Friday, March 2, 2012

JAMUR SO NAN LEZAT

JAMUR atau Mushroom adalah salah satu bahan makanan yang telah lama dikenal oleh manusia, walaupun ada yang beracun dan tidak beracun. Salah satu yang sedikit beracun tetapi kalau bisa mengolahnya akan menjadi sajian makanan yang enak adalah JAMUR SO. Kata So berasal dari pohon So atau pohon Melinjo, kalau kata “So” bersumber dari nama daunnya, sedangkan kalau Melinjo bersumber dari nama buahnya. Jamur So ini dinamakan demikian karena habitat tum buhnya biasanya di bawah pohon So. namun dalam mencari jamur ini haruslah pada musim hujan,karena jamur ini biasa muncul saat musim hujan saja.

Tanaman ini termasuk dalam golongan "jejamuran", yang nama latinnya dikenal dengan Scleroderma Aurantium Vulgare. Bentuknya bulat seperti bongkahan telur, Peridium (kulit buah) berwarna coklat kekuningan, permukaan bagian dalam berwarna kuning, lebar sekitar 4-8 cm dan tinggi 2-6 cm, Gleba (bagian spora) dari warna putih menjadi gunduk keunguan dan akhirnya menjadi kecoklatan sampai coklat gelap sebagai spora.

Kandungan Senyawa Kimia
Jamur So mengandung senyawa kimia yang berupa Sterol, Glukosa, Fruktosa, Maltosa dan indol. Dalam ekstrak etanol, beberapa asam amino bebsa, alanin asparangin , phenyl alani, alfa asam aminobutyric, asam aspartat, asam glutamat, lensin, lisin, serin, tirosin dan valin telah teriindentifikasi menggunakan kramotagrafi kertas dua demensi (Grzybowska, 1967).

Jamur So tumbuh di hampir seluruh kepulauan Indonesia juga tersebar luas di Asia, Eropa dan Amerika Utara ditemukan di hutan terutama pada saat musim hujan dan tumbuh di sekitar pohon melinjo. Hanya saja di desa-desa pulau Jawa seperti sekitar kota Yogyakarta, jamur So ini sudah sulit dijumpai seiring dengan mulai habisnya populasi pohon melinjo dan usaha untuk membudidayakan jamur ini pun kelihatannya belum ada yang tertarik.

Jamur jenis ini termasuk aman dikonsumsi, asal dipilih yang masih muda atau belum berspora dan setelah mendapatkan jamur ini lalu pastikan jamur ini dalamnya masih bewarna putih,kemudian kupas kulitnya sampai warna kuningnya hilang. Jamur yang sudah tua atau pengupasannya kurang bersih akan menyebabkan keracunan apabila dimakan. Waktu kecil penulis sering sekali bergerilya mencari jamur jenis ini untuk dikonsumsi. Cara memasaknya salah satunya dengan metode dilinthing, yaitu dengan cara dibungkus memakai daun pisang dengan dicampur bumbu berupa garam dan cabe sesuai selera, kemudian dibakar, tetapi kalau penulis mendapat banyak jamur So orang tua kami biasanya memasaknya dengan cara ditumis bahkan kadang dibuat rica rica jamur So yang lezat. Mengenai rasa seperti daging ayam (maklum orang desa nggak pernah makan daging) dan teksturnya lembut seperti tahu.


Kenali jenis-jenis jamur beracun atau tidak beracun

Apakah bentuk, warna, atau tempat tumbuhnya dapat dijadikan acuan untuk menentukan suatu jenis jamur beracun atau tidak? Jawabnya, ya. Meski harus diakui, sampai saat ini, melihat dari sisi penampilan saja belum cukup, apalagi jika dijadikan acuan untuk membedakan tingkat keamanan sebuah jamur. Cara ini juga tidak dapat menjadi pedoman yang harus dipercaya 100%. Ketika kita menemukan jamur jenis baru di pekarangan atau saat berkemah di tengah hutan, misalnya.

Namun setidaknya, masih ada filter yang dapat mencegah masuknya racun jamur ke dalam perut. Dari beberapa panduan sederhana yang biasa digunakan oleh para penjelajah hutan, misalnya, atau adopsi dari mata ajaran survival para calon prajurit pasukan elite di luar maupun dalam negeri, terungkap adanya beberapa pedoman yang dapat dijadikan bekal dalam menghadapi racun jamur.

