Monday, December 10, 2012

RUMPUT ALANG-ALANG

Alang-Alang siapa yang tidak kenal dengan jenis gulma yang satu ini, baik yang tinggal di kota apalagi di pedesaan pasti gampang menemukannya. Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Gulma ini dengan segera menguasai lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan lain-lain. Di tempat-tempat semacam itu alang-alang dapat tumbuh dominan dan menutupi areal yang luas. Sampai taraf tertentu, kebakaran vegetasi dapat merangsang pertumbuhan alang-alang. Pucuk-pucuk ilalang yang tumbuh setelah kebakaran disukai oleh hewan-hewan pemakan rumput, sehingga lahan-lahan bekas terbakar semacam ini sering digunakan sebagai tempat untuk berburu. 

Alang-alang menyukai daerah yang kering dan gembur, hanya di tanah-tanah yang becek, terendam, atau yang senantiasa ternaungi, alang-alang tidak mau tumbuh. Dengan memanfaatkan kecepatan tumbuh, jalinan rimpang alang-alang di bawah tanah, serta tutupan daunnya yang rapat, dapat memberikan manfaat untuk melindungi lahan-lahan terbuka yang mudah tererosi. 

Alang-Alang merupakan anggota suku rumput-rumputan (Poaceae) berdaun tajam yang pada umumnya tumbuh liar di hutan, ladang, lapangan berumput, dan pada tepi jalan pada daerah kering yang mendapat sinar matahari. Tanaman alang-alang biasanya tumbuh tegak dengan ketinggian sekitar 30 - 180 cm, berbatang padat, dan berbuku-buku yang berambut jarang. Daun berbentuk pita, tegak, berujung runcing, tepi rata, berambut kasar dan jarang. Warna daun hijau, panjang 12-80 cm, dan lebar 5-18 mm. Tumbuhan ini dapat hidup pada ketinggian 1 - 2.700 meter di atas permukaan laut. 

Perbungaan berupa bulir majemuk dengan panjang tangkai bulir 6-30 cm. Panjang bulir sekitar 3 mm, berwarna putih, agak menguncup, dan mudah diterbangkan oleh angin. Pada satu tangkai terdapat dua bulir bersusun, yang terletak diatas adalah bunga sempurna, sedang yang dibawah adalah bunga mandul. Pada pangkal bulir terdapat rambut halus yang panjang dan padat berwarna putih. Biji jorong dengan panjang sekitar 1 mm berwarna coklat tua. 

Alang-alang ini mempunyai banyak nama, antara lain di Sumatera disebut laturui, naleueng (Aceh), jih (Gayo), lalang, alang-alang (Melayu), rih (Batak), oo (Nias), hilalang, alang (Minangkabau), lioh (Lampung). Jawa: alang-alang, langangan, kambengan (Jawa), eurih (Sunda), kabut alang (Madura). 

Kalimantan: tingen, halalang. Sulawesi: reja (Makassar), deya (Bugis), padanga (Gorontalo), padongo, padang (Sulawesi Utara). Nusa Tenggara: witsyu (Sumbawa), kii (Flores), ambenan (Buru), re (Sasak). Maluku: kuso (Ternate), ige (Halmahera), kusu-kusu (Tiodore). Papua: ruren, gombur, mesofou, ukua, mentahoi, matawe, urmamu, dan omasa

Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass, speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi daunnya yang tajam melukai. 

Sifat Dan Khasiat Tanaman Alang-Alang : 
Rasa akar alang-alang manis, bersifat sejuk, masuk meridian paru-paru, lambung dan kandung kemih. Simplisia ini bersifat tonik, pereda demam (anti piretik), peluruh kencing (Diuretik), menyejukkan darah untuk menghentikan perdarahan (hemostatik), dan menghilangkan rasa haus. Tunas muda berkhasiat untuk peluruh kencing (Diuretik). 

Kandungan Kimia Tanaman Alang-Alang : 
Akar dan batang alang-alang mengandung manitol, glukosa, sakarosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrene, cylindol A, graminone B, imperanene, stigmasterol, campesterol, beta-sitosterol, fernenol, arborinone, arborinol, isoarborinol, simiarenol, anemonin dan tanin. 

