Showing posts with label fauna Indonesia. Show all posts
Showing posts with label fauna Indonesia. Show all posts

Thursday, November 29, 2012

RERESPO (Tropical Leatherleaf Slugs)

Jenis hewan ini masih dapat ditemukan di daerah pinggiran kota-kota besar, yang masih terdapat lahan yang lembab dan teduh dengan beberapa tanaman semak liar. Bagi yang belum mengetahui jenis hewan ini kebanyakan orang akan takut dan jijik melihatnya apalagi memegang. Asumsi kebanyakan orang Sarasinula ini dikira sama dengan jenis pacet atau lintah darat. Sebenarnya kalau pacet itu masuk Fillum Annelida kelas Clitellata yang semua jenisnya adalah Carnivora, sedangkan untuk Sarasinula termasuk Fillum Mollusca kelas Gastropoda yang kebanyakan termasuk hewan herbivore. Sarasinula nama Jawanya adalah Rerespo, tetapi hewan ini dikenal juga dengan nama Tropical Leatherleaf Slugs dan seperti kebanyakan Mollusca kulitnya tidak tahan terhadap garam dapur. Hewan ini tidak berbahaya hanya saja orang merasa jijik untuk melihatnya. Sarasinula atau Rerespo bertubuh gepeng agak bulat berwarna gelap (kecoklatan) dan berlendir dan kenyal. Tubuh Rerespo panjanya kurang lebih 7 atau 8 cm dengan kulit sedikit tuberculated. Tubuh bagian bawah berwarna putih kepucatan. Walaupun sebetulnya agak berbeda dengan jenis Siput tanpa cangkang tapi hewan ini memiliki kaki unik, yang sangat sempit, spesimen remaja memiliki kaki lebarnya 1mm dan spesimen dewasa memiliki kaki yang lebarnya hanya 4 atau 5 mm. Tentakel kecil dan lebih pendek daripada tentakel bekicot yaitu 2 atau 3 mm, dan mereka jarang melampaui tepi mantel. Siput Rerespo ini menetas dari telur dan yang unik dari spesies ini memiliki beberapa adaptasi untuk hidup dalam kondisi kering yaitu dengan mengecilkan bentuk tubuh sekecil mungkin luas permukaan, dan kaki yang sempit untuk mengurangi penguapan. Sarasinula mencari makanan hampir selalu di malam hari, dan tetap dipersembunyiannya di tanah pada siang hari. Spesimen yang lebih besar kadang-kadang aktif pada siang hari. Siput ini dapat tumbuh dari 0,5 cm menjadi sekitar 4 cm panjangnya dalam 7 bulan.

Referensi: Fobi, eol(Encyclopedia of Life), Wikipedia

Tuesday, November 6, 2012

BUNGLON POHON DAN BUNGLON KEBUN

Berbicara Bunglon sebagai orang awam tahunya hanya sebagai kadal yang pandai merubah warna kulit dan pemanjat handal, padahal Bunglon meliputi beberapa marga, seperti Bronchocela, Calotes, Gonocephalus, Pseudocalotes, Aphaniotis dan juga saudara dekatnya yakni cicak terbang (Draco) serta Soa-Soa (Hydrosaurus). 

Colates Versicolor

Dari sekian macam bunglon yang sering kita jumpai adalah bunglon kebun Colates versicolor. Bunglon kebun ini bisa mengubah-ubah warna kulitnya (mimikri), meskipun tidak sehebat perubahan warna chamaeleon (suku Chamaeleonidae) bahkan juga tidak sehebat bunglon pohon. Biasanya berubah dari warna-warna cerah (hijau, kuning, atau abu-abu terang) menjadi warna yang lebih gelap, kecoklatan atau kehitaman. 

Bronchocela jubata


Bunglon merupakan sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Banyak orang yang mengartikan bahwa bunglon mengubah warna kulitnya sebagai kamuflase atau respon terhadap musuh dan bahaya. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian. Bunglon memang memiliki kemampuan untuk mengubah warna kulitnya. Tetapi, bunglon tidak bisa berubah kulit ke semua warna, melainkan hanya ke warna-warna tertentu saja. 

Lalu, mengapa bunglon dapat mengubah warna kulitnya? Tentu saja hal ini didukung oleh adanya fungsi dalam tubuh bunglon yang mendukung fungsi tersebut. 

Bunglon memiliki sel-sel warna di bawah permukaan kulitnya yang transparan. Di bawah lapisan ini terdapat dua lapisan sel yang mengandung pigmen berwarna merah dan kuning (juga disebut chromatophores). Di bawahnya lagi ada lapisan sel yang merefleksikan warna biru dan putih. Lalu di bawahnya lagi ada lapisan melanin untuk warna coklat (seperti yang dimiliki manusia). Perubahan warna kulit bunglon dipengaruhi oleh sinar matahari, suhu dan mood (perasaan) seperti kondisi senang atau terancam. Di saat Bunglon merasa terancam , ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan 

Dari sisi perilaku kedua jenis bunglon ini sama saja hanya saja jika keduanya bertemu dalam satu wilayah perburuannya, maka bunglon kebun/taman ini lebih agresif. Begitu pula dengan perkembangbiakan dari bunglon taman ini lebih sukses dibanding kerabatnya tersebut, sehingga di wilayah-wilayah perkotaan yang lahan tamannya terbatas populasi bunglon kebun ini lebih dominan dari pada jenis lainnya. 

Bunglon yang kerap ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon peneduh di kebun dan pekarangan. Sering pula didapati terjatuh dari pohon atau perdu ketika mengejar mangsanya, namun dengan segera berlari menuju pohon terdekat. Reptil ini memangsa berbagai macam serangga yang dijumpainya: kupu-kupu, ngengat,capung, lalat dan lain-lain. Untuk menipu mangsanya, bunglon ini kerap berdiam diri di pucuk pepohonan atau bergoyang-goyang pelan seolah tertiup angin. Sering juga bunglon surai terlihat meniti kabel listrik dekat rumah, untuk menyeberang dari satu tempat ke tempat lain.

Bunglon bertelur di tanah yang gembur, berpasir atau berserasah. Seperti umumnya anggota suku Agamidae, induk bunglon menggali tanah dengan mempergunakan moncongnya. Kulit telurnya berwarna putih, lentur agak liat serupa perkamen. Sebuah pengamatan yang dilakukan di hutan Situgede, Bogor mencatat bahwa telur bunglon surai dipendam di tanah berpasir di bawah lapisan serasah, persisnya di bawah semak-semak di bagian hutan yang agak terbuka. Telur sebanyak dua buah, lonjong panjang lk. 7×40 mm, diletakkan berjajar dan ditimbun tanah tipis. Di Gunung Walat, Sukabumi, didapati telur yang diletakkan di lapisan humus yang halus di tengah-tengah jalan setapak. Bunglon atau londok (bahasa Sunda) adalah sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae

Kadal lain yang masih sesuku adalah cecak terbang (Draco spp.) dan soa-soa (Hydrosaurus spp.). Bunglon ini menyebar di pulau-pulau Jawa, Borneo, Bali, Singkep, Sulawesi, Karakelang, kepulauan Salibabu, dan Filipina.

Referensi: Foto FOBI,dan Wikipedia

Monday, June 4, 2012

MITOS EMPRIT GANTHIL

Burung ini dimitoskan sebagai burung iblis, walupun sebenarnya tidak demikian. Sebetulnya yang seram dari burung ini hanya karena suaranya kalau kita perhatikan memang sekilas, seperti suara "endi bocahe, endi bocahe, endi bocahe" .. (mana bocahnya.. mana bocahnya) Penulis dahulu sering menggunakan suara Emprit Ganthil ini untuk mendiamkan anak yang sedang menangis dan kebetulan burung Emprit Ganthil ini sedang berkicau, hasilnya efektif si anak jadi diam dan ketakutan (tetapi kami menyarankan jangan ditiru perbuatan ini). Selain itu Emprit Ganthil juga berbunyi “tiit..tiiiit..tiiiiiiiit..thiiiiiiiiir…..” dengan suara yang melengking tinggi yang kemudian menurun di akhir kicauannya dan kadang bersahutan dengan Emprit Ganthil lainnya.

Burung Emprit Gantil ini biasanya selalu bertengger di pucuk-pucuk pohon yang paling tinggi sambil kadang burung ini berbunyi baik ditengah malam, pagi hari, siang atau sore. Bentuknya seukuran burung kutilang panjang tubuh (dari ujung paruh hingga ke ujung ekor) sekitar 21 cm dengan postur lebih langsing dan berwarna kecoklatan dengan garis-garis kehitaman coraknya mirip dengan burun elang. Burung dewasa berwarna kelabu di kepala, leher dan dada bagian atas. Punggungnya merah kecoklatan dan perutnya kuning jingga. Sisi bawah ekor dengan warna putih di ujung-ujung bulu yang kehitaman. Burung muda berwarna burik; kecoklatan dengan garis-garis hitam di sisi atas tubuh, dan keputihan dengan garis-garis hitam yang lebih halus. Burung betina kadang-kadang berwarna seperti burung muda, sehingga mungkin terkeliru dengan burung Wiwik lurik (C. sonneratii) yang berkerabat. Bedanya, Wiwik lurik memiliki alis dan pipi keputihan. Iris mata berwarna merah. Paruh kehitaman di atas dan kekuningan di bawah. Kaki kuning.