Pelajaran itu memberikan pengetahuan bahwa jenis jamur beracun pada umumnya memiliki warna cukup mencolok mata. Misalnya, merah darah, hitam, cokelat, hijau tua, biru tua, dan sejenisnya. Sebaliknya, menurut pelajaran ini, jamur-jamur berwarna terang tergolong ke dalam kelompok yang dapat dimakan.

Namun, teori warna ini juga ada pengecualiannya. Sepanjang pengetahuan para ahli, jamur Shiitake ternyata tidak mengandung racun, padahal ia berwarna cokelat. Begitu juga dengan sejumlah jamur berkulit terang, di kemudian hari ternyata diketahui mengandung racun. Jamur beracun biasanya juga memiliki ciri lain, yaitu berbau busuk akibat senyawa sulfida di dalamnya. Jamur beracun juga mengandung senyawa sianida yang membuat berbagai serangga atau binatang kecil lainnya juga enggan untuk hinggap atau berada di jamur itu. Jadi untuk mudahnya, bila lalat dan serangga lainnya saja menjauh, masak kita mau mendekat, bahkan mengolahnya menjadi santapan kita?

Ciri lainnya, jika jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan dengan benda yang terbuat dari perak asli (pisau, sendok, garpu, atau cincin), pada permukaan benda-benda itu akan muncul warna hitam (karena sulfida) atau kebiruan (karena sianida). Cara ini cukup efektif jika kita cuma punya sedikit waktu untuk menentukan suatu jamur beracun atau tidak saat sedang berkemah atau mendaki gunung, misalnya. Namun, bila mempunyai waktu yang panjang dan mau sedikit repot, tips turun-temurun dari sejumlah desa di Nusantara ini layak dicoba. Untuk memastikan ada tidaknya racun, kita masak atau pepes saja jamur yang dicurigai bersama nasi putih. Jika warna nasi berubah menjadi cokelat, kuning, merah, atau hitam, besar kemungkinannya jamur itu beracun. Keruan, bukan cuma jamurnya yang harus dihindari, nasinya pun tak boleh disantap lagi.

Selain mengenali jamur beracun atau tidak dari warnanya, berikut beberapa ciri umum yang membedakan jamur beracun dan tidak beracun:

•Jamur beracun biasanya mempunyai cincin atau cawan. Tetapi khusus untuk beberapa jamur itu tak berlaku, seperti pada jamur merang yang memiliki cawan dan campignon yang bercincin.
•Bau jamur yang beracun selalu menusuk. Bisa seperti bau telur busuk atau seperti bau amoniak.
•Jamur beracun biasanya tumbuh di tempat yang kotor.
•Jamur beracun akan cepat menimbulkan karat pada pisau yang dipakai mengeratnya. Namun, jika pisau yang dipakai terbuat dari perak, warna hitam atau biru tua akan segera muncul.
•Jamur beracun berubah warna dengan cepat pada waktu pemanasan dan pemasakan.

Gejala Keracunan
Ketika seseorang mengalami keracunan jamur banyak vareasi gejala yang mungkin dialaminya. Gejala-gejala itu dapat berupa:
•Sakit pada bagian perut
•Wajah pucat
•Berkeringat dingin
•Mual, bahkan muntah
•Tubuh lemas terkadang disertai kejang-kejang
•Bibir kering
•Mata berkunang-kunang
•Pingsan, bahkan
•Meninggal dunia


Penanganan
Penanganan atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan pada kejadian keracunan jamur yaitu:
•Jangan banyak bergerak
•Minum air putih sebanyak-banyaknya untuk mencegah dehidrasi
•Bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat

baca UJI AKTIVITAS ANTI OKSIDAN Jamur So

Thursday, March 1, 2012

SISIK NAGA (PAKIS PICISAN)