Akar Alang-alang digunakan untuk pengobatan : 

  • Bengkak (Edema) karena radang ginjal akut, infeksi saluran kencing. 
  • Kencing sedikit - Bengkak karena terbentur (memar) 
  • Perdarahan akibat panasnya darah (blood heat) seperti mimisan (epistaksis), muntah darah, batuk darah, urine berdarah. 
  • Wasir (hemoroid) - Demam disertai haus, batuk, flu, sesak 
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) - Sakit kuning (jaundice) 


Bunga Alang-alang digunakan untuk mengobati Batuk darah dan mimisan akibat penyakit paru. 

Cara Pemakaian : 

  • Untuk obat yang diminum : Rebus akar alang-alang kering (15-30 g), bila menggunakan yang masih segar maka jumlahnya kira-kira 30-60 g, sedang untuk bunga sekitar 5-10 mg, dan tunas muda 5-10g. Bisa juga akar ditumbuk dan diperas airnya, atau yang kering digiling untuk dijadikan bubuk. 
  • Untuk pemakaian luar : bulir bunga berikut tangkainya digiling halus dan dibubuhi pada luka atau disumbatkan ke hidung untuk menghentikan perdarahan.

Thursday, December 6, 2012

DAUN GINGSENG

Daun Gingseng berbeda dengan akar gingseng (Panax schinsen) Orang Korea menyebut ginseng sebagai insam. Di Korea, Panax schinsen liar yang tumbuh di hutan-hutan lebat pegunungan dinamakan sansam (ginseng gunung). Sansam adalah ginseng liar, sementara insam adalah ginseng yang dibudidayakan.

Di Indonesia terdapat juga tumbuhan yang memiliki khasiat sama dengan ginseng yaitu ginseng Jawa atau som/kolesom jawa. Nama ilmiahnya yang tepat penulis sendiri belum tahu mungkin Talinum crassifolium, Talinum fruticosum, atau Talinum triangulare. Kalau menurut FOBI berdasarkan foto yang dimuat daun gingseng ini nama latinnya Talinum fruticosum, sedangkan nama umum Indonesia: Krokot Belanda; Thailand: Som chin; Inggris: Ceylon spinach, Fame flower, Philippine: spinach, Potherb fame flower, Suriname: purslane, Sweetheart, Waterleaf.

Di dalam pengobatan tradisional akarnya dicampur dengan berbagai jenis obat dan yang paling terkenal dalam bentuk campuran anggur (Anggur Kolesom). Kajian mengenai khasiat dan kegunaanya telah dilakukan untuk menjadikan kolesom sebagai ginseng Indonesia.

Memang tanaman herba menahun ini bukanlah genus Panax, tetapi seperti ginseng yang digunakan untuk obat-obatan. Daun ginseng merupakan tanaman perdu yang tumbunya semi menjalar dan bisa mencapai tinggi 60 cm. Batang bercabang di bagian bawah dan pangkalnya mengeras. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai pendek, bundar telur sungsang, tepi rata, ujung dan pangkal runcing. Perbungaan majemuk dalam malai di ujung tangkai, berbentuk anak payung menggarpu yang mekar di sore hari, warnanya merah ungu. Buahnya buah kotak, diameter 3 mm, bijinya kecil, hitam, bulat gepeng.

Daun berdaging berwarna hijau terang atau agak keputihan; batang bulat sukulen dan berdiri tegak, sedangkan pangkalnya agak mengeras. Daunnya tunggal, tunas-tunas cabang akan muncul pada ketiak daun, kedudukan daun berhadapan atau bersilangan, bertangkai pendek, bulat telur sungsang, tepi daun rata dengan tulang daun menyirip, ujung dan pangkal runcing,. Permukaan daun lembut dan licin, agak berdaging. Permukaan bagian atas berwarna hijau terang, licin dan gundul, sedang permukaan bagian bawah hijau muda. Perbungaannya majemuk dalam mulai di ujung tangkai, berbentuk anak payung menggarpu yang mekar pada sore hari. Bunganya kecil dengan daun mahkota merah ungu berjumlah 5 helai dan berbentuk oval.

Tanaman sangat mudah dikembang biakan, baik dengan biji maupun setek batang. Biasanya akarnya tanaman ini bisa mengembung jika dibiakkan melalui biji. Asal medianya gembur, cukup humus dan tidak tergenang air, tanaman ini bisa tumbuh subur. Kolesom jawa juga cantik di tanam dalam pot sebagai tanaman hias karena bentuk daun dan bunganya menarik.

Selain itu, daun ginseng jawa dapat menjadi obat untuk mengatasi masalah penyakit kanker payudara, keputihan, memperbanyak asi, dan lain lain. kita dapat menggunakannya dengan memilih daun ginseng jawa yang tidak terlalu tua, agar tidak terlalu pahit rasanya. Daun ginseng kaya akan vitamin A, saponin dan flavonoid, juga mengandung steroid dan minyak asiri yang berkhasiat meningkatkan nafsu makan (stomakik), selain itu ginseng jawa atau som jawa merupakan salah satu jenis tanaman yang dikelompokkan kedalam kelompok ginseng yang diyakini bermanfaat untuk meningkatkan vitalitas tubuh dan daya seksual (afrodisiak).

Berdasarkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa ginseng jawa mengandung senyawa turunan saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa-senyawa lain yang secara fisiologis dapat melancarkan sirkulasi atau peredaran darah pada system saraf pusat atau sirkulasi darah tepi. Obat tradisional jenis afrodisiak seperti ginseng jawa juga digunakan untuk meningkatkan stamina.

Akar atau umbi ginseng jawa mengandung zat-zat penting seperti saponin dan flavonoid yang bersifat manis dan netral serta berkhasiat menguatkan paru-paru, tonikum, dan afrodisiak.

Sebetulnya semua bagian tanaman ini bisa dimakan, mulai dari akar, bunga hingga daunnya, tetapi ingat, terlalu kelebihan mengkonsumsi daun ginseng jawa, bisa mengakibatkan keracunan, bahkan kematian. Penulis sendiri pernah merasakan keracunan daun gingseng ini, perasaan mual dan sedikit pusing. Jika anda sudah terkena, atasi dengan minum kopi keras, dan istirahat yang cukup di tempat terbuka.

Bila anda berminat dengan mudah bisa didapatkan di beberapa supermarket terdekat. Kebanyakan orang menyukai daun gingseng ini untuk ditumis, sup maupun sebagai campuran nasi goreng, tetapi anda juga dapat langsung menjadikannya sebagai lalapan.

Referensi:

FOBI, Wikipedia, anthropogen, farmasi

Tuesday, December 4, 2012

BEDA CABE JAWA DENGAN CABAI LOMBOK

Kebanyakan orang tahu istilah Cabai atau Lombok tetapi kalau Cabe mungkin sering dengar sebagai salah satu jenis jamu yaitu Cabe Puyang. Istilah Cabai dengan Cabe dalam hal ini berbeda. Cabai jawa, cabai jamu, lada panjang, atau cabe saja (Piper retrofractum Vahl. syn. P. longum) adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Dikenal pula sebagai cabai solak (Madura) dan cabia (Sulawesi). Cabean, cabe alas, cabe areuy, cabe jawa, c. sula (Jawa),; Cabhi jhamo, cabe ongghu, cabe solah (Madura).; Lada panjang, cabai jawa, cabai panjang (Sumatera).; Cabia (Makasar). Long pepper (Inggris);

Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600m di atas permukaan laut). Ciri-ciri dari Cabai jawa :

Tumbuhan menahun, batang percabangan liar, tumbuh memanjat; melilit, atau melata dengan akar lekatnya, panjangnya dapat mencapai 10 m. Percabangan dimulai dari pangkalnya yang keras dan menyerupai kayu.. Ciri-ciri daun bulat agak lonjong, pangkal daun agak berbentuk jantung dan juga membulat, ujung daun runcing dengan bintik-bintik kelenjar. buahnya majemuk bulir, bentuknya bulat panjang atau silindris, dan ujungnya mengecil. Ukuran daun panjangnya 8,5 - 30 cm, lebar 3 - 13 cm, hijau. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak atau sedikit merunduk, bulir jantan lebih panjang dari bulir betina. Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 2 - 7 cm, garis tengah 4 - 8 mm, bertangkai panjang, Buah yang belum tua berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah, serta lunak dan manis. Biji bulat pipih, keras, cokelat kehitaman. Perbanyakan dengan biji atau setek batang.

BEDA LADA, CABE JAWA DAN KEMUKUS

Sepintas, masyarakat sulit untuk membedakan tanaman lada, cabe jawa dan kemukus. Tiga tumbuhan penghasil rempah ini memang sulit dibedakan satu sama lain, namun ketiganya mudah dibedakan dari sirih. Bahkan lada dengan kemukus benar-benar sulit dibedakan oleh mata awam, termasuk buahnya.