Regenerasi Emprit Gantil tidak mau mencari jalan susah dalam mengerami telur telurnya, dia menitipkan telornya kepada induk Prenjak untuk ditetaskan, dan telur Prenjak sendiri di buang dan dibiarkan mati. Suatu ketika anak anak Emprit Gantil tumbuh besar, dia akan lebih besar dari induk Prenjak itu sendiri, dan ketika itu induk Prenjak baru menyadari bahwa anaknya ditukar. Induk Prenjak akan sebisa mungkin mengejar dan membunuh Prit Gantil karena mereka telah membunuh anak-anaknya. Dengan berkurangnya burung Prenjak di habitat aslinya dikawatirkan juga menurunkan populasi burung ini, selain diburu karena dianggap burung kematian. Padahal masalah kematian sebenarnya hanya Tuhan yang tahu dengan ada dan tidaknya burung tersebut kematian yang telah ditentukan Tuhan akan tetap terjadi.

Burung Emprit Ganthil juga dikenal dengan nama Sit Uncuing, Wiwik Kelabu atau Kedasih merupakan anggota suku kangkok (Cuculidae). Di musim berpasangan, burung-burung ini aktif berkejaran sambil bersuara pendek, “wriiik, ..wrik ..wri-wri-wri”. Burung ini memangsa aneka jenis serangga, laba-laba, dan juga buah-buahan kecil. Wiwik kelabu tidak jarang didapati turun ke semak belukar. Di daerah sekitar Bantar Gebang Kota Bekasi Jawa Barat, burung ini masih mudah didengar suaranya, namun untuk melihatnya agak kesulitan karena tempat bertenggernya di ranting pohon yang tinggi.


Jenis dan Sebarannya:
  • Cocomantis merulinus menyebar di Filipina, umum dijumpai di pulau-pulau besar di sana.
  • Cocomantis querulus adalah anak jenis yang paling luas sebarannya. Mulai dari India timur laut, Bangladesh, Cina selatan, Myanmar,Thailand, Kamboja, Laos dan Vietnam. Merupakan pengunjung musim panas pada kebanyakan lokasi penyebarannya di Cina.
  • Cocomantis threnodes menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Borneo.
  • Cocomantis lanceolatus menyebar di Jawa, Bali dan Sulawesi.Burung Wiwik perut-kelabu (Cocomantis passerinus) dari India dan Srilankasebelumnya dimasukkan sebagai anak jenis dari Wiwik kelabu, namun kini dianggap sebagai jenis yang terpisah.

Status Konservasi Risiko Rendah

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Cuculiformes, Famili Cuculidae, Genus Cacomantis, Spesies Cacomantis Merulinus (Scopoli 1786)

Sumber Referensi:
Wikipedia, FKPSU, FOBI

Monday, May 21, 2012

SUMPIL SI KEONG LEZAT

Sumpil termasuk ke dalam phylum mollusca, nama ini cukup terkenal terutama di pedesaan bahkan karena terkenalnya sampai ada desa yang bernama Sumpilan (Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman). Sumpil kerap ditemukan hidup di kali atau sungai Van der Wijk, juga di areal persawahan. Dulu sewaktu penulis masih kecil, sering sekali menjumpai dan ‘dolanan’ Sumpil ini terutama sewaktu mandi di sungai. Tapi sekarang penulis sudah tidak menemukan hewan ini di sungai, penulis menduga karena adanya peningkatan penggunaan pestisida atau bahan kimia lainnya baik dari industry maupun berasal dari rumah tangga menyebabkan menurunnya populasi Sumpil ini.

Terdapat banyak jenis Sumpil baik yang biasa hidup di air laut maupun air tawar. Penulis sendiri sampai bingung untuk mengklasifikan Sumpil yang akan penulis ceritakan ke dalam Taxonomynya. Penulis masih ragu apakah Sumpil ini termasuk Melania Testudinaria atau termasuk Faunus Ater untuk lebih jelasnya silahkan klik di sini FOBI. Sumpil yang penulis akan ceritakan ini menyukai air tawar yang segar (freshwater), biasanya Sumpil jenis ini banyak terdapat dijumpai di pingir-pingir aliran air yang deras seperti grojogan/curug/air terjun. Sumpil (Faunus aster)sangat mudah dibedakan dengan Achatina fulica (bekicot) maupun Lymnaea (siput sawah), karena mantel (cangkang) sumpil berbentuk kerucut lancip dan kecil. Cangkang sumpil berwarna hitam polos, walaupun jenis lain ada yang berwarna kecoklatan dengan bintik-bintik hitam maupun coklat yang lebih tua.

Sumpil termasuk ke dalam Kelas gastropoda – Gaster artinya perut dan podos artinya kaki, jadi Gastropoda ini bergerak dengan menggunakan “perutnya”. Hidup di darat, di air tawar, dan air laut. Tubuhnya memiliki cangkang yang melingkar, ada yang melingkar ke kanan dan ada pula yang melingkar ke kiri. Ada mitos untuk cangkang yang melingkar kebalikan dari kebanyakan cangkang yang sejenis, biasanya mempunyai kekuatan gaib, walaupun kebenarannya penulis sendiri masih meragukan.

Sumpil berjalan menggunakan perut yang berotot, disebut “kaki”. Kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir guna mempermudah gerakan. Jika hewan ini berjalan, akan meninggalkan bekas dari lendirnya yang mengering. Kepala terletak di depan dan terdapat sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada tentakel panjang terdapat bintik mata (tidak disebut maka, karena memang bukan mata seperti mata manusia) yang berfungsi untuk membedakan gelap dan terang. Coba amati bintik mata bekicot, yang berbintik kehitaman. Tentakel pendek berfungsi sebagai indera peraba dan pembau.

Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan dimulai dari mulut di bagian depan, di dalam mulut terdapat lidah perut (radula) untuk “memarut” tumbuhan. Selanjutnya terdapat kerongkongan (esofagus), kemudian lambung (ventrikulus), usus (intestinum) yang berbelok ke depan lagi dan berakhir di anus. Anus terletak di mantel berdekatan dengan kepalanya. Di dekat lambung terdapat hati yang berwarna kecoklatan. Hati melingkar-lingkar menuju ke cangkang dan mengikuti belitan cangkang. Seperti pada umumnya Gastropoda Sumpil termasuk herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan). Biasanya Sumpil di sungai makan ganggang atau lumut yang cukup banyak bertebaran di pinggir-pinggir sungai.

Sistem Pernapasan dan Ekskresi
Sumpil bernapas menggunakan lapisan mantel yang berubah fungsi menjadi paru-paru sebagai tempat terjadinya pertukaran gas. Sistem pengeluaran (ekskresi) menggunakan alat pengeluaran cair yang disebut nephridia. Sistem saraf terdiri dari tiga pasang ganglia yang dihubungkan oleh saraf. Inderaanya berupa mata, statosit (alat keseimbangan), organ peraba, dan kemoreseptor (reseptor kimia).

Reproduksi gastropoda
Sumpil bersifat hermafrodit tetapi melakukan perkawinan silang. Maksudnya, sumpil ini tetap melakukan perkawinan dengan sumpil lainnya bukan hanya dengan dirinya sendiri. Sel telur dan spermatozoa dihasilkan oleh satu organ yaitu ovotesis. Jadi ovarium (penghasil ovum) dan testis (penghasil sperma) menjadi satu. Pemasakan sperma dan ovum tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada saat kopulasi, sperma disalurkan ke vas deferens kemudian dimasukkan ke vagina pasangannya dengan perantaraan penis yang dikeluarkannya. Ovum yaang dihasilkan ovotestes keluar ke saluran telur (oviduk) untuk di buahi sperma hewan lain.

Escargot, Abalone dan Kroco
Sumpil bagi yang suka dapat dimasak baik dengan resep local seperti oblok-oblok dicampur dengan parutan kelapa, maupun dengan resep keong Perancis yang dinamakan escargot. Orang Perancis terkadang menyajikan keong sebagai appetizer; sedangkan di Amerika dan Australia, keong yang mereka sebut abalone pada umumnya dikonsumsi sebagai makanan utama, misalnya dalam masakan Spaghetti with escargots dan Abalone in oyster sauce.

Nilai gizi keong Keong (Inggris: snail) atau yang dalam bahasa Perancis disebut Escargot, merupakan jenis hewan moluska yang ditemukan di pantai, air tawar, dan tanah. Keong memiliki sekitar 100 spesies dan tergantung pada jenis lokasi yang berbeda digunakan sebagai sumber makanan. Biasanya keong yang dimakan adalah dari jenis Helix pomatia dan Helix aspersa.

Sumpil mempunyai kandungan protein yang tinggi dengan kadar lemak rendah. Dalam seratus gram bagian yang dapat dimakan terdapat 16 g protein sehingga apabila kita mengkonsumsi 100 g kroco, tubuh kita sudah mendapat 32% protein dari kebutuhan sehari-hari. Protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh dan juga berperan dalam proses kekebalan tubuh. Konsumsi protein hewani dalam makanan sehari-hari diperlukan oleh tubuh disamping protein nabati.

Lemak dalam 100 g kroco terdapat dalam jumlah 1,4 g. Lemak yang terdapat dalam keong merupakan asam lemak essensial dalam bentuk asam linoleat dan asam linolenat. Sebuah studi di Brazil menunjukkan bahwa 75% persen lemak dalam keong merupakan asam lemak tidak jenuh yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Asam lemak tidak jenuh tersebut 57% tersusun dari asam lemak tak jenuh ganda dan sisanya merupakan asam lemak tak jenuh tunggal.

Kandungan vitamin pada sumpil cukup tinggi dengan dominasi vitamin A, vitamin E, niacin dan folat. Vitamin A berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina serta menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Niacin atau vitamin B3 berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein.

Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan penting dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Vitamin E juga merupakan sebagai senyawa antioksidan alami. Folat berfungsi membantu pembentukan sel darah merah, mencegah anemia, sebagai bahan pembentukan bahan genetik sel, dan sangat esensial selama kehamilan karena mencegah timbulnya kecacatan tabung saraf pada bayi. Apabila kita mengkonsumsi 100 gram kroco, maka kita dapat memenuhi kebutuhan 2% vitamin A, 23% vitamin E, 7% niacin dan 66% folat.

Mineral merupakan zat yang berperan penting pada tubuh manusia untuk pengaturan kerja enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti pembentukan haemoglobin. Kandungan mineral yang utama pada keong berupa kalsium, zat besi, magnesium, kalium dan fosfor. Apabila kita mengkonsumsi 100 g kroco, maka sudah memenuhi 17% kalsium dan 13,5% zat besi untuk kebutuhan tubuh sehari-hari.

Peran utama kalsium adalah untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Kekurangan kalsium mengakibatkan terjadinya osteoporosis (keropos pada tulang). Zat besi mempunyai fungsi utama memproduksi hemoglobin dan mioglobin. Zat besi yang berasal dari produk hewani atau disebut juga sebagai besi-hem, akan lebih mudah diserap oleh tubuh. Zat besi pada keong berjumlah 3,5 mg, lebih tinggi daripada zat besi pada daging (2,5 mg) atau ikan (2,4 mg).

Referensi: zipcodezoo.com , www.fobi.web.id , conchology. Inc, Hidup Sehat

Tuesday, May 15, 2012

KODOK BENCOK SI KATAK POHON

Katak pohon Jawa (Rhacophorus javanus) termasuk jenis katak yang jarang ditemui karena penyebarannya yang sedikit. Pada tahun 2004 jenis ini masuk daftar IUCN (International Union Conservation Natural) sebagai jenis yang Vulnerable (terancam) karena penyebarannya kurang dari 20.000km2, disamping itu habitatnya yang mengalami penurunan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Semua katak pohon menyukai daerah yang lembab, tidak terkena matahari langsung dan dekat dengan daerah yang berair. Katak Pohon mempunyai kulit yang sensitif jadi sebaiknya tidak terlalu sering dipegang dan konon katanya air kencingnya beracun. Saat ini di desa-desa di Yogyakarta sudah jarang ditemui daerah yang cocok sebagai habitat katak pohon ini, karena jarang ditemukan pohon-pohon rindang yang diperlukan untuk menjaga kelembaban udara. Katak Pohon perlu kelembaban sekitar 70-80% dengan suhu udara sekitar 24-29o Celcius pada siang hari dan 18-24 celcius untuk malam hari.

Yogyakarta bagian utara di sekitar lereng Gunung Merapi dan daerah Yogyakarta sebelah barat di sekitar pegunungan Menoreh untuk sekarang ini masih memungkinkan ditemukan habitat katak pohon ini, walaupun akhirnya juga akan seperti daerah lain jika pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah DIY tidak memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang ada.

Makanan katak pohon setahu penulis tidak jauh berbeda dengan katak-katak lainnya, hanya dari sisi keberuntungan mungkin katak pohon lebih mudah memangsa serangga dibanding katak-katak jenis lain. Katak Pohon biasanya memakan serangga hidup, aktif di malam hari dan lebih suka hidup sendiri. Katak pohon ini pandai meloncat dan lebih jauh di samping itu juga pandai memanjat, karena jari-jari kakinya lengket seperti cicak. Katak Pohon bisa tumbuh hingga mencapai ukuran 5-10 cm.

Saat sekitar tahun ’80 an penulis sering menjumpai beberapa katak pohon dari spesies Racophorus javanus yang berwarna kekuning-kuningan maupun spesies Polypedates leucomystax yang tubuhnya bergaris. Walaupun waktu itu kami mengira kedua jenis itu sama saja dan keduanya oleh orang desa dinamakan Kodok Bencok.

Pada musim kawin, banyak individu jantan (kadang-kadang hingga sekitar 10 ekor) yang berkumpul dekat kolam, parit atau genangan air lainnya. Kodok-kodok jantan ini memanjat semak-semak rendah atau pohon kecil di dekat genangan, hingga ketinggian 1 m atau lebih di atas tanah, serta bersuara sahut-menyahut dari tenggerannya itu untuk memikat kodok betina. Jika bertemu, pasangan kodok pohon ini lalu bergerak mencari posisi daun atau ranting yang menggantung di atas air untuk menempelkan telurnya.

Telur-telur itu diletakkan di sebuah sarang busa yang dilekatkan menggantung di atas genangan, pada daun, ranting, tangkai rumput, atau kadang-kadang juga pada dinding saluran air. Gelembung-gelembung busa ini akan melindungi telur dari kekeringan, hingga saatnya menetas dan kecebongnya keluar berjatuhan ke air.

Di saat musim kawin ini, beberapa kodok jantan menunjukkan sikap agresif terhadap kehadiran cahaya senter dengan menghampiri dan bertengger dekat cahaya, dan lalu bersuara. Bunyi: pro-ek.. wrok!... krot..krot..krot, mirip orang mempergesekkan giginya.

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Amphibia, Ordo Anura, Famili Rhacophoridae, Genus Polypedates (Tschudi, 1838)

Sumber Referensi dan Foto:Fobi, fotokita.net, wikipedia

KATIK SI PUNAI GADING

Penulis agak sedikit bingung ketika akan menceritakan soal burung satu ini, karena pada waktu kecil orang tua (di Yogyakarta) menamakan burung sejenis puter ini dengan nama burung Katik. Namun setelah penulis cocokan dengan foto-foto burung Katik yang ada di FOBI kok nggak cocok. Memang sekilas mirip katik dengan burung Punai Gading yang saya maksud, maklumlah karena masih satu family Columbidae. Kadang Punai Gading ini juga disebut dengan nama Puter Lumut, karena anatominya seperti puter dengan bulu berwarna hijau lumut. Beberapa ras punai telah dideskripsikan namun perbedaan antar ras dianggap kurang nyata, kadang nama-nama lokalnya saling tumpang tindih membingungkan, sehingga masih perlu deskripsi yang lebih detil lagi.

Burung Katik (Chalcophaps indica) mempunyai warna bulu sayap yang hijau terang dan paruh berwarna merah. Sedangkan burung yang penulis maksud itu ini sepertinya termasuk keluarga Punai species Treron Vrenans (Punai Gading) dengan ciri-ciri sebagai berikut: kepala abu-abu kebiruan, sisi leher, tengkuk bawah, dan garis melintang pada dada berwarna merah jambu. Dada bagian bawah jingga, perut hijau dengan bagian bawah kuning, sisi-sisi rusuk dan paha bertepi putih, penutup bagian bawah ekor coklat kemerahan. Punggung hijau, bulu penutup ekor atas perunggu. Sayap gelap dengan tepi kuning yang kontras pada bulu-bulu penutup sayap besar. Ekor abu-abu dengan garis hitam pada bagian subterminal dan tepi abu-abu pucat. Betina: hijau, tanpa warna merah jambu, abu-abu, dan jingga seperti pada jantan.Iris merah jambu, paruh abu-abu biru dengan pangkal hijau, kaki merah.

Ingat Punai Gading ini kadang menyebabkan penulis merindukan saat-saat sekitar tahun 80’an, keaneka ragaman flora dan fauna Indonesia masih gampang dijumpai, apalagi di pedesaan-pedesaan. Kebalikannya dengan era reformasi yang berhembus justru semakin memperparah kerusakan daerah konservasi karena adanya berbagai perusakan hutan oleh masyarakat sehingga habitat burung semakin rusak. Perkembangan kota yang semakin luas juga menyebabakan vegetasi habitat burung semakin berkurang sehingga tidak ada tempat bagi burung untuk dapat berkembang biak dengan baik. Kota sebagai pusat aktifitas manusia semakin tidak memberikan ruang lingkup untuk kehidupan burung karena hilangnya pohon-pohon besar yang dapat digunakan sebagai salah satu habitat burung.

Dahulu di halaman rumah penulis yang cukup luas masih banyak ditumbuhi berbagai pohon besar yang salah satunya sering dihinggapi oleh Punai Gading ini. Penulis sendiri sudah lupa suara Punai Gading ini seperti apa, tetapi yang membekas di ingatan penulis hanya wajah manisnya saja. Biasa Punai Gading alias Katik (yk) datang berkelompok dan hinggap di pepohonan samping rumah. Biasanya Punai ini makan buah kecil-kecil seperti buah Kersen dan Salam.

Tempat hidup dan kebiasaan
Umum di hutan pantai, hutan magrove, hutan sekunder, hutan rawa-rawa, perkebunan yang berpohon jarang, di sekitar pemukiman, tempat-tempat terbuka dan lembah sampai ketinggian 1200 mdpl. Sepertinya populasinya semakin kecil di tempat yang semakin tinggi dari permukaan laut.Berkumpul dalam kelompok kecil, hinggap pada pohon buah-buahan (seperti bringin dan kersen) untuk mencari makan. Saat terganggu, terbang berdua atau bertiga dengan kepakan sayap yang keras. Pada malam dan pagi hari, mengeluarkan suara mendengkur lembut yang rendah dari tempat bertengger.