Ada kenal dengan sisik naga atau biasanya tanaman ini diberi nama daerah Sumatera: picisan, sisik naga (Semenanjung Melayu), sakat riburibu (Pantai Sumatera Barat). Jawa: paku duduwitan (Sunda), pakis duwitan (Jawa). Nama asing Bao shu lian (C), dubbeltjesvaren, duiteblad, duitvaren (B). Nama simplisia Drymoglossi Herba (herba picisan). Sisik Naga ini biasanya tumbuh di batang dan dahan pohon. Akar rimpangnya panjang, kecil, merayap, bersisik, panjang 5-22 cm, dan melekat kuat. Habitat sisik naga ini biasanya di dahan pohon yang lingkungan sekitarnya lembab.Tumbuhan ini dapat ditemukan di seluruh daerah Asia tropik, tumbuh liar di hutan, di ladang, dan tempat-tempat lainnya pada daerah yang agak lembab mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dpl.

Sisik naga (Drymoglossum piloselloides [L.] Presl.), merupakan tumbuhan yang menumpang pada pohon lain (epifit), tetapi bukan parasit karena dapat membuat makanan sendiri. Daun yang satu dengan yang lainnya tumbuh dengan jarak pendek. Bertangkai pendek, tebal berdaging, berbentuk jorong atau jorong memanjang, ujung tumpul atau membundar, pangkal runcing, tepi rata, permukaan daun tua gundul dan berambut jarang pada permukaan bawah, serta berwarna hijau sampai kecoklatan. Daunnya ada yang mandul dan ada yang berspora. Sisik naga dapat diperbanyak dengan spora dan pemisahan akar.

Sistematika tanaman:

Divisio : Pteridophyta
Classis : Pteridopsida
Ordo : Polypodiales
Familia : Polypodiaceae
Genus : Drymoglossum
Spesies : Drymoglossum piloselloides Presl. (Anonimc, 2007)

Pada waktu penulis kecil jenis tanaman ini sering dipakai untuk mainan “pasar-pasaran”, . Ukuran daun yang berbentuk bulat sampai jorong hampir sama dengan uang logam picisan sehingga dinamakan picisan dan sering dipakai anak-anak sebagai “uang-uangan” pada permainan mereka. Kadang pada waktu lotisan (rujakan) juga dimakan dengan sambal, rasanya yang sedikit asam manis dan terasa dingin seperti tanaman lidah buaya bahkan kalau mencucinya kurang bersih kulit ari luarnya sedikit terasa pahit.

Tanaman ini di daerah kota besar seperti Jakarta sudah sangat sulit ditemukan, di samping terbatasnya habitat pohon tua juga karena suhu udara yang panas sudah tidak cocok lagi dengan jenis tumbuhan ini. Namun begitu sebetulnya ini merupakan salah satu jenis herbal yang mempunyai manfaat untuk pengobatan. Di dalam dunia pengobatan cina tanaman ini dikenal dengan nama, Bao Shu Lian, ini khasiatnya sebagai antiradang, penghilang nyeri (analgesik), pembersih darah, penghenti perdarahan (hemostatis), memperkuat paru-paru, dan sebagai obat batuk (antitusif). Sisik Naga ini juga biasa digunakan untuk mengatasi gangguan luka di sekitar mulut itu (sariawan).

Kandungan Sisik Naga

Sisik naga juga mengandung Minyak Atsiri, Sterol (Triterpen), Fenol, Flavonoid, Tanin, dan gula. Berkhasiat sebagai antiradang, antitoksik, peluruh dahak, pencahar (laksan), dan menghentikan pendarahan.

Indikasi
Khasiat daun yang digunakan untuk pengobatan:
Gondongan (parotitis)
TBC Kulit dengan pembesaran kelenjar getah bening (skrofuloderma)
Sakit kuning (jaundice)
Sukar buang air besar (sembelit), sakit perut
Disentri
Kencing nanah (gonore)
Batuk, abses paru-paru, TB Paru-paru disertai batuk darah
Perdarahan seperti luka berdarah, mimisan, berak darah, muntah darah, perdarahan pada perempuan.
Rematik
Keputihan (leukore)
Kanker payudara

Bagian yang dapat digunakan untuk pengobatan adalah daun atau seluruh herba baik dalam bentuk segar ataupun yang telah dikeringkan