Cabai jawa baru mudah dibedakan dari kemukus dan lada, dari bentuk buahnya. Buah lada dan kemukus berupa butiran hijau berdiameter 0,5 cm, yang terkumpul dalam satu tangkai (malai, dompolan). Dompolan lada, lebih panjang dan lebih rapat ditempeli buah, dompolan kemukus pendek dengan buah lebih jarang. Buah cabai jawa, sebenarnya sama dengan lada dan kemukus, terdiri dari butiran-butiran yang menempel pada satu tangkai. Namun butiran buah cabai jawa menyatu hingga tampak hanya sebagai satu buah utuh, berdiameter 1 cm, dengan panjang 5 cm.

Sepintas buah cabai jawa mirip dengan es lilin mini, atau buah anthurium, dengan permukan berbintik-bintik, yang menandakan keberadaan buah/biji. Buah cabai jawa berwarna hijau dan akan berubah menjadi merah ketika sudah masak. Lada, kemukus, dan cabai jawa, berdaging buah sangat tipis tetapi manis. Burung pemakan buah menyenangi biji tanaman rempah ini. Setelah terfermentasi dalam perut burung, biji akan dikeluarkan utuh bersama fases, dan tumbuh di lokasi yang jauh dari induk mereka. Cabai jawa biasa dipanen ketika berwarna hijau kekuningan, dan tidak menunggu sampai benar-benar merah. Setelah dipanen, buah dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Sebelum bangsa Eropa menemukan Benua Amerika, cabai jawa merupakan mata dagangan yang sangat penting. Peradaban Jepang, Cina, India, Timur Tengah dan Eropa, sangat tergantung dengan komoditas cabai jawa sebagai salah satu bahan rempah, bersama dengan cengkeh, pala, kayumanis, kapulaga, kemukus dan lada.

Bahkan lada hitam, yang merupakan biji Piper nigrum muda utuh dikeringkan, sering dianggap sama dengan cabai jawa. Masyarakat Eropa, ketika itu memang menganggap cabai jawa, dan lada hitam sebagai komoditas bumbu yang bisa saling menggantikan. Bahkan para ahli botani, ketika itu yakin bahwa cabai jawa, kemukus dan lada hitam berasal dari tumbuhan yang sama. Justru lada putih diperkirakan merupakan spesies tanaman tersendiri, yang beda dengan lada hitam, kemukus dan cabai jawa.

Beda dengan lada, pala, cengkeh, kapulaga, dan kemukus, yang terutama diharapkan aromanya. Cabai Chilli Papper, bisa menghasilkan rasa pedas beberapa kali lipat dibanding cabai jawa. Di Jawa Tengah, istilah cabé, jelas mengacu pada cabai jawa. Sebab cabai sebagai bumbu dapur disebut lombok. Salah satu resep masakan yang populer menggunakan cabai jawa adalah gulé jamu atau gecok kepala/kaki kambing. Gulé jamu atau gecok, adalah gulai kepala dan kaki kambing, yang bumbunya ditambah dengan cabai jawa. Bumbu gulai kambing (jawa) adalah bawang merah/putih, cabai merah/rawit, lada, pala, cengkeh, kapulaga, sereh, garam, dan santan kelapa. Khusus gulé jamu atau gecok, masih ditambah dengan cabai jawa.

BUDIDAYA

Meskipun menghasilkan biji, cabai jawa tidak pernah dibudidayakan dengan benih generatif. Benih cabai jawa selalu berupa stek, rundukan, dan pemisahan anakan. Sama dengan lada dan kemukus, benih stek paling banyak digunakan dalam budidaya cabai jawa. Ada dua macam bahan stek, yakni stek cabang (ruas) dan stek pucuk (tunas). Cabang yang digunakan sebagai bahan stek, harus berupa ruas produktif, yang tunasnya masih hidup. Ruas tua yang tunasnya sudah mati, tidak cocok digunakan sebagai bahan stek.

KANDUNGAN KIMIA

Buah cabe jawa mengandung zat pedas piperine, chavicine, palmetic acids, tetrahydropiperic acids, 1-undecylenyl-3, 4-methylenedioxy benzene, piperidin, minyak asiri , N-isobutyldeka-trans-2-trans-4- dienamide, dan sesamin. Piperine mempunyai daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf pusat. Bagian akar mengadung piperine, piplartine, dan piperlonguminine.

