Monday, June 4, 2012

MITOS EMPRIT GANTHIL

Burung ini dimitoskan sebagai burung iblis, walupun sebenarnya tidak demikian. Sebetulnya yang seram dari burung ini hanya karena suaranya kalau kita perhatikan memang sekilas, seperti suara "endi bocahe, endi bocahe, endi bocahe" .. (mana bocahnya.. mana bocahnya) Penulis dahulu sering menggunakan suara Emprit Ganthil ini untuk mendiamkan anak yang sedang menangis dan kebetulan burung Emprit Ganthil ini sedang berkicau, hasilnya efektif si anak jadi diam dan ketakutan (tetapi kami menyarankan jangan ditiru perbuatan ini). Selain itu Emprit Ganthil juga berbunyi “tiit..tiiiit..tiiiiiiiit..thiiiiiiiiir…..” dengan suara yang melengking tinggi yang kemudian menurun di akhir kicauannya dan kadang bersahutan dengan Emprit Ganthil lainnya.

Burung Emprit Gantil ini biasanya selalu bertengger di pucuk-pucuk pohon yang paling tinggi sambil kadang burung ini berbunyi baik ditengah malam, pagi hari, siang atau sore. Bentuknya seukuran burung kutilang panjang tubuh (dari ujung paruh hingga ke ujung ekor) sekitar 21 cm dengan postur lebih langsing dan berwarna kecoklatan dengan garis-garis kehitaman coraknya mirip dengan burun elang. Burung dewasa berwarna kelabu di kepala, leher dan dada bagian atas. Punggungnya merah kecoklatan dan perutnya kuning jingga. Sisi bawah ekor dengan warna putih di ujung-ujung bulu yang kehitaman. Burung muda berwarna burik; kecoklatan dengan garis-garis hitam di sisi atas tubuh, dan keputihan dengan garis-garis hitam yang lebih halus. Burung betina kadang-kadang berwarna seperti burung muda, sehingga mungkin terkeliru dengan burung Wiwik lurik (C. sonneratii) yang berkerabat. Bedanya, Wiwik lurik memiliki alis dan pipi keputihan. Iris mata berwarna merah. Paruh kehitaman di atas dan kekuningan di bawah. Kaki kuning.

Regenerasi Emprit Gantil tidak mau mencari jalan susah dalam mengerami telur telurnya, dia menitipkan telornya kepada induk Prenjak untuk ditetaskan, dan telur Prenjak sendiri di buang dan dibiarkan mati. Suatu ketika anak anak Emprit Gantil tumbuh besar, dia akan lebih besar dari induk Prenjak itu sendiri, dan ketika itu induk Prenjak baru menyadari bahwa anaknya ditukar. Induk Prenjak akan sebisa mungkin mengejar dan membunuh Prit Gantil karena mereka telah membunuh anak-anaknya. Dengan berkurangnya burung Prenjak di habitat aslinya dikawatirkan juga menurunkan populasi burung ini, selain diburu karena dianggap burung kematian. Padahal masalah kematian sebenarnya hanya Tuhan yang tahu dengan ada dan tidaknya burung tersebut kematian yang telah ditentukan Tuhan akan tetap terjadi.

Burung Emprit Ganthil juga dikenal dengan nama Sit Uncuing, Wiwik Kelabu atau Kedasih merupakan anggota suku kangkok (Cuculidae). Di musim berpasangan, burung-burung ini aktif berkejaran sambil bersuara pendek, “wriiik, ..wrik ..wri-wri-wri”. Burung ini memangsa aneka jenis serangga, laba-laba, dan juga buah-buahan kecil. Wiwik kelabu tidak jarang didapati turun ke semak belukar. Di daerah sekitar Bantar Gebang Kota Bekasi Jawa Barat, burung ini masih mudah didengar suaranya, namun untuk melihatnya agak kesulitan karena tempat bertenggernya di ranting pohon yang tinggi.