Pengobatan
•Untuk obat yang diminum : Cuci bersih 15-60 g daun sisik naga, lalu rebus dan minum air rebusan tersebut setelah disaring.
•Untuk pemakaian luar : Gunakan air rebusan herba segar untuk mencuci bagian tubuh yang terkena penyakit kulit, atau berkumur bagi penderita sariawan dan radang gusi. Atau bisa juga dengan membubuhkan herba segar yang telah digiling sampai halus ke bagian yang sakit pada penyakit kulit, seperti kudis, kurap, radang kulit bernanah, radang kuku, atau luka berdarah

baca hasil UJI SITOTOKSIK

Sunday, February 19, 2012

CLERET GOMBEL SI CICAK TERBANG

Di desaku dulu ketika masih rimbun oleh pepohonan selain terdengar kicauan berbagai jenis burung juga sering dijumpai si cicak terbang alias Cleret Gombel. Reptile ini dikenal dengan nama ilmiah Draco volans Linnaeus, 1758. Nama lokalnya di antaranya adalah cekibar (Betawi), hap-hap (Sunda), dan celeret gombel atau klarap (Jawa). Dalam bahasa Inggris disebut gliding lizards atau flying dragon.

Hewan ini menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau, Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur. Disebut Cicak terbang karena ukurannya hanya sedikit lebih besar daripada cicak, walaupun kalau kita amati lebih mirip dengan Bunglon karena kulitnya terlihat kasar dan bergaris-garis hanya saja postur tubuhnya lebih kecil dibanding dengan Bunglon.

Reptil ini kelihatan aktif berburu serangga maupun mencari pasangannya ketika bersamaan matahari mulai beranjak naik yaitu sekitar jam 10.00 pagi. Kantong dagu (seperti gombel/kain) yang berwarna kuning atau biru cerah sering sesekali terlihat memanjang ke depan (Celeret). Mungkin kebiasaan unik menarik dan menjulurkan kantong dagu dengan gerakan cepat yang istilah Jawanya Celeret/Cleret inilah yang kemudian jadi nama unik hewan ini, selain disebut sebagai si Cicak Terbang. Walaupun kalau kita amati sebetulnya reptil ini tidak betul-betul terbang melainkan meluncur layaknya gantole dari pohon ke pohon. Cleret Gombel yang akan meluncur pindah ke pohon lain biasanya dia akan memanjat ke dahan-dahan yang lebih tinggi kemudian melompat sambil mengembangkan sayap yang berupa kulit di sekitar perut dan dada.

Klasifikasi ilmiah

Filum: Chordates
Upafilum:Vertebrata
Kelas:Reptilia
Ordo:Squamata
Upaordo:Sauria
Superfamili:Acrodonta
Famili:Agamidae
Upafamili:Draconinae

Genus:Draco
Spesies:D. volans
Nama binomial Draco volans


Cleret Gombel ini belum termasuk reptile yang dilindungi, akan tetapi di desa-desa perbatasan dengan kota Yogyakarta sudah sulit menemukan Cicak Terbang ini. Berbeda dengan Cicak yang masih dapat bertahan hidup dengan merayapi tembok-tembok rumah, sedangkan Cicak Terbang hanya menyukai pepohonan tinggi yang saat ini di desa-desa pun juga jarang ditemui.

Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama. Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan moncong.

Ciri-ciri

Kadal yang berukuran agak kecil, panjang total hingga 200 mm. Patagium (‘sayap’) berupa perpanjangan enam pasang tulang rusuk yang diliputi kulit. Sisi atas patagium dengan warna kuning hingga jingga, berbercak hitam. Sisi bawah abu-abu kekuningan, dengan totol-totol hitam.

Kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkerinyut seperti kakek-kakek; dengan kantung dagu berwarna kuning (jantan) atau biru cerah (betina), dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher. Rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mata khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol. Binatang ini memiliki ekor sekitar 1½ kali panjang tubuh; berbelang-belang di ujung, dengan sisik-sisik yang berlunas kuat menjadikannya nampak bersegi-segi.