Sumber referensi:
Flickriver, FOBI, Kutilang Indonesia

Sunday, May 6, 2012

TOKEK YANG MENGGIURKAN

Tokek siapa yang tidak kenal dengan hewan satu ini walaupun sebetulnya terdapat 44 spesies Tokek, namun yang terkenal adalah Tokek rumah. Cicak besar bernama latin Gekko gecko dikenal di beberapa tempat dengan sebutan berbeda, misalnya tekek atau tokek, (Jawa), tokok (Sunda), dan tokay gecko atau tucktoo (Inggris).

Cecak yang berukuran besar, berkepala besar. Panjang total mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya. Dorsal (sisi punggung) kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Ventral (perut, sisi bawah tubuh) abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang. Kulit punggung tertutupi oleh sisik-sisik granular, bercampur dengan bintil-bintil yang agak besar. Pupil mata tegak bentuk jorong, dengan tepi yang bergerigi.

Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Jari-jari kaki depan dan belakang tumbuh sempurna, melebar di ujung, terkadang dengan selaput di antara pangkal jari, cakar (kuku) terdapat pada jari-jari sebelah luar, sisi bawah jari dengan sederetan bantalan pelekat (disebut scansor) yang berkembang baik dan tidak berbelah (berbagi). Terdapat pula pori-pori preanal atau preano-femoral, serta bintil post-anal. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar.

Hewan ini tersebar luas mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh, lewat Myanmar, Tiongkokselatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa,Borneo, Sulawesi, Lombok, Flores, Timor, Aru dan Kepulauan Filipina (Manthey & Grossmann, 1997: 232).

Sepuluh tahun yang lalu Tokek ini masih mudah dicari di habitatnya baik pada rumah-rumah penduduk di pedesaan maupun di pohon-pohon besar di hutan. Perburuan Tokek yang tanpa pandang bulu dan ganas menjadikan segala ukuran Tokek lenyap dan sulit ditemukan lagi, Suara teritorialnya yang keras dan khas, tokke ... tokkee ..., menjadi dasar penyebutan namanya dalam berbagai bahasa. Suara khas dan keras ditambah lagi ukurannya yang relative lebih besar dibanding cicak menjadikan Tokek mudah dicari.

Isu bisnis Tokek yang menggiurkan lebih dominan daripada isu manfaat Tokek untuk keseimbangan alam. Banyak orang sekarang ini mempunyai falsafah tidak peduli dengan alam asal uang ada ditangan. Falsafah ini sedikit demi sedikit mulai benar-benar mengancam kenyamanan lingkungan yang kita cintai ini. Memang sebetulnya bisnis tokek masih diselimuti misteri. Meski para penjualnya telah mendapatkan keuntungan banyak dari bisnis ini, tapi khasiatnya belum benar-benar teruji. Bahkan rumor terakhir, tokek bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Namun belum bisa ada yang membuktikannya.

Hewan ini kebanyakan aktif di saat senja dan malam hari, meski suara panggilannya kadang-kadang terdengar di siang hari. Tokek tinggal di lubang pepohonan di hutan atau di rekahan batuan atau gua; namun sebagian jenisnya juga beradaptasi dengan lingkungan manusia dan bersifat komensal.

Tokek memburu aneka serangga dan invertebrata lain sebagai makanannya, walaupun juga tidak segan memangsa vertebrata lain yang lebih kecil ukurannya. Tokek betina biasanya mengeluarkan sepasang telur, yang disimpan berlekatan di sudut lubang atau dinding. Tempat menyimpan telur ini biasa digunakan berulang kali oleh tokek yang sama.

Anehnya walaupun di alam liar sudah sulit dicari, padahal bisnis Tokek juga belum berhenti namun sampai saat ini belum ada orang mencoba beternak Tokek. Untuk keluarga penulis sendiri di Yogyakarta sudah melepas liarkan beberapa Tokek ke habitatnya salah satunya dua ekor di lepas di rumah penulis dan semoga saja tidak di tangkap oleh para pemburu Tokek. Penulis hanya tidak ingin Tokek tinggal ceritanya saja di samping berharap Tokek juga dapat ikut mengendalikan populasi serangga-serangga yang menjadi hama para petani seperti wereng, kupu-kupu, kecoa maupun nyamuk.

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Reptilia, Ordo: Squamata, Up Ordo: Lacertilia, Famili: Gekkonidae, Up Famili: Gekkoninae, Genus: Gekko, Spesies: Gekko Gecko

Referensi: wikipedia, Biodeversitas Indonesia

Thursday, May 3, 2012

PELESTARIAN AYAM HUTAN

Ayam Hutan Abu-Abu
Keaneka ragaman kekayaan flora fauna Indonesia sangat indah dan menarik untuk dikagumi. Salah satunya adalah ayam hutan yang merupakan nama umum bagi jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Jantan dengan betina berbeda bentuk tubuh, warna dan ukurannya (dimorfisme seksual, sexual dimorphisme). Ayam hutan jantan memiliki bulu yang berwarna-warni dan indah, berbeda dengan ayam betinanya yang cenderung berwarna monoton dan kusam.

Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang ayam peliharaan. Dalam bahasa daerah, ayam ini disebut dengan berbagai nama seperti canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas (Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.). Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris disebut Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl; yakni merujuk pada warna, asal tempatnya hidupnya dan sifatnya yang liar.

Ada empat spesies ayam liar yang semuanya digolongkan dalam genus Gallus Kelas Aves. Keempat spesies ayam liar tersebut dikenal dengan sebutan ayam hutan, yaitu ayam hutan Ceylon (Gallus lafayetti Lesson), ayam hutan abu-abu (Gallus sonneratti Temmick), ayam hutan merah (Gallus gallus Linnaeus), dan ayam hutan hijau (Gallus varius Shaw) (HUTT, 1949).

Ayam hutan Ceylon (Gallus lafayetti Lesson) banyak ditemukan di Sri Langka. Ciri utama ayam ini mempunyai warna bulu mirip ayam hutan merah. Pada ayam jantan, bulu bagian dada berwarna merah jingga dan coklat gelap dan yang betina mempunyai bercakbercak coklat pucat dan coklat gelap atau bercak lurik, jengger pada bagian tengahnya berwarna kuning serta telurnya totol-totol. Sayap dan ekor mempunyai lurik coklat hitam (HUTT, 1949; WALUYO dan SUGARDJITO, 1984).

Ayam hutan abu-abu (Gallus sonneratti Temmick) tersebar di bagian Barat dan Selatan India dari Bombay sampai Madras (HUTT, 1949). Ayam jantan mempunyai warna bulu dada kombinasi antara warna hijau, hitam dan putih. Ujung sayap dan ekor mengecil seperti cacing. Bulu dominan pada jantan dan betina adalah abu-abu dan perak sedangkan pada bagian leher ada lurik putih (WALUYO dan SUGARDJITO, 1984).

Ayam hutan merah (Gallus gallus Linnaeus) tersebar meliputi dari India, Burma, Siam, Cochin, Cina, Semenanjung Malaya, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, Lombok dan Timor (HUTT, 1949; WALUYO dan SUGARDJITO, 1984). Ayam jantan memiliki bulu dada berwarna hitam, jengger tunggal berukuran besar dan bergerigi yang berwarna merah. Bulu leher panjang dan sempit, punggung dan sayap berwarna coklat.

Ayam-ayam ini dari segi bentuk tubuh dan perilaku sangat serupa dengan ayam-ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus), karena memang merupakan leluhur dari ayam peliharaan. Terutama Ayam hutan merah (Gallus gallus) yang lebih banyak miripnya dengan moyang dari ayam peliharaan. Hal inipun juga mempengaruhi hasil persilangan antara ayam domestik dengan ayam hutan merah, hidup dan yang dapat bereproduksi secara normal, dibanding jika menyilangkan dengan ayam hutan hijau. Fenomena ini didukung oleh penelitian polymorphisme protein darah oleh HASHIGUCHI et al. (1993) yang mendapatkan hasil bahwa kemiripan genetik ayam domestik dengan ayam hutan merah lebih dekat dibandingkan dengan ayam hutan hijau, sehingga kemungkinan hal ini yang mempengaruhi aktivitas perkawinan di antaranya.

Dahulu di pedesaan di daerah Yogyakarta masih banyak ditemukan ayam kampong yang mirip dengan ayam hutan merah ini. Namun untuk saat ini ayam kampong jenis ini yang bertubuh kecil dengan corak bulu yang hamper sama dengan ayam hutan merah sudah sulit dicari. Saat ini penduduk desa lebih senang menyilangkan ayam kampong mereka dengan ayam Bangkok, sehingga keturunan ayam kampong sekarang rata-rata berpostur tegap dan besar.

Ayam Hutan Hijau
Dahulu sekitar tahun 1980 di daerah pegunungan Pare dan Menoreh Daerah Istimewa Yogyakarta masih banyak ditemukan Ayam Hutan Hijau. Ayam-hutan Hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak dan sempidan.

Secara geografis kedua wilayah di Yogyakarta ini berbukit-bukit dan relative masih terdapat hutan-hutan kecil yang tidak begitu rapat. Seperti kebanyakan ayam hutan hijau lebih menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Bahkan dahulu di dusun Ngaran Margokaton Seyegan Sleman sering terjadi beberapa ayam hutan masuk ke pedesaan dan berbaur dengan ayam kampung peliharaan penduduk, hal ini terjadi biasanya pada saat musim kemarau dimana-mana hutan pada merangas karena daunya kering. Ayam hutan yang kesulitan mencari makan akhirnya masuk ke pedesaan untuk mencari makan.

Ayam Hutan Merah
Tetapi tidak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar dari sarangnya.


Di Indonesia terdapat dua jenis ayam hutan yang menyebar alami terutama di bagian barat kepulauan. Kedua jenis itu ialah ayam-hutan merah, yang menyukai bagian hutan yang relatif tertutup; dan ayam-hutan hijau, yang lebih menyenangi hutan-hutan terbuka dan wilayah berbukit-bukit.

Pagi dan sore ayam ini biasa mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.

Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.

Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.

Ayam-hutan Hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.

PELESTARIAN AYAM HUTAN
Walaupun dibeberapa daerah ayam hutan liar sudah jarang ditemukan namaun ayam hutan saat ini belum termasuk satwa liar yang harus dilindungi akan tetapi melihat nilai ekonomi yang dimiliki maka konservasi untuk mempertahankan populasinya perlu mendapat perhatian sejak dini agar tidak terlambat.

Penangkaran ayam hutan adalah cara terbaik untuk tetap dapat mempertahankan populasi ayam hutan perlu segera dilakukan. Penangkaran akan lebih mudah dilakukan dengan jalan penetasan dan pembesaran bersama ayam kampung. Apabila diperoleh beberapa ekor anak jantan dan betina hasil penetasan dan pembesaran, ini dapat dijadikan sebagai stok awal dalam memperbanyak populasi ayam hutan yang ada tersebut.

Penangkaran ayam hutan dan mengembangkan populasinya tidak cukup mudah walaupun ayam hutan yang dipelihara sudah cukup jinak. Ayam hutan adalah salah satu satwa liar yang mungkin dapat dibudidayakan akan tetapi sukarnya ayam hutan dalam berkembang biak merupakan salah satu masalah yang akan dihadapi jika akan dibudidayakan. Namun dengan desain kandang yang menyerupai habitat asli di samping ketersediaan pakan yang cukup seperti di sangkar burung TMII maupun Taman Safari, ternyata dapat meningkatkan perkembangbiakan ayam hutan ini.

Sebetulnya tujuan konservasi satwa liar adalah terjaminnya kelangsungan hidup satwa liar dan terjaminnya kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkannya baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan prinsip kelestariannya. Pola konservasi satwa liar di Indonesia mengikuti strategi konservasi dunia, yaitu tidak saja bertujuan untuk melestarikan spesiesspesies yang ada tetapi juga berusaha untuk memanfaatkannya bagi kesejahteraan manusia secara lestari. Dalam pelaksanaannya, konservasi satwa liar diselenggarakan baik di habitat alamnya (in situ) maupun di luar habitat almnya (ex situ) dengan cara penangkaran.

Referensi:
Biodeversitas Indonesia, Ayam Hutan Wikipedia, Klub Burung dll

Sunday, April 29, 2012

CUK URANG SI RAJA UDANG

Cuk Urang termasuk keluarga Alcedinidae, sebetulnya nama local dari Raja Udang yang diberikan oleh masyarakat Yogyakarta. Cuk Urang berbeda dengan Pecuk Padi Phalacrocorax sulcirostris, walaupun sama-sama makan udang, ikan kecil, aneka reptil, kodok dan serangga. Mangsa dibunuh dengan memukul-mukulkannya ke batang pohon atau ke batu, baru dimakan.

Secara proporsional sebetulnya postur Cuk Urang ini tidak sebagus jenis burung lainnya. Semua Raja Udang (King Fisher) mempunyai kepala besar; memiliki paruh yang besar pula, panjang dan runcing, nampak kurang seimbang dengan ukuran tubuhnya yang relatif kecil. Kaki pendek, begitu juga lehernya. Tiga jari yang menghadap ke muka, saling melekat sebagian di pangkalnya.

Dahulu sekitar tahun 80an di daerah Ngaran, Margokaton Seyegan Sleman masih banyak dijumpai burung Raja Udang ini. Burung Raja Udang yang paling sering kelihatan adalah yang tubuhnya sangat kecil (14 cm) berwarna biru dan putih bagian atas, garis dadanya biru kehijauan mengkilap, mangkota dan penutup sayap bergaris hitam kebiruan, tenggorokan dan perut berwarna putih, iris coklat, paruh kehitam-hitaman dan kakinya merah. Sebetulnya memang masih banyak jenis Raja Udang lainnya yang memiliki warna cerah, terutama biru berkilau dan coklat kemerahan, di samping warna putih. Pola warna sangat beragam.

Sebagian jenis raja-udang hidup tak jauh dari air, baik kolam, danau, maupun sungai. Sebagian jenis lagi hidup di pedalaman hutan. Jenis Raja Udang menghuni daerah-daerah lahan basah seperti daerah-daerah aliran sungai, hutan mangrove, danau/telaga, rawa-rawa pesisir. Dahulu ikan-ikan di kolam orang tua sering dipanen oleh burung Cuk Urang ini, untuk jenis ikan kecil pasti habis disantap oleh burung ini, sedangkan jenis ikan yang sudah besar dan berat seperti ikan gurame biasanya yang diambil hanya kedua matanya saja. Para petani ikan di desa Ngaran biasanya memasang jala di atas kolam, sehingga terhindar dari hama Cuk Urang ini.

Raja Udang biasanya membuat sarang dalam lubang di tanah, tebing sungai, batang pohon atau sarang rayap. Meski raja-udang bukanlah makhluk yang resik, burung ini sangatlah subur. Banyak spesies burung mampu berbiak untuk kedua kalinya, antara 2-5 butir, biasanya keputih-putihan dan hampir bundar. Telur raja-udang pun menetas setelah dierami selama tiga minggu. Kedua induk dari burung yang telah menetas juga akan mencari makan dengan bersungguh-sungguh. Burung raja-udang adalah pemburu yang menyergap dengan tiba-tiba, bertengger di atas sebuah sungai sampai seekor ikan kecil masuk ke dalam jarak tembaknya. Ia bisa menukik, menyerang, dan terbang kembali ke tempatnya bertengger hanya dalam tempo dua detik. Si pemangsa lalu membanting mangsanya ke batang pohon untuk membuat korbannya itu pingsan. Selama tiga atau empat minggu lamanya burung-burung muda itu akan berdiam di sarang dan kedua induk bisa membawa 50 sampai 70 ekor ikan setiap hari sehingga serakan tulang ikan pun akan semakin menumpuk tinggi.

Dengan hidup menyendiri hampir sepanjang tahun, setiap raja-udang berusaha keras melindungi lahan yang dimilikinya untuk menjamin ketersediaan ikan yang cukup dan tempat bersarang yang baik. Suaranya sangat nyaring dan burung itu akan berkicau agar semua tahu kedatangannya, Perkelahian di antara raja-udang dimulai dengan kejar-kejaran berkecepatan tinggi dan sesekali patukan paruh. Kalau tawuran di udara tidak menyelesaikan masalah, nyawa bisa jadi taruhannya. Di tepi sungai, dua ekor raja-udang akan saling mengunci paruh lawan dan berusaha untuk menenggelamkan musuhnya tersebut.

Di waktu yang lain, musim kawin akan menjadi masa gencatan senjata antara burung jantan dan betina. Pendekatan sang jantan dilakukan tanpa basa-basi: dia meluncur cepat mendekati mantan musuhnya itu (si betina) sambil bersiul tinggi. Kalau si betina menerima kedatangannya, sang jantan akan menghujani kekasihnya itu dengan ikan segar, menyuapkan bagian kepala ikan itu terlebih dahulu ke dalam paruh sang pujaan hati. Pada satu kesempatan di mana sebuah gencatan senjata disepakati antartetangga, kedua sejoli akan menyatukan daerahnya – untuk sementara. Dari wilayah gabungan itu keduanya akan memilih sarang yang lama untuk digunakan kembali atau membuat sarang baru. Sepasang raja-udang biasanya membutuhkan waktu setidaknya 14 hari untuk memahat sebuah lubang sepanjang satu meter.

Karena bukan tipe pemilik rumah yang apik, burung raja-udang melapisi sarang yang diselimuti kegelapan itu dengan menaburkan lapisan tulang-tulang ikan kecil yang dimuntahkan dalam bentuk bola-bola kecil, kemudian bola-bola itu diremukkan ala kadarnya dengan paruh. Dahulu sarang Cuk Urang sering dijumpai di tebing sekitar tugu pompa, tebing di sini sangat dahulu sangat ideal untuk membuat sarang selain tempatnya yang sedikit gelap karena di bawah rindangan hutan bamboo, juga tanah di sini cukup gembur untuk di buat sarang Cuk Urang dengan paruh kuat mereka. Selain di daerah ini Cuk Urang juga banyak dijumpai di sawah sebelah selatan pasar Balangan yang lokasinya tidak jauh dengan hutan bamboo dan kelapa.

Seiring dengan mengeliatnya perekonomian di desa-desa wilayah Yogyakarta khususnya Sleman Barat, menjadikan habitat Cuk Urang pun ikut bergeser ke arah barat yaitu sekitar gunung Tugel sampai ke arah utara daerah Kedung Prahu dan Perbotan.

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan : Animal, Filum : Chordate, kelas : Aves, ordo : Coraciiformes, subordo :Alcedinus family : Alcedinidae, Helcyonidae dan Cerylidae.

Di seluruh dunia, terdapat kurang lebih 90 spesies burung raja-udang. Pusat keragamannya adalah di daerah tropis di Afrika, Asia dan Australasia.

jenis-jenis Raja Udang

Thursday, April 26, 2012

KEPODANG JAWA

Manuk Podang Jw (burung Kepodang) Oriolus chinensis adalah burung berkicau (Passeriformes) yang mempunyai bulu yang indah dan juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang. Burung Kepodang di alam liar terutama di daerah Yogyakarta sudah tidak ditemukan lagi. Nasib burung cantik ini sungguh mengenaskan, penulis belum mendengar ada relawan-relawan yang sudi menangkarkan kemudian melepas liarkan burung Kepodang ini. Burung Kepodang (Oriolus chinensis), meskipun di beberapa tempat di Indonesia sudah jarang ditemukan tetapi secara umum masih dikategorikan sebagai ‘Least Concern’ atau ‘Beresiko Rendah’ oleh IUCN Redlist. Artinya burung pesolek maskot provinsi Jawa Tengah ini masih dianggap belum terancam kepunahan.

Kepodang merupakan salah satu jenis burung yang sulit dibedakan antara jantan dan betinanya berdasarkan bentuk fisiknya. Hal inilah yang merupakan salah satu kesulitan dalam usaha menakarkan si cantik ini. Sebetulnya kalau ada niatan pemerintah untuk melestarikan burung Kepodang ini terutama dari pemerintah Jawa Tengah yang telah menjadikan burung Kepodang ini mascot, pemerintah dapat melakukan penyitaan burung-burung Kepodang di Pasar burung baik di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah kemudian ditangkarkan.

Usaha pemerintah dan kepedulian masyarakat akan kelestarian alam akan dapat membantu mengentaskan burung Kepodang dari ancaman kepunahan. Kalau di P. Bali ada usaha pelestarian burung Jalak Bali, kenapa di Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak mulai saja pelestarian burung Kepodang. Sampai saat ini kepedulian masyarakat dan pemerintah akan kelestarian burung Kepodang ini masih rendah, hal ini terbukti status burung Kepodang ini masih termasuk jenis burung kurungan karena dibeli oleh masyarakat sebagai penghias rumah, oleh karenanya burung ini masuk dalam komoditas perdagangan yang membuat populasinya semakin kecil.

Pada sekitar tahun 1980 burung Kepodang masih sering dijumpai di pepohonan sekitar desa-desa wilayah Yogyakarta. Siulan khas dari burung ini menjadikan burung Kepodang juga dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya sebagai “manuk pitu wolu” karena bunyinya yang nyaring mirip dengan ucapan pitu-wolu (tujuh delapan). Suara indah itu hanya dalam kurun 10 tahun saja sudah susah ditemukan di pohon-pohon halaman rumah, tetapi kita masih dapat menemukan di pasar-pasar burung seperti Ngasem dan Muntilan.

Burung Kepodang menurun populasinya juga karena terdapat mitos bagi wanita Jawa yang sedang hamil apabila pada saat “mitoni” memakan daging burung cantik ini akan menyebabkan bayi yang lahir bakal menjadi anak laki-laki yang ganteng atau cantik apabila wanita. Meskipun begitu mitos tersebut sekarang sudah jarang dilakukan seiring dengan sulitnya ditemukan burung Kepodang di alam liar.

Sebetulnya burung Kepodang berasal dari daratan China dan penyebarannya mulai dari India, Asia Tenggara, kepulauan Philipina, termasuk Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan,Sulawesi dan Nusa Tenggara. Burung ini hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan sedikit di daerah sub tropis dan biasanya hidup berpasangan . Di pulau Jawa dan Bali burung kepodang sering disebut dengan Kepodang Emas.

Bagi masyarakat Sunda biasa menyebut burung Kepodang ini dengan sebutan Bincarung. Sedangkan beberapa daerah di Sumatera menyebutnya sebagai Gantialuh dan masyarakat di Sulawesi menyebutnya Gulalahe. Burung Kepodang ini dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Black Naped Oriole. Di Malaysia disebut burung Kunyit Besar. Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin), Burung Kepodang disebut Oriolus chinensis.

Burung kepodang berukuran relatif sedang, panjang mulai ujung ekor hingga paruh berkisar 25 cm. Burung ini berwarna hitam dan kuning dengan strip hitam melewati mata dan tengkuk, buluterbang sebagian besar hitam. Tubuh bagian bawah keputih-putihan dengan burik hitam, iris merah, bentuk paruh meruncing dan sedikit melengkung ke bawah, ukuran panjang paruh kurang lebih 3 cm, kaki hitam. Burung ini menghuni hutan terbuka, hutan mangrove, hutan pantai, di tempat-tempat tersebut dapat dikenali dengan kepakan sayapnya yang kuat, perlahan, mencolok & terbangnya menggelombang.

Jenis Burung Kepodang yang diketahui penulis:

1.Kepodang Kuduk Hitam

Oriolus chinensis Linnaeus, 1766
Kepudang Kuduk-hitam, Black-naped Oriole

Berukuran sedang (26 cm), berwarna hitam dan kuning dengan setrip hitam melewati mata dan tengkuk; bulu terbang sebagian besar hitam. Pada jantan bagian lain kuning terang; betina lebih buram dengan punggung kuning zaitun. Burung remaja warna hitam digantikan warna zaitun; tubuh bagian bawah keputih-putihan dengan burik hitam.

Terdaspat di India, Cina, Asia tenggara, Filipina, Sulawesi, Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, dan Nusa Tenggara.

2. Kepodang Hutan
Oriolus xanthonotus
Oriolus xanthonotus Horsfield, 1821
Kepudang Hutan, Dark-throated Oriole

Berukuran agak kecil (18 cm), berwarna hitam dan kuning. Jantan: kepala, leher dan kerongkongan hitam. Bulu terbang hitam. Dada keputih-putihan dengan burik hitam. Bagian lain kuning terang. Betina dan burung remaja: tubuh bagian atas kehjauan, tungging kuning, tubuh bagian bawah siasanya putih dengan burik hitam tebal.
Iris merah, paruh merah jambu kaki hitam.

Terdapat di Filipina, Semenanjung Malaysia dan Sunda Besar. Di Bali tidak tercatat.

Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Passeriformes; Famili: Oriolidae; Genus: Oriolus; Spesies: Oriolus chinensis

Friday, April 13, 2012

KODOK PRUNTUS

Kodok merupakan satwa yang biasa hidup di daratan maupun daerah yang berair, sebagian kodok banyak yang dijumpai tinggal di daratan yang sedikit lembab. Kodok air biasanya kulitnya cenderung halus dan berlendir, sedangkan kodok darat berkulit kasar, bertotol-totol dan kering. Kodok adalah hewan amfibia yang paling dikenal orang di Indonesia. Anak-anak biasanya menyukai kodok karena bentuknya yang lucu, kerap melompat-lompat, tidak pernah menggigit dan tidak membahayakan. Hanya orang dewasa yang kerap merasa jijik atau takut yang tidak beralasan terhadap kodok.

Kodok ini menyebar luas mulai dari India, Republik Rakyat Cina selatan, Indochina sampai keIndonesia bagian barat. Di Indonesia, dengan menumpang pergerakan manusia, hewan amfibi ini dengan cepat menyebar (menginvasi) dari pulau ke pulau. Kini bangkong kolong juga telah ditemui diBali, Lombok, Sulawesi dan Papua barat.
Kodok air sudah banyak dikenal orang terutama kodok sawah (Fejervarya cancrivora) yang berwarna hijau dengan sedikit loreng kekuning-kuningan merupakan saingan kodok impor yaitu Kodok Lembu. Kodok sawah ini banyak dicari orang untuk dibuat menu SWII KEE di restoran-restoran ternama. Disebut 'ayam air' (swie: air, kee: ayam) demikian karena paha kodok yang gurih dan berdaging putih mengingatkan pada paha ayam. Selain itu, di beberapa tempat di Jawa Timur, telur-telur kodok tertentu juga dimasak dan dihidangkan dalam rupa pepes telur kodok.

Pada kali ini penulis kali ini hanya akan sedikit mengulas tentang Kodok darat, walaupun dikatakan kodok darat tetap saja membutuhkan air sebagai tempat bertelurnya. Kodok darat yang akan diceritakan kali ini, kalau di Yogya dikenal dengan istilah Kodok Pruntus atau Kodok Bangkong, kedua nama itu diambil dari ciri khas maupun kebiasaan kodok tersebut. Istilah Pruntus karena kodok tersebut kulitnya “mruntus” berbintil-bintil, sedangkan istilah bangkong dikarenakan kodok tersebut pada musim kawin yang jantan sering mengeluarkan suara “Kang…Kung…Kooong” yang “ngebas” dan bergema karena kantong suara di tenggorakannya. Suara kodok bangkong betina biasanya bunyinya “rrrr…reek…reeekk”.

Kodok Pruntus memiliki nama ilmiah Bufo melanostictus Schneider, 1799. Bangkong ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti kodok buduk (Jkt.), kodok berut (Jw.), kodok brama (Jw., yang berwarna kemerahan), dan Asian black-spined toad (Ingg.).
Bangkong ini kawin di kolam-kolam, selokan berair menggenang, atau belumbang, sering pada malam bulan purnama. Kodok jantan mengeluarkan suara yang ramai sebelum dan sehabis hujan untuk memanggil betinanya, kerapkali sampai pagi. Bunyinya: Kung…Kong…Keek… (suara kodok jantan) dan rrrr…reek…rrrreeekkk (suara kodok betina) kedengaran riuh rendah, namun apabila kita perhatikan suara itu memiliki keteraturan urutan yang saling sahut-sahutan. Apabila ada salah satu kodok yang melanggar urutan tersebut, biasanya diartikan sebagai sebuah tantangan bagi yang lain dalam memperebutkan calon pasangannya. Biasanya untuk kodok yang menyimpang ini akan diserang oleh beberapa kompetitornya kodok-kodok lainnya. Kadang-kadang dijumpai pula beberapa bangkong yang mati karena luka-luka akibat kompetisi itu; luka di moncong hewan jantan, atau luka di ketiak hewan betina.