Jenis dan Sebarannya:
  • Cocomantis merulinus menyebar di Filipina, umum dijumpai di pulau-pulau besar di sana.
  • Cocomantis querulus adalah anak jenis yang paling luas sebarannya. Mulai dari India timur laut, Bangladesh, Cina selatan, Myanmar,Thailand, Kamboja, Laos dan Vietnam. Merupakan pengunjung musim panas pada kebanyakan lokasi penyebarannya di Cina.
  • Cocomantis threnodes menyebar di Semenanjung Malaya, Sumatra dan Borneo.
  • Cocomantis lanceolatus menyebar di Jawa, Bali dan Sulawesi.Burung Wiwik perut-kelabu (Cocomantis passerinus) dari India dan Srilankasebelumnya dimasukkan sebagai anak jenis dari Wiwik kelabu, namun kini dianggap sebagai jenis yang terpisah.

Status Konservasi Risiko Rendah

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Cuculiformes, Famili Cuculidae, Genus Cacomantis, Spesies Cacomantis Merulinus (Scopoli 1786)

Sumber Referensi:
Wikipedia, FKPSU, FOBI

Sunday, May 27, 2012

ORONG - ORONG SI ANJING TANAH

Penulis sempat kaget ketika bangun pagi di depan pintu kamar bertemu dengan Anjing Tanah yang sedang sekarat, mungkin terkena semprotan obat nyamuk. Hanya saja yang penulis herankan di kota besar seperti Jakarta kok masih terdapat Anjing Tanah padahal denger suara “gonggongannya” saja tidak pernah. Nama Anjing Tanah bukan berarti hewan berkaki empat yang suka berantem dengan kucing, namun Anjing Tanah ini adalah sebangsa serangga dari famili Gryllotalpidae yang dalam bahasa Jawa lebih sering disebut sebagai Orong-Orong atau keredek. Orang Sunda menyebutnya sebagai gaang, dan dalam bahasa Toba lebih dikenal sebagai singke. Binatang yang sering dinamai juga sebagai gangsir tanah ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai mole cricket.

Orong – Oronga merupakan serangga yang kadang-kadang ditemukan dapat berlari cepat ini juga sering pula terbang hingga sejauh 8km dalam musim kawin. Hewan muda memiliki sayap yang pendek. Hewan ini aktif pada malam hari (nokturnal) dan pada musim dingin melakukan hibernasi. Pada musim kawin hewan ini dapat menghasilkan suara melalui mekanisme mirip jangkrik (dengan organ stridulasi), namun dengan suara yang jauh berbeda. Suaranya bersifat monoton, tanpa jeda, dan amat mengganggu pendengaran. Orong - Orong merupakan serangga yang hidup di tanah dengan ciri khas sepasang tungkai depan yang termodifikasi menyerupai cangkul bergerigi. Bagi anjing tanah (orong-orong), tungkai ini berfungsi untuk menggali tanah atau berenang. Anjing tanah adalah hewan yang agak jarang terlihat karena lebih suka bersembunyi dalam lubang dan aktif pada malam hari mencari makan. Orong-Orong membuat sarangnya di dalam tanah seperti gangsir hanya saja sarang Anjing Tanah ini lebih horizontal atau dekat dengan permukaan tanah dibanding dengan sarang gansir.

Selain sepasang tungkai depannya yang besar dan bergerigi, anjing tanah mempunyai bentuk kepala khas yang besar dan bercangkang keras. Hewan ini juga memiliki sepasang sayap kecil. Warna tubuhnya mulai dari kecoklatan hingga hitam dengan panjang tubuh berkisar antara 27-35 mm. Sekilas tampang serangga ini memang menakutkan dan primitif. Tidak menherankan, karena diperkirakan anjing tanah (mole cricket) telah ada sejak 35 juta tahun silam. Walaupun dengan tampang yang menyeramkan hewan ini tidak menyerang manusia, bahkan jika menggigit pun tidak menimbulkan luka yang serius.

