Sunday, February 19, 2012

CLERET GOMBEL SI CICAK TERBANG

Di desaku dulu ketika masih rimbun oleh pepohonan selain terdengar kicauan berbagai jenis burung juga sering dijumpai si cicak terbang alias Cleret Gombel. Reptile ini dikenal dengan nama ilmiah Draco volans Linnaeus, 1758. Nama lokalnya di antaranya adalah cekibar (Betawi), hap-hap (Sunda), dan celeret gombel atau klarap (Jawa). Dalam bahasa Inggris disebut gliding lizards atau flying dragon.

Hewan ini menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau, Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur. Disebut Cicak terbang karena ukurannya hanya sedikit lebih besar daripada cicak, walaupun kalau kita amati lebih mirip dengan Bunglon karena kulitnya terlihat kasar dan bergaris-garis hanya saja postur tubuhnya lebih kecil dibanding dengan Bunglon.

Reptil ini kelihatan aktif berburu serangga maupun mencari pasangannya ketika bersamaan matahari mulai beranjak naik yaitu sekitar jam 10.00 pagi. Kantong dagu (seperti gombel/kain) yang berwarna kuning atau biru cerah sering sesekali terlihat memanjang ke depan (Celeret). Mungkin kebiasaan unik menarik dan menjulurkan kantong dagu dengan gerakan cepat yang istilah Jawanya Celeret/Cleret inilah yang kemudian jadi nama unik hewan ini, selain disebut sebagai si Cicak Terbang. Walaupun kalau kita amati sebetulnya reptil ini tidak betul-betul terbang melainkan meluncur layaknya gantole dari pohon ke pohon. Cleret Gombel yang akan meluncur pindah ke pohon lain biasanya dia akan memanjat ke dahan-dahan yang lebih tinggi kemudian melompat sambil mengembangkan sayap yang berupa kulit di sekitar perut dan dada.

Klasifikasi ilmiah

Filum: Chordates
Upafilum:Vertebrata
Kelas:Reptilia
Ordo:Squamata
Upaordo:Sauria
Superfamili:Acrodonta
Famili:Agamidae
Upafamili:Draconinae

Genus:Draco
Spesies:D. volans
Nama binomial Draco volans


Cleret Gombel ini belum termasuk reptile yang dilindungi, akan tetapi di desa-desa perbatasan dengan kota Yogyakarta sudah sulit menemukan Cicak Terbang ini. Berbeda dengan Cicak yang masih dapat bertahan hidup dengan merayapi tembok-tembok rumah, sedangkan Cicak Terbang hanya menyukai pepohonan tinggi yang saat ini di desa-desa pun juga jarang ditemui.

Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama. Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan moncong.

Ciri-ciri

Kadal yang berukuran agak kecil, panjang total hingga 200 mm. Patagium (‘sayap’) berupa perpanjangan enam pasang tulang rusuk yang diliputi kulit. Sisi atas patagium dengan warna kuning hingga jingga, berbercak hitam. Sisi bawah abu-abu kekuningan, dengan totol-totol hitam.

Kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkerinyut seperti kakek-kakek; dengan kantung dagu berwarna kuning (jantan) atau biru cerah (betina), dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher. Rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mata khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol. Binatang ini memiliki ekor sekitar 1½ kali panjang tubuh; berbelang-belang di ujung, dengan sisik-sisik yang berlunas kuat menjadikannya nampak bersegi-segi.

Friday, January 27, 2012

MISTERI GARENGPUNG DAN KINJENG TANGIS

Gareng Pung atau Kinