesik), pembersih darah, penghenti perdarahan (hemostatis), memperkuat paru-paru, dan sebagai obat batuk (antitusif). Sisik Naga ini juga biasa digunakan untuk mengatasi gangguan luka di sekitar mulut itu (sariawan).

Kandungan Sisik Naga

Sisik naga juga mengandung Minyak Atsiri, Sterol (Triterpen), Fenol, Flavonoid, Tanin, dan gula. Berkhasiat sebagai antiradang, antitoksik, peluruh dahak, pencahar (laksan), dan menghentikan pendarahan.

Indikasi
Khasiat daun yang digunakan untuk pengobatan:
Gondongan (parotitis)
TBC Kulit dengan pembesaran kelenjar getah bening (skrofuloderma)
Sakit kuning (jaundice)
Sukar buang air besar (sembelit), sakit perut
Disentri
Kencing nanah (gonore)
Batuk, abses paru-paru, TB Paru-paru disertai batuk darah
Perdarahan seperti luka berdarah, mimisan, berak darah, muntah darah, perdarahan pada perempuan.
Rematik
Keputihan (leukore)
Kanker payudara

Bagian yang dapat digunakan untuk pengobatan adalah daun atau seluruh herba baik dalam bentuk segar ataupun yang telah dikeringkan

Pengobatan
•Untuk obat yang diminum : Cuci bersih 15-60 g daun sisik naga, lalu rebus dan minum air rebusan tersebut setelah disaring.
•Untuk pemakaian luar : Gunakan air rebusan herba segar untuk mencuci bagian tubuh yang terkena penyakit kulit, atau berkumur bagi penderita sariawan dan radang gusi. Atau bisa juga dengan membubuhkan herba segar yang telah digiling sampai halus ke bagian yang sakit pada penyakit kulit, seperti kudis, kurap, radang kulit bernanah, radang kuku, atau luka berdarah

baca hasil UJI SITOTOKSIK

Sunday, February 19, 2012

CLERET GOMBEL SI CICAK TERBANG

Di desaku dulu ketika masih rimbun oleh pepohonan selain terdengar kicauan berbagai jenis burung juga sering dijumpai si cicak terbang alias Cleret Gombel. Reptile ini dikenal dengan nama ilmiah Draco volans Linnaeus, 1758. Nama lokalnya di antaranya adalah cekibar (Betawi), hap-hap (Sunda), dan celeret gombel atau klarap (Jawa). Dalam bahasa Inggris disebut gliding lizards atau flying dragon.

Hewan ini menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau, Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur. Disebut Cicak terbang karena ukurannya hanya sedikit lebih besar daripada cicak, walaupun kalau kita amati lebih mirip dengan Bunglon karena kulitnya terlihat kasar dan bergaris-garis hanya saja postur tubuhnya lebih kecil dibanding dengan Bunglon.

Reptil ini kelihatan aktif berburu serangga maupun mencari pasangannya ketika bersamaan matahari mulai beranjak naik yaitu sekitar jam 10.00 pagi. Kantong dagu (seperti gombel/kain) yang berwarna kuning atau biru cerah sering sesekali terlihat memanjang ke depan (Celeret). Mungkin kebiasaan unik menarik dan menjulurkan kantong dagu dengan gerakan cepat yang istilah Jawanya Celeret/Cleret inilah yang kemudian jadi nama unik hewan ini, selain disebut sebagai si Cicak Terbang. Walaupun kalau kita amati sebetulnya reptil ini tidak betul-betul terbang melainkan meluncur layaknya gantole dari pohon ke pohon. Cleret Gombel yang akan meluncur pindah ke pohon lain biasanya dia akan memanjat ke dahan-dahan yang lebih tinggi kemudian melompat sambil mengembangkan sayap yang berupa kulit di sekitar perut dan dada.

Klasifikasi ilmiah

Filum: Chordates
Upafilum:Vertebrata
Kelas:Reptilia
Ordo:Squamata
Upaordo:Sauria
Superfamili:Acrodonta
Famili:Agamidae
Upafamili:Draconinae

Genus:Draco
Spesies:D. volans
Nama binomial Draco volans


Cleret Gombel ini belum termasuk reptile yang dilindungi, akan tetapi di desa-desa perbatasan dengan kota Yogyakarta sudah sulit menemukan Cicak Terbang ini. Berbeda dengan Cicak yang masih dapat bertahan hidup dengan merayapi tembok-tembok rumah, sedangkan Cicak Terbang hanya menyukai pepohonan tinggi yang saat ini di desa-desa pun juga jarang ditemui.

Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama. Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan moncong.

Ciri-ciri

Kadal yang berukuran agak kecil, panjang total hingga 200 mm. Patagium (‘sayap’) berupa perpanjangan enam pasang tulang rusuk yang diliputi kulit. Sisi atas patagium dengan warna kuning hingga jingga, berbercak hitam. Sisi bawah abu-abu kekuningan, dengan totol-totol hitam.

Kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkerinyut seperti kakek-kakek; dengan kantung dagu berwarna kuning (jantan) atau biru cerah (betina), dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher. Rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mata khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol. Binatang ini memiliki ekor sekitar 1½ kali panjang tubuh; berbelang-belang di ujung, dengan sisik-sisik yang berlunas kuat menjadikannya nampak bersegi-segi.