Sebagai salah satu hewan nokturnal Orong-orong atau anjing tanah beraktifitas di malam hari. Hewan ini juga mampu mengeluarkan suara melalui organ stridulasi seperti jangkrik, meskipun suaranya terdengan lebih monoton ketimbang jangkrik. Anjing tanah mengeluarkan suaranya dari dalam lubang persembunyian atau rumah yang berupa terowongan di dalam tanah. Bila lubang persembunyiannya didekati, ia akan berhenti bersuara namun akan memulai lagi begitu merasa gangguan berlalu.

Anjing tanah merupakan binatang karnivora yang memakan larva-larva serangga lain dan cacing tanah. Namun sering kali Orong-Orong juga memakan akar, tunas-tunas tanaman, dan rerumputan. Pemangsa alami Orong-Orong bermacam-macam, mulai dari burung, ayam, tikus, musang, hingga rubah. Diperkirakan ada sekitar 60 jenis anjing tanah di seluruh dunia. Spesies orong-orong ini terkelompokkan dalam tiga genus yaitu Gryllotalpa, Scapteriscus, dan Neocultilla. Di Indonesia terdapat beberapa spesies Orong-orong diantaranya adalah Gryllotalpa orientalis, G. hirsuta, G. africana, G. hexadactyla, dan G. brachyptera. Anjing tanah di beberapa tempat berstatus terancam punah karena peralihan habitat dan erosi tanah. Pembasmian akibat dianggap hama juga mengganggu kehidupannya. Walaupun dianggap sebagai hama sebenarnya tidak mempunyai daya rusak yang hebat dibandingkan dengan hama tanaman lainnya

Habitat yang disukai adalah ladang yang kering, pekarangan, serta lapangan rumput. Orong – Orong juga sering di jumpai di tanah – tanah gembur yang banyak terdapat larva, hewan kecil atau pun cacing. Hewan ini dapat ditemukan di semua tempat, kecuali daerah dekat kutub bumi.

Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Arthropoda; Kelas: Insecta; Ordo: Orthoptera; Upaordo: Ensifera; Superfamili: Grylloidea; Famili: Gryllotalpidae; Genus:Gryllotalpa, Scapteriscus, dan Neocultilla. Spesies: (diantaranya) Gryllotalpa hirsuta,Neocurtilla hexadactyla, Gryllotalpa gryllotalpa, Gryllotalpa orientalis, Scapteriscus borellii, dll.

Monday, May 21, 2012

SUMPIL SI KEONG LEZAT

Sumpil termasuk ke dalam phylum mollusca, nama ini cukup terkenal terutama di pedesaan bahkan karena terkenalnya sampai ada desa yang bernama Sumpilan (Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman). Sumpil kerap ditemukan hidup di kali atau sungai Van der Wijk, juga di areal persawahan. Dulu sewaktu penulis masih kecil, sering sekali menjumpai dan ‘dolanan’ Sumpil ini terutama sewaktu mandi di sungai. Tapi sekarang penulis sudah tidak menemukan hewan ini di sungai, penulis menduga karena adanya peningkatan penggunaan pestisida atau bahan kimia lainnya baik dari industry maupun berasal dari rumah tangga menyebabkan menurunnya populasi Sumpil ini.

Terdapat banyak jenis Sumpil baik yang biasa hidup di air laut maupun air tawar. Penulis sendiri sampai bingung untuk mengklasifikan Sumpil yang akan penulis ceritakan ke dalam Taxonomynya. Penulis masih ragu apakah Sumpil ini termasuk Melania Testudinaria atau termasuk Faunus Ater untuk lebih jelasnya silahkan klik di sini FOBI. Sumpil yang penulis akan ceritakan ini menyukai air tawar yang segar (freshwater), biasanya Sumpil jenis ini banyak terdapat dijumpai di pingir-pingir aliran air yang deras seperti grojogan/curug/air terjun. Sumpil (Faunus aster)sangat mudah dibedakan dengan Achatina fulica (bekicot) maupun Lymnaea (siput sawah), karena mantel (cangkang) sumpil berbentuk kerucut lancip dan kecil. Cangkang sumpil berwarna hitam polos, walaupun jenis lain ada yang berwarna kecoklatan dengan bintik-bintik hitam maupun coklat yang lebih tua.

Sumpil termasuk ke dalam Kelas gastropoda – Gaster artinya perut dan podos artinya kaki, jadi Gastropoda ini bergerak dengan menggunakan “perutnya”. Hidup di darat, di air tawar, dan air laut. Tubuhnya memiliki cangkang yang melingkar, ada yang melingkar ke kanan dan ada pula yang melingkar ke kiri. Ada mitos untuk cangkang yang melingkar kebalikan dari kebanyakan cangkang yang sejenis, biasanya mempunyai kekuatan gaib, walaupun kebenarannya penulis sendiri masih meragukan.

Sumpil berjalan menggunakan perut yang berotot, disebut “kaki”. Kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir guna mempermudah gerakan. Jika hewan ini berjalan, akan meninggalkan bekas dari lendirnya yang mengering. Kepala terletak di depan dan terdapat sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada tentakel panjang terdapat bintik mata (tidak disebut maka, karena memang bukan mata seperti mata manusia) yang berfungsi untuk membedakan gelap dan terang. Coba amati bintik mata bekicot, yang berbintik kehitaman. Tentakel pendek berfungsi sebagai indera peraba dan pembau.

Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan dimulai dari mulut di bagian depan, di dalam mulut terdapat lidah perut (radula) untuk “memarut” tumbuhan. Selanjutnya terdapat kerongkongan (esofagus), kemudian lambung (ventrikulus), usus (intestinum) yang berbelok ke depan lagi dan berakhir di anus. Anus terletak di mantel berdekatan dengan kepalanya. Di dekat lambung terdapat hati yang berwarna kecoklatan. Hati melingkar-lingkar menuju ke cangkang dan mengikuti belitan cangkang. Seperti pada umumnya Gastropoda Sumpil termasuk herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan). Biasanya Sumpil di sungai makan ganggang atau lumut yang cukup banyak bertebaran di pinggir-pinggir sungai.

Sistem Pernapasan dan Ekskresi
Sumpil bernapas menggunakan lapisan mantel yang berubah fungsi menjadi paru-paru sebagai tempat terjadinya pertukaran gas. Sistem pengeluaran (ekskresi) menggunakan alat pengeluaran cair yang disebut nephridia. Sistem saraf terdiri dari tiga pasang ganglia yang dihubungkan oleh saraf. Inderaanya berupa mata, statosit (alat keseimbangan), organ peraba, dan kemoreseptor (reseptor kimia).

Reproduksi gastropoda
Sumpil bersifat hermafrodit tetapi melakukan perkawinan silang. Maksudnya, sumpil ini tetap melakukan perkawinan dengan sumpil lainnya bukan hanya dengan dirinya sendiri. Sel telur dan spermatozoa dihasilkan oleh satu organ yaitu ovotesis. Jadi ovarium (penghasil ovum) dan testis (penghasil sperma) menjadi satu. Pemasakan sperma dan ovum tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada saat kopulasi, sperma disalurkan ke vas deferens kemudian dimasukkan ke vagina pasangannya dengan perantaraan penis yang dikeluarkannya. Ovum yaang dihasilkan ovotestes keluar ke saluran telur (oviduk) untuk di buahi sperma hewan lain.

Escargot, Abalone dan Kroco
Sumpil bagi yang suka dapat dimasak baik dengan resep local seperti oblok-oblok dicampur dengan parutan kelapa, maupun dengan resep keong Perancis yang dinamakan escargot. Orang Perancis terkadang menyajikan keong sebagai appetizer; sedangkan di Amerika dan Australia, keong yang mereka sebut abalone pada umumnya dikonsumsi sebagai makanan utama, misalnya dalam masakan Spaghetti with escargots dan Abalone in oyster sauce.

Nilai gizi keong Keong (Inggris: snail) atau yang dalam bahasa Perancis disebut Escargot, merupakan jenis hewan moluska yang ditemukan di pantai, air tawar, dan tanah. Keong memiliki sekitar 100 spesies dan tergantung pada jenis lokasi yang berbeda digunakan sebagai sumber makanan. Biasanya keong yang dimakan adalah dari jenis Helix pomatia dan Helix aspersa.

Sumpil mempunyai kandungan protein yang tinggi dengan kadar lemak rendah. Dalam seratus gram bagian yang dapat dimakan terdapat 16 g protein sehingga apabila kita mengkonsumsi 100 g kroco, tubuh kita sudah mendapat 32% protein dari kebutuhan sehari-hari. Protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh dan juga berperan dalam proses kekebalan tubuh. Konsumsi protein hewani dalam makanan sehari-hari diperlukan oleh tubuh disamping protein nabati.

Lemak dalam 100 g kroco terdapat dalam jumlah 1,4 g. Lemak yang terdapat dalam keong merupakan asam lemak essensial dalam bentuk asam linoleat dan asam linolenat. Sebuah studi di Brazil menunjukkan bahwa 75% persen lemak dalam keong merupakan asam lemak tidak jenuh yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Asam lemak tidak jenuh tersebut 57% tersusun dari asam lemak tak jenuh ganda dan sisanya merupakan asam lemak tak jenuh tunggal.

Kandungan vitamin pada sumpil cukup tinggi dengan dominasi vitamin A, vitamin E, niacin dan folat. Vitamin A berperan dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, sebagai salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina serta menjaga kesehatan kulit dan imunitas tubuh. Niacin atau vitamin B3 berperan penting dalam metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein.

Di dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan penting dalam menjaga kadar gula darah, tekanan darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Vitamin E berperan dalam menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari jaringan kulit, mata, sel darah merah hingga hati. Vitamin E juga merupakan sebagai senyawa antioksidan alami. Folat berfungsi membantu pembentukan sel darah merah, mencegah anemia, sebagai bahan pembentukan bahan genetik sel, dan sangat esensial selama kehamilan karena mencegah timbulnya kecacatan tabung saraf pada bayi. Apabila kita mengkonsumsi 100 gram kroco, maka kita dapat memenuhi kebutuhan 2% vitamin A, 23% vitamin E, 7% niacin dan 66% folat.

Mineral merupakan zat yang berperan penting pada tubuh manusia untuk pengaturan kerja enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti pembentukan haemoglobin. Kandungan mineral yang utama pada keong berupa kalsium, zat besi, magnesium, kalium dan fosfor. Apabila kita mengkonsumsi 100 g kroco, maka sudah memenuhi 17% kalsium dan 13,5% zat besi untuk kebutuhan tubuh sehari-hari.

Peran utama kalsium adalah untuk pembentukan dan pemeliharaan tulang dan gigi. Kekurangan kalsium mengakibatkan terjadinya osteoporosis (keropos pada tulang). Zat besi mempunyai fungsi utama memproduksi hemoglobin dan mioglobin. Zat besi yang berasal dari produk hewani atau disebut juga sebagai besi-hem, akan lebih mudah diserap oleh tubuh. Zat besi pada keong berjumlah 3,5 mg, lebih tinggi daripada zat besi pada daging (2,5 mg) atau ikan (2,4 mg).

Referensi: zipcodezoo.com , www.fobi.web.id , conchology. Inc, Hidup Sehat

Tuesday, May 15, 2012

KODOK BENCOK SI KATAK POHON

Katak pohon Jawa (Rhacophorus javanus) termasuk jenis katak yang jarang ditemui karena penyebarannya yang sedikit. Pada tahun 2004 jenis ini masuk daftar IUCN (International Union Conservation Natural) sebagai jenis yang Vulnerable (terancam) karena penyebarannya kurang dari 20.000km2, disamping itu habitatnya yang mengalami penurunan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

Semua katak pohon menyukai daerah yang lembab, tidak terkena matahari langsung dan dekat dengan daerah yang berair. Katak Pohon mempunyai kulit yang sensitif jadi sebaiknya tidak terlalu sering dipegang dan konon katanya air kencingnya beracun. Saat ini di desa-desa di Yogyakarta sudah jarang ditemui daerah yang cocok sebagai habitat katak pohon ini, karena jarang ditemukan pohon-pohon rindang yang diperlukan untuk menjaga kelembaban udara. Katak Pohon perlu kelembaban sekitar 70-80% dengan suhu udara sekitar 24-29o Celcius pada siang hari dan 18-24 celcius untuk malam hari.

Yogyakarta bagian utara di sekitar lereng Gunung Merapi dan daerah Yogyakarta sebelah barat di sekitar pegunungan Menoreh untuk sekarang ini masih memungkinkan ditemukan habitat katak pohon ini, walaupun akhirnya juga akan seperti daerah lain jika pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah DIY tidak memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang ada.

Makanan katak pohon setahu penulis tidak jauh berbeda dengan katak-katak lainnya, hanya dari sisi keberuntungan mungkin katak pohon lebih mudah memangsa serangga dibanding katak-katak jenis lain. Katak Pohon biasanya memakan serangga hidup, aktif di malam hari dan lebih suka hidup sendiri. Katak pohon ini pandai meloncat dan lebih jauh di samping itu juga pandai memanjat, karena jari-jari kakinya lengket seperti cicak. Katak Pohon bisa tumbuh hingga mencapai ukuran 5-10 cm.

Saat sekitar tahun ’80 an penulis sering menjumpai beberapa katak pohon dari spesies Racophorus javanus yang berwarna kekuning-kuningan maupun spesies Polypedates leucomystax yang tubuhnya bergaris. Walaupun waktu itu kami mengira kedua jenis itu sama saja dan keduanya oleh orang desa dinamakan Kodok Bencok.

Pada musim kawin, banyak individu jantan (kadang-kadang hingga sekitar 10 ekor) yang berkumpul dekat kolam, parit atau genangan air lainnya. Kodok-kodok jantan ini memanjat semak-semak rendah atau pohon kecil di dekat genangan, hingga ketinggian 1 m atau lebih di atas tanah, serta bersuara sahut-menyahut dari tenggerannya itu untuk memikat kodok betina. Jika bertemu, pasangan kodok pohon ini lalu bergerak mencari posisi daun atau ranting yang menggantung di atas air untuk menempelkan telurnya.

Telur-telur itu diletakkan di sebuah sarang busa yang dilekatkan menggantung di atas genangan, pada daun, ranting, tangkai rumput, atau kadang-kadang juga pada dinding saluran air. Gelembung-gelembung busa ini akan melindungi telur dari kekeringan, hingga saatnya menetas dan kecebongnya keluar berjatuhan ke air.

Di saat musim kawin ini, beberapa kodok jantan menunjukkan sikap agresif terhadap kehadiran cahaya senter dengan menghampiri dan bertengger dekat cahaya, dan lalu bersuara. Bunyi: pro-ek.. wrok!... krot..krot..krot, mirip orang mempergesekkan giginya.

Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Amphibia, Ordo Anura, Famili Rhacophoridae, Genus Polypedates (Tschudi, 1838)

Sumber Referensi dan Foto:Fobi, fotokita.net, wikipedia

KATIK SI PUNAI GADING

Penulis agak sedikit bingung ketika akan menceritakan soal burung satu ini, karena pada waktu kecil orang tua (di Yogyakarta) menamakan burung sejenis puter ini dengan nama burung Katik. Namun setelah penulis cocokan dengan foto-foto burung Katik yang ada di FOBI kok nggak cocok. Memang sekilas mirip katik dengan burung Punai Gading yang saya maksud, maklumlah karena masih satu family Columbidae. Kadang Punai Gading ini juga disebut dengan nama Puter Lumut, karena anatominya seperti puter dengan bulu berwarna hijau lumut. Beberapa ras punai telah dideskripsikan namun perbedaan antar ras dianggap kurang nyata, kadang nama-nama lokalnya saling tumpang tindih membingungkan, sehingga masih perlu deskripsi yang lebih detil lagi.

Burung Katik (Chalcophaps indica) mempunyai warna bulu sayap yang hijau terang dan paruh berwarna merah. Sedangkan burung yang penulis maksud itu ini sepertinya termasuk keluarga Punai species Treron Vrenans (Punai Gading) dengan ciri-ciri sebagai berikut: kepala abu-abu kebiruan, sisi leher, tengkuk bawah, dan garis melintang pada dada berwarna merah jambu. Dada bagian bawah jingga, perut hijau dengan bagian bawah kuning, sisi-sisi rusuk dan paha bertepi putih, penutup bagian bawah ekor coklat kemerahan. Punggung hijau, bulu penutup ekor atas perunggu. Sayap gelap dengan tepi kuning yang kontras pada bulu-bulu penutup sayap besar. Ekor abu-abu dengan garis hitam pada bagian subterminal dan tepi abu-abu pucat. Betina: hijau, tanpa warna merah jambu, abu-abu, dan jingga seperti pada jantan.Iris merah jambu, paruh abu-abu biru dengan pangkal hijau, kaki merah.

Ingat Punai Gading ini kadang menyebabkan penulis merindukan saat-saat sekitar tahun 80’an, keaneka ragaman flora dan fauna Indonesia masih gampang dijumpai, apalagi di pedesaan-pedesaan. Kebalikannya dengan era reformasi yang berhembus justru semakin memperparah kerusakan daerah konservasi karena adanya berbagai perusakan hutan oleh masyarakat sehingga habitat burung semakin rusak. Perkembangan kota yang semakin luas juga menyebabakan vegetasi habitat burung semakin berkurang sehingga tidak ada tempat bagi burung untuk dapat berkembang biak dengan baik. Kota sebagai pusat aktifitas manusia semakin tidak memberikan ruang lingkup untuk kehidupan burung karena hilangnya pohon-pohon besar yang dapat digunakan sebagai salah satu habitat burung.

Dahulu di halaman rumah penulis yang cukup luas masih banyak ditumbuhi berbagai pohon besar yang salah satunya sering dihinggapi oleh Punai Gading ini. Penulis sendiri sudah lupa suara Punai Gading ini seperti apa, tetapi yang membekas di ingatan penulis hanya wajah manisnya saja. Biasa Punai Gading alias Katik (yk) datang berkelompok dan hinggap di pepohonan samping rumah. Biasanya Punai ini makan buah kecil-kecil seperti buah Kersen dan Salam.

Tempat hidup dan kebiasaan
Umum di hutan pantai, hutan magrove, hutan sekunder, hutan rawa-rawa, perkebunan yang berpohon jarang, di sekitar pemukiman, tempat-tempat terbuka dan lembah sampai ketinggian 1200 mdpl. Sepertinya populasinya semakin kecil di tempat yang semakin tinggi dari permukaan laut.Berkumpul dalam kelompok kecil, hinggap pada pohon buah-buahan (seperti bringin dan kersen) untuk mencari makan. Saat terganggu, terbang berdua atau bertiga dengan kepakan sayap yang keras. Pada malam dan pagi hari, mengeluarkan suara mendengkur lembut yang rendah dari tempat bertengger.

Sumber referensi:
Flickriver, FOBI, Kutilang Indonesia