Friday, January 27, 2012

MISTERI GARENGPUNG DAN KINJENG TANGIS

Gareng Pung atau Kinjeng Tangis merupakan salah satu serangga yang menjadi indicator kestabilan ekosistem pedesaan, masyarakat Jawa sering disebut “Kinjeng Tangis” atau “Tonggeret” karena suaranya yang lebih menyerupai sayatan-sayatan kepiluan. Saat ini di desa-desa sekitar kota Yogyakarta serangga ini sudah sulit diketemukan karena rusaknya habitat tempat tinggal mereka. Berbagai jenis obat pebasmi serangga dan juga penebangan pohon-pohon perindang di sawah, ladang maupun sekitar pekarangan rumah masyarakat pedesaan diduga ikut andil menyempurnakan kemusnahan serangga ini.

Kinjeng Tangis, Tonggeret atau biasa disebut Cengreret adalah sebutan untuk segala jenis serangga dari ordo Hemiptera, subordo Cicadomorpha. Nama Gareng pung biasanya oleh orang Jawa digunakan untuk menyebut jenis dari mereka yang posturnya lebih besar daripada Kinjeng Tangis. Serangga ini mulai bisa terbang setelah berusia 17 tahun lebih 3 hari. Setelah selama tepat 17 (tujuh belas) tahun mereka hidup sebagai larva di dalam tanah. Kinjeng tangis menghabiskan waktunya selama 17 (tujuh belas tahun) di dalam tanah dengan tetap mengandalkan lemak-lemak dan protein di dalam tubuhnya. Hanya dalam waktu 3 (tiga) hari setelah mereka keluar dari tanah, mereka berubah menjadi serangga sempurna dengan bulu-bulu yang kokoh.

Menandai Bau Getah
Secara naluri serangga baru ini akan memperjuangkan kelangsungan generasinya dengan kawin, bertelor, untuk penciptaan larva-larva baru. Larva baru akan juga survive selama 17 tahun di dalam tanah seperti generasi sebelumnya.

Menurut beberapa penelitian biologi yang telah dilakukan terhadap serangga ini, jangkrik pohon akan mampu menghitung tepat 17 tahun masa survivenya dengan menandai bau getah akar pohon di sekitarnya. Mereka sangat mampu membedakan usia pohon yang ditumpanginya. Ini juga sekaligus menjadi jawaban tentang kepunahan mereka, terlebih karena banyak pohon yang sudah ditebang sebelum masa usia larva.

Saat serangga ini mencapai tahap dewasa, keluar dari bawah permukaan tanah untuk melakukan ritual musim kawin. Seusai kawin, betina meletakkan telur di tanah, serangga ini mati. Tonggeret kadang-kadang dikira belalang atau lalat besar, meskipun mereka tidak mempunyai pertalian keluarga yang dekat. Tonggeret mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.

Serangga ini mempunyai mata yang kecil dan terpisah jauh di kepalanya dan biasanya juga memiliki sayap yang tembus pandang. Tonggeret hidup di daerah beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara serangga lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan bakat akustiknya yang luar biasa (dan seringkali sangat mudah dikenali). Di Indonesia, suara tonggeret yang nyaring akan muncul di akhir musim penghujan yang biasanya jatuh sekitar pertengahan bulan April, petani desa biasanya menyebut datangnya awal musim kemarau ini dengan sebutan musim “Mareng”, karena ditandai dengan ramainya suara Gareng pung dan Kinjeng tangis yang saling bersahut-sahutan.

Taksonomi

Di dunia ada sekitar 3.000 spesies tonggeret, meskipun banyak yang belum dideskripsikan. Tonggeret dikelompokkan dalam dua familia: Tettigarctidae (di bahas di tempat lain) dan Cicadidae. Ada dua spesies Tettigarctidae yang telah punah, satu di Australia selatan, dan yang lainnya di Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam subfamilia Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae. Mereka terdapat di semua benua kecuali Antarktika.

Corak Bulu dan Suara
Setelah menjadi serangga, Kineng Tangis atau Tonggeret yang bernama asli Cicada ini akan memiliki mata yang kecil dan jauh dari permukaan kepalanya, bulunya berwarna transparan dengan corak guratan khusus dan sedikit berbeda antara bulu tonggeret jantan dan betina. Corak bulu ini yang kemudian akan membedakan bunyi nyanyian mereka.