KHASIAT DAN KEGUNAAN

Buah cabai jamu memiliki khasiat sebagai obat sakit perut, masuk angin, beri-beri, rematik, tekanan darah rendah, kolera, influenza, sakit kepala, lemah syahwat, bronkitis, dan sesak napas. Karena itu, cabai jamu banyak dibutuhkan sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dan obat pil/kapsul modern serta bahan campuran minuman. Rasa pedasnya berasal dari senyawa piperin, dengan kandungan sekitar 4,6 persen. Salah satu jamu populer yang mengandung cabai jamu adalah cabai puyang, yang dibuat dengan bahan utama cabai jamu dan lempuyang.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Magnoliopsida Ordo: Piperales Famili: Piperaceae Genus: Piper Spesies:P. retrofractum Nama binomial: Piper retrofractum Vahl.

Referensi:

Wikipedia, IPTEKnet, FORAGri

Thursday, November 29, 2012

RERESPO (Tropical Leatherleaf Slugs)

Jenis hewan ini masih dapat ditemukan di daerah pinggiran kota-kota besar, yang masih terdapat lahan yang lembab dan teduh dengan beberapa tanaman semak liar. Bagi yang belum mengetahui jenis hewan ini kebanyakan orang akan takut dan jijik melihatnya apalagi memegang. Asumsi kebanyakan orang Sarasinula ini dikira sama dengan jenis pacet atau lintah darat. Sebenarnya kalau pacet itu masuk Fillum Annelida kelas Clitellata yang semua jenisnya adalah Carnivora, sedangkan untuk Sarasinula termasuk Fillum Mollusca kelas Gastropoda yang kebanyakan termasuk hewan herbivore. Sarasinula nama Jawanya adalah Rerespo, tetapi hewan ini dikenal juga dengan nama Tropical Leatherleaf Slugs dan seperti kebanyakan Mollusca kulitnya tidak tahan terhadap garam dapur. Hewan ini tidak berbahaya hanya saja orang merasa jijik untuk melihatnya. Sarasinula atau Rerespo bertubuh gepeng agak bulat berwarna gelap (kecoklatan) dan berlendir dan kenyal. Tubuh Rerespo panjanya kurang lebih 7 atau 8 cm dengan kulit sedikit tuberculated. Tubuh bagian bawah berwarna putih kepucatan. Walaupun sebetulnya agak berbeda dengan jenis Siput tanpa cangkang tapi hewan ini memiliki kaki unik, yang sangat sempit, spesimen remaja memiliki kaki lebarnya 1mm dan spesimen dewasa memiliki kaki yang lebarnya hanya 4 atau 5 mm. Tentakel kecil dan lebih pendek daripada tentakel bekicot yaitu 2 atau 3 mm, dan mereka jarang melampaui tepi mantel. Siput Rerespo ini menetas dari telur dan yang unik dari spesies ini memiliki beberapa adaptasi untuk hidup dalam kondisi kering yaitu dengan mengecilkan bentuk tubuh sekecil mungkin luas permukaan, dan kaki yang sempit untuk mengurangi penguapan. Sarasinula mencari makanan hampir selalu di malam hari, dan tetap dipersembunyiannya di tanah pada siang hari. Spesimen yang lebih besar kadang-kadang aktif pada siang hari. Siput ini dapat tumbuh dari 0,5 cm menjadi sekitar 4 cm panjangnya dalam 7 bulan.

Referensi: Fobi, eol(Encyclopedia of Life), Wikipedia

Thursday, November 15, 2012

BINAHONG

Binahong (Latin : Bassela rubra linn, Inggris : Heartleaf maderavine madevine,Cina : Deng san chi) adalah tanaman obat yang tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi dan mempunyai banyak khasiat dalam meyembuhkan berbagai macam penyakit ringan maupun berat. Tanaman ini sudah lama ada di Indonesia tetapi baru akhir-akhir ini saja menjadi alternatif bagi sebagian orang untuk dijadikan obat alami untuk menyembuhkan atau mengurangi beberapa penyakit ringan maupun berat.