Pada saat-saat seperti itu, dapat ditemukan beberapa pasang sampai puluhan pasang bangkong yang kawin bersamaan di satu kolam. Sering pula terjadi persaingan fisik yang berat di antara bangkong jantan untuk memperebutkan betina, terutama jika betinanya jauh lebih sedikit. Oleh sebab itu, si jantan akan memeluk erat-erat punggung betinanya selama prosesi perkawinannya.

Anatomi
Kodok berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga). Gigir ini biasanya berwarna kehitaman. Sepasang kelenjar parotoid (kelenjar racun) yang besar panjang terdapat di atas tengkuk.

Bagian punggung bervariasi warnanya antara coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai kehitaman. Ada pula yang dengan warna dasar kuning kecoklatan atau hitam keabu-abuan. Terdapat bintil-bintil kasar di punggung dengan ujung kehitaman.
Sisi bawah tubuh putih keabu-abuan, berbintil-bintil agak kasar. Telapak tangan dan kaki dengan warna hitam atau kehitaman; tanpa selaput renang, atau kaki dengan selaput renang yang sangat pendek. Hewan jantan umumnya dengan dagu kusam kemerahan.
Dari segi anatomi, katak mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruang yang berbeda dari makhluk hidup darat yang terdiri dari 4 ruang dan makhluk hidup air seperti ikan yang hanya terdiri dari 2 ruang. Katak dan kodok pada umumnya mempunyai organ-organ yang sangat khusus untuk menunjang kehidupannya. Diantaranya adanya pulmo untuk kehidupan di darat, kulit berlendir dan kaki berselaput untuk memudahkan berenang di air, 2 lubang hidung yang berhubungan langsung dengan cavum oris yang digunakan untuk bernapas ketika katak dan kodok ini berada di dalam air.

Kepala dan badan lebar bersatu, ada dua pasang kaki atau anggota, tak ada leher dan ekor. Bagian dalam ditutupi dengat kulit basah halus lunak. Kepala mempunyai mulut yang lebar untuk mengambil makanan, 2 lubang hidung/ nares externa yang kecil dekat ujung hidung yang berfungsi dalam pernapasan, 2 mata yang besar spherik, dibelakangnya 2 lubang pipih tertutup oleh membrane tympani yang berfungsi sebagai telinga untuk menerima gelombang suara. Tiap mata mempunyai kelopak mata atas dan bawah, serta di dalamnya mempunyai selaput mata bening membrane nictitans untuk menutupi mata apabila berada di dalam air. Di bagian ujung belakang badan dijumpai anus, lubang kecil untuk membuang sisa-sisa makanan yang tak dicerna, urine dan sel-sel kelamin/ telur atau sperma dari alat reproduksi

Habitat Kodok Pruntus
Bangkong kolong paling sering ditemukan di sekitar rumah. Melompat pendek-pendek, kodok ini keluar dari persembunyiannya di bawah tumpukan batu, kayu, atau di sudut-sudut dapur pada waktu magrib; dan kembali ke tempat semula di waktu subuh. Terkadang, tempat persembunyiannya itu dihuni bersama oleh sekelompok kodok besar dan kecil; sampai 6-7 ekor.

Kodok dan katak hidup menyebar luas, terutama di daerah tropis yang berhawa panas. Makin dingin tempatnya, seperti di atas gunung atau di daerah bermusim empat (temperate), jumlah jenis kodok cenderung semakin sedikit. Salah satunya ialah karena kodok termasuk hewan berdarah dingin, yang membutuhkan panas dari lingkungannya untuk mempertahankan hidupnya dan menjaga metabolisme tubuhnya.

Kodok memangsa berbagai jenis serangga yang ditemuinya. Kodok kerap ditemui berkerumun di bawah cahaya lampu jalan atau taman, menangkapi serangga-serangga yang tertarik oleh cahaya lampu tersebut. Pada musim laron tiba sehabis hujan biasanya banyak kita temui kodok-kodok yang sedang berpesta memakan laron-laron yang sedang apes.

Racun Kodok Pruntus
Kodok Pruntus dikenal alat yang efektif sebagai pertahanan diri yaitu kulit yang beracun. Selama hidup penulis memang belum pernah ada orang yang terkena racun kodok ini, mungkin karena kodok tidak pernah menyerang manusia, cenderung menghindar jika bertemu dengan manusia. Namun kabarnya minyak dari bangkai kodok ini sering dipakai untuk tambahan “warangan” pada senjata-senjata orang Jawa tempo dulu. Racun Kodok Pruntus yang paling berbahaya yaitu dari jenis Kodok Pruntus bergaris merah di bagiang rahang atau pun punggungnya.

Kodok Pruntus mampunyai kelenjar racun yang tersebar di permukaan kulit yang dipenuhi tonjolan-tonjolan.

Reproduksi
Pada saat bereproduksi katak dewasa akan mencari lingkungan yang berair. Disana mereka meletakkan telurnya untuk dibuahi secara eksternal. Telur tersebut berkembang menjadi larva dan mencari nutrisi yang dibutuhkan dari lingkungannya, kemudian berkembang menjadi dewasa dengan bentuk tubuh yang memungkinkannya hidup di darat, sebuah proses yang dikenal dengan metamorfosis. Tidak seperti telurreptil dan burung, telur katak tidak memiliki cangkang dan selaput embrio. Sebaliknya telur katak hanya dilindungi oleh kapsul mukoid yang sangat permeabel sehingga telur katak harus berkembang di lingkungan yang sangat lembap atau berair.

baca macam-macam kodok (Bufonidae)

Wednesday, April 4, 2012

TRENGGILING, SI "MANIS" YANG NYARIS PUNAH

Trenggiling (Manis Javanica, Desmarest 1822) merupakan hewan mamalia karena selain berdarah panas juga menyusui dan diantara sisiknya terlihat rambut. Binatang ini menurut CITES sudah masuk ke dalam appendix II yang artinya dilarang diperdagangkan. Sedang IUCN mencantumkannya dalam daftar risiko rendah serta hampir punah. Di Indonesia sendiri Trenggiling sudah termasuk satwa yang dilindungi, hanya saja greget keseriusan pemerintah dalam melindungi satwa ini masih kurang dapat dirasakan oleh masyarakat. Masih banyak warung-warung yang menyajikan masakan Trenggiling, bahkan pernah salah satu acara TV swasta dengan bangganya memberitakan keberadaan warung terlarang ini. Fakta seperti itu berarti perburuan dan pembantaian Trenggiling masih berlangsung, mungkin kalau saat ini aksi para pemburu liar tersebut jarang terlihat karena memang populasi Trenggiling di alam liar sudah turun dratis. Satwa ini menjadi terancam karena bagi masyarakat Asia Tenggara menyukai daging Trenggiling ini untuk disantap. Kabarnya rasa daging trenggiling yang berukuran kecil mirip daging bebek. Namun penyebab utama kepunahannya adalah rusaknya habitat trenggiling. Hutan yang dihabiskan di Asia Tenggara, India dan Afrika yang terutama menyebabkan satwa ini masuk dalam daftar mereka yang patut dilestarikan.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Pholidota

Famili:

Manidae

Genus:

Manis

Spesies:

M. javanica

Nama binomial

Manis javanica

Bahkan menurut salah satu sumber BKSDA Sleman yang di kutip http://purnasarie1.blogspot.com/ di wilayah Sleman saat ini sudah tidak terlihat penampakan satwa Trenggiling ini. Trenggiling terakhir sempat terlihat di daerah Kedung Prahu, Minggir Kab. Sleman sekitar tahun 80 an dan tertangkap warga kemudian membunuhnya untuk diambil daging dan sisiknya.

Menurut penulis saat ini di pinggiran Yogya dan sekitarnya seperti daerah Kulon Progo, Gunung Kidul maupun Muntilan mungkin masih ada beberapa populasi Trenggiling, hal ini dimungkinkan karena di pasar burung seperti Ngasem dan Muntilan masih ada satu-dua pedagang yang memperjualbelikan satwa dilindungi ini. Bahkan menurut kabar burung beberapa ekor Trenggiling di pasar burung besar seperti Pasar Pramuka Jakarta dipasok dari daerah Jawa Tengah.

Satwa ini tersebar di Nias, Mentawai, Sumatera, Riau. Pulau Lingga, Kalimantan, tentu saja di Jawa hingga Bali dan Lombok. Bisa dikatakan tersebar di Indonesia Barat. Bahkan sejenisnya pun bisa dijumpai di Burma, Malaysia – Singapura dan Filipina. Sedangkan saudara sejenisnya bisa dijumpai sampai di Afrika.

Panjang dari kepala hingga pangkal ekor mencapai 58 cm. Panjang ekor mencapai 45 cm. Berat tubuh trenggiling sekitar 2 kg.. Sedang pada jenis lain berkisar dari 30 cm hingga 100 cm. Hidup di permukaan tanah, trenggiling mampu memanjat pohon.Trenggiling biasa hidup di hutan dataran rendah yang kebanyakan daerahnya bersinggungan dengan daerah perumahan penduduk., Trenggiling menyantap semut dan rayap sebagai makanan favoritnya. Memiliki cakar yang panjang dan lidah yang menjulur sama panjangnya kurang lebih 1/3 panjang tubuhnya. Dengan cakar yang panjang memungkinkan satwa ini mengoyak sarang semut dan rayap. Lidahnya digunakan untuk menjilat buruannya. Semut dan rayap akan melekat di lidah trenggiling berkat ludahnya. Di bagian dada trenggiling terdapat kelenjar ludah yang sangat besar. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang bisa merekat insekta.