Ketika Tonggeret jantan “bernyanyi” bunyinya sangat khas dan keras. Baik tempo maupun volume bunyi yang dihasilkan Tonggeret jantan akan tergantung pada suhu udara di sekitarnya, semakin panas maka temponya semakin cepat serta volumenya juga semakin kencang. Frekuensi suara tonggeret ini memang sangat khas, sehingga pada saat tertentu bisa mencapai getaran frekuensi 125 desible (suara yang mampu di dengar oleh penderita tuli pada umumnya).

Suara tonggeret jantan terutama bertujuan untuk memancing perhatian tonggeret betina, dan mengusir tonggeret jantan lainnya. Bunyi yang dihasilkan tonggeret betina lebih menyerupai petikan jari tangan, namun itu cukup bagi Tonggeret jantan untuk mengikuti arah suaranya. Setelah masa ritual perkawinannya, tonggeret betina segera bertelor, dan meletakkan telor-telor mereka di bawah tanah, setelah itu mereka akan segera mati.

Tonggeret mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.
Demikian kisah cicada, atau kinjeng tangis, atau garengpung, atau tonggerek, dan apapun nama mereka, yang telah melewati sejarah hidup membujang selama belasan tahun untuk hanya menikmati masa perkawinan mereka selama beberapa minggu saja sebelum kemudian mati tertelan bumi.

Tuesday, January 17, 2012

MITOS SAMBAR LILIN

Sambar Lilin (Sunda), Samber Iler (Jawa) merupakan sejenis kumbang cantik yang berwarna hijau metalik. Kumbang ini memang tidak berwarna hijau polos, tetapi juga ada sedikit warna merah pada kedua ujung sayapnya maupun ujung perutnya. Dan yang menjadi unik warna hijau ini akan berubah menjadi kebiru-biruan apabila sudut pandang kita sedikit di geser, seperti model cat bunglon yang biasanya dipakai mobil-mobil modif.

Namun serangga yang cantik ini saying kurang dikenal luas dalam dunia ilmu pengetahuan, saya sendiri sudah mencari dari beberapa sumber belum menemukan nama latin dari Sambar Iler ini (mungkin karena bukan ahlinya).

Pada tahun 80an serangga ini sangat mudah diketemukan di sekitar pekarangan rumah dan biasanya serangga ini senangnya berada dipohon-pohon yang tidak banyak daunnya atau pohon yang daunnya sedang berguguran. samber lilin selalu ditemukan di pohon randu atau pohon kapuk, meski banyak juga ditemui di pohon lainnya.Pada musim kemarau, Sambar Lili kadang berbunyi nyaring mirip suara Gareng Pung (Tonggerek), kemungkinan hal ini dilakukan untuk memanggil pasangannya. Namun sekarang serangga ini sudah sulit diketemukan, walaupun belum termasuk punah, namun banyak orang yang tidak mengenalnya baik nama apalagi wujud serangganya. Memang sayang belum sempat digali informasinya, tetapi serangga ini sudah terlanjur susah untuk ditemui.

SUSUK SAMBAR ILER / LILIN

Namun begitu bagi seorang praktisi Susuk yang membidangi Pemasangan susuk, samber lilin adalah bahan yang laris manis. meski ada beberapa macam sarana menyusuk, ada emas, intan, berlian, baja, tulang, lidi aren, bunga, samber lilin dan sebagainya. Tapi dari sekian banyak media susuk ampuh adalah samber lilin.

Warnanya yang menarik hijau kuning mengkilap mempunyai daya magis alami yang luar biasa untuk kecantikan, seri wajah, ketampanan, wibawa, awet muda, dan pengasihan
Selain untuk bahan susuk samber lilin juga dapat dijadikan sarana ajimah. apabila sudah di isi (blezing) daya supranatural (daya gaib) dengan membangkitkan aura alaminya maka daya magis alami untuk mendongkrak kecantikan dan ketampanan seseorang.

Penulis juga belum tahu faktor penyebab kelangkaan serangga ini akibat pengaruh ketenaran di dunia mistis atau karena lingkungan yang rusak. Penulis hanya bisa berharap sebetulnya akan lebih cantik kalau serangga ini tetap masih bisa menghiasi pohon-pohon di sekitar lingkungan kita.