Tanaman yang konon berasal dari Korea ini dikomsumsi oleh orang-orang Vietnam pada saat perang melawan Amerika Serikat pada tahun 1950 sampai 1970an. Tanaman ini dikenal juga di kalangan masyarakat Cina dengan nama Dheng San Chi dan telah ribuan tahun dikonsumsi oleh bangsa Tiongkok, Korea, Taiwan dll. Bagian daun dari tanaman inilah yang biasanya dijadikan sebagai obat alami selain dari batang dan umbinya. Umumnya masyarakat di negara tersebut juga sudah mengenal tanaman Binahong sebagai tanaman yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit semenjak ratusan tahun yang lalu.

Adapun bagian tumbuhan Binahong yang paling sering digunakan sebagai ramuan obat adalah bagian batang, umbi, dan juga daunnya. Tetapi yang paling sering digunakan untuk ramuan obat adalah bagian daun Binahong. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa dari FMIPA UNY, menemukan bahwa daun Binahong memiliki kandungan antioksidan, asam arkobat, total fenol, dan protein yang cukup tinggi.

Unggul daripada vitamin E Periset lain oleh dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Muhammad Da’i MSi Apt dan Devi Ristian Octavia meneliti kemampuan daun binahong menangkap radikal bebas. Mereka mengekstrak daun binahong dengan pelarut petroleum eter, etil asetat, dan etanol. Dalam uji itu, mereka membandingkan aktivitas penangkap radikal bebas antara binahong dan vitamin E. Nilai IC50 atau nilai penghambatan 50% radikal bebas pada vitamin E sebesar 18,03 µg/ml.

Hasil riset membuktikan nilai IC50 tertinggi adalah ekstrak etanol daun binahong, yaitu 49,29 µg/ml. Artinya kemampuan menangkap radikal bebas ekstrak etanol daun binahong hampir menyamai vitamin E sekalipun. Muhammad Da’i menduga kandungan senyawa aktif pada ekstak etanol daun binahong paling banyak dan aktif. “Etanol merupakan senyawa polar, sedangkan antiradikal umumnya dikarakterisasi oleh gugus senyawa fenolik yang juga bersifat polar, sehingga lebih banyak tersari,” ujar Muhammad Da’i. Dekan Fakultas Farmasi UMS itu menduga senyawa flavonoid yang paling berperan menangkap radikal bebas. Senyawa itu umumnya memiliki struktur fenolik yang bersifat antiradikal. Menurut Muhammad Da’i, binahong sebagai antioksidan memiliki manifestasi klinis yang luas, antara lain mengarah ke antikanker. “Ketika suatu radikal dapat menyebabkan karsinogenesis, antioksidan menghambatnya,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Selain flavonoid, daun binahong juga terbukti mengandung alkaloid, saponin, terpen, dan polifenol.

Peneliti di Universiti Malaysia Pahang, Sri Murni Astuti, membuktikan daun binahong berpotensi mengobati diabetes mellitus, hepatitis, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan pembekuan darah, serta stres mental dan fisik. Itu karena daun binahong mengandung saponin yang tinggi, yakni 28,14 mg per g daun. G.M.Gundidza, periset Fakultas Ilmu Kesehatan, University of Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan, meriset manfaat lain daun binahong, sebagai afrodisiak. Riset di berbagai lembaga itu memperkuat keampuhan binahong untuk mengobati berbagai penyakit. (Susirani Kusumaputri)

Cara Pakai Pengolahan daun Binahong untuk dijadikan obat alami atau obat tradisional biasanya dilakukan dengan cara mencuci daun terlebih dahulu hingga bersih, kemudian daun yang sudah bersih dicampur dengan air. Selanjutnya daun Binahong yang sudah dicampur dengan air diremas-remas kemudian air yang didapatkan disaring dan sudah dapat langsung dikonsumsi. Bisa juga dikonsumsi dengan cara di jus dicampur dengan buah-buahan serta madu Anjuran saya cukup dikonsumsi 2 lembar daun pagi dan 2 lembar malam. Pagi dalam keadaan perut kosong dan malam kira-kira 2 jam setelah makan malam dan usahakan setelahnya untuk tidak makan makanan yg berat.

Divisi:Magnoliophyta Kelas:Magnoliopsida Ordo:Caryophyllales Famili:Basellaceae Genus:Anredera Spesies:Anredera cordifolia (Ten.) Steenis.

Referensi: Wikipedia, Herbal Binahong