Trenggiling (Manis javanica) merupakan binatang nokturnal yang aktif melakukan kegiatan hanya di malam hari. Satwa langka ini mampu berjalan beberapa kilometer dan balik lagi kelubang sarangnya yang ditempatinya untuk beberapa bulan.

Diwaktu siang Trenggiling bersembunyi di lubang sarangnya. Diantaranya ada yang tinggal diatas dahan pohon. Binatang ini suka bersarang pada lubang-lubang yang berada dibagian akar-akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digali dengan menggunakan cakar kakinya. Atau ia menempati lubang-lubang bekas hunian binatang lainnya. Pintu masuk kelubang sarang selalu ditutupnya.

Ketika baru lahir, lapisan sisiknya masih empuk. Setelah tumbuh dewasa sisik ini berubah mengeras. Sisik tersebut sebetulnya serupa dengan rambut pada satwa lainnya. Trenggiling dalam melindungi diri dari serangan bisa melingkar membentuk seperti bola. Dan memang sisiknya yang berlapis berperan sebagai tameng, sama seperti tank.

Mamalia ini dalam taksonomi termasuk pada ordo Pholidota, familia Manidae dan genusnya Manis. Sedang spesiesnya terdiri dari Manis gigantea, Manis temmincki, Manis tricuspis, Manis tetradactyla, Manis crassicaudata, Manis pentadactyla yang menjadi saudara dari Manis javanica. Trenggiling (Manis javanica) atau dalam bahasa inggris disebut Sunda Pangolin adalah salah satu spesies dari genus Manis (Pangolin) yang hidup di Indonesia (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) dan beberapa negara lain di Asia Tenggara.

SANKSI PIDANA
Pada tanggal 18 Juli 2011 merupakan hari yang sangat tidak mengenakan bagi dua (2) orang terdakwa kasus perusakan sarang Trenggiling (Manis javanica) yakni Usup dan Rossi alias Kosasih warga Babakan Madang Bogor, karena vonis Hakim Pengadilan Negeri Cibadak menjatuhkan sanksi berupa pidana penjara 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan dan denda sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) bagi terdakwa. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Terdakwa didakwa dengan pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf e Undang-undang RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Terdakwa tersebut sudah diintai sejak 3 bulan melakukan aktifitas perburuannya di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Prestasi ini perlu dimasukan dalam catatan tersendiri mengingat hukuman denda yang cukup besar yakni 30 juta rupiah kepada setiap terdakwa, mungkin juga denda terbesar bagi perusak sarang trenggiling se- Indonesia.

Tindak kejahatan perburuan satwa dan perdagangan satwa merupakan tindak kejahatan yang bersifat jaringan, saat ini trenggiling merupkaan komoditi perdagangan internasional yang cukup menggiurkan oleh karena itu, POLHUT dan jajaran TNGGP bersatu padu untuk mengamankan kawasan dan juga tumbuhan dan satwa dari perburuan dan perdagangan satwa. Sumber (http://www.gedepangrango.org)

Friday, March 16, 2012

LUWING SI KAKI SERIBU


Satu lagi dari beberapa indicator lingkungan yang bisa menandakan bahwa lingkungan kita masih bagus atau sudah rusak adalah kehadiran Luwing atau si Kaki Seribu. Kaki seribu atau millipede ini termasuk ke dalam kelas Diplopoda, sebelumnya juga disebut Chilognatha adalah artropoda yang memiliki dua pasang kaki per sekmen kecuali sekmen pertama di belakang kepala, dan sedikit setelahnya yang hanya memiliki satu kaki. Penamaan Kaki Seribu sebetulnya bukan berarti Luwing ini benar-benar berkaki seribu, nama tersebut di dapat karena Luwing memiliki kaki terbanyak dari semua hewan maupun serangga yang ada di muka bumi ini.

Habitat Luwing biasanya terdapat di tanah-tanah gembur, berhumus dan lembab. Luwing juga menyukai tanah-tanah yang sedikit mengandung pupuk kimia dan lebih banyak mengandung kompos maupun pupuk kandang. Lingkungan yang gersang dan kering tidak disukai oleh Luwing ini, sehingga dari indicator ini akan kelihatan apakan lingkungan di sekitar rumah kita sudah dipenuhi oleh residu kimia atau belum.

Anatomi
Luwing ini tubuhnya dilindungi oleh kulit berbuku-buku yang sedikit keras dan biasanya berwarna dari coklat kemerah-merahan sampai kehitam-hitaman. Tubuh Luwing berbentuk agak silindris dan panjangnya ada yang sampai sekitar 20 cm dengan diameter tubuh sekitar 1,2 cm. Kepala Luwing di hiasi oleh dua buah sungut yang kegunaannya penulis sendiri belum tahu. Luwing ini jika dalam keadaan terancam akan melingkarkan tubuhnya rapat-rapat membentuk spiral seperti obat nyamuk, selain itu Luwing yang terancam akan mengeluarkan bau busuk yang akan mengusir predator pengganggunya.

Luwing ini pada jaman penulis kecil sekitar tahun ’80 menjadi salah satu mainan favorit anak laki-laki kampong (nDeso) karena mainan-mainan buatan pabrik tidak terjangkau dayabelinya oleh orangtua mereka. Imajinasi dunia anak ndeso pada waktu itu tentang Luwing ini seperti keretaapi yang hilir mudik mengangkut penumpang, walaupun Luwing ini sering kali “ngambek” dan melingkarkan tubuhnya karena banyak disentuh oleh tangan anak-anak.

Di perkotaan saat ini sudah sulit menemukan Luwing ini apalagi yang berukuran sampai 20 cm, jika pun ada ukurannya hanya sebesar lidi dan panjangnya sekitar 1,5 cm. Luwing kecil ini biasanya banyak di jumpai di media tanam dalam pot bunga yang subur. Luwing bagi sebagian orang memang menjijikan tetapi luwing tidak berbisa jadi tidak perlu ditakuti, mungkin malah membantu pengemburan tanah.

Monday, March 12, 2012

KADAL HIJAU

Bukan sembarang kadal karena kadal yang satu ini ada warna hijau di tubuhnya dan kadal jenis ini lebih pintar memanjat pohon. Warna hijau tubuh kadal sebetulnya tidak seluruhnya hijau, hanya di daerah moncong sampai kepala yang lebih banyak unsur warna hijau, sedangkan mulai dada sampai ke ekor semakin berkurang warna hijaunya.Punggung berwarna zaitun atau cokelat-zaitun, dengan belang-belang samar terbentuk dari bintik-bintik hitam (kadang-kadang dengan warna cerah atau keputihan di tengahnya) yang berleret melintang. Kepala dengan bintik-bintik hitam yang lebih jelas; dua bintik hitam serupa mata terdapat di belakang kepala. Tepi pelupuk mata berwarna kuning terang. Sisi bawah tubuh hijau terang keputihan atau kekuningan. Anak yang baru menetas berwarna cokelat kekuningan atau kemerahan dengan belang-belang hitam yang jelas dan tungkai berwarna hitam; ekor kekuningan.

Kadal pohon hijau (Dasia olivacea) adalah sejenis kadal anggota suku Scincidae. Hewan ini dalam bahasa asing dikenal sebagai Olive Dasia atau Olive Tree Skink (Ingg.), atau Olivfarbener Baumskink (Jerman).

Walaupun seingat penulis terdapat setidaknya 3 jenis kadal yang mempunyai warna hijau dan penulis tidak tahu apakah masih satu family apa tidak, karena waktu itu kebanyakan anak-anak takut sama kadal hijau ini. Ketakutan tersebut terjadi karena hewan jenis reptile yang berwarna cerah biasanya beracun mematikan, tetapi untuk jenis kadal ini sampai saat inipun penulis tidak tahu apakah beracun atau tidak.
Kadal Hijau atau di sebut juga Kadal Kebun sebab hidupnya berada diantara pepohonan dan memakan berbagai macam serangga seperti nyamuk, kupu-kupu dan lalat. Kadal Hijau termasuk dalam kategori binatang Reptil walaupun bentuknya kecil yang berukuran antara 12cm-30cm. Kadal hijau aktif di siang hari, sedangkan pada malam hari dihabiskan waktunya sembunyi di sarangnya.

Kadal yang bertubuh gempal, panjang tubuh dari moncong hingga anus (SVL, snout-vent length) maksimal 115 mm, panjang total hingga ujung ekor mencapai 292 mm. Perisai-perisai supranasal terpisah (tak bersinggungan) satu sama lain. Perisai-perisai prefrontal biasanya terpisah, jarang bersinggungan. Perisai supralabial (bibir atas) 7 buah, yang ke-5 dan ke-6 di bawah mata; infralabial 8 buah. Perisai nuchal sepasang. Lubang telinga kecil; timpanum (gendang telinga) terletak di dalam.Sisik-sisik di tengah tubuh dalam 28–30 deret (hingga 32 deret, untuk spesimen Sumatra); sisik di bagian dorsal memiliki 3, 5 atau 7 lunas lemah. Di tengah punggung, 41–46 sisik terdapat di antara perisai parietal (kepala belakang) hingga pangkal ekor (sejajar celah anus). Di bagian ventral, 45–58 sisik terdapat di antara perisai mental (dagu) hingga celah anus. Tungkai panjang; dengan 17–21 lamella terdapat di bawah jari ke-4 tungkai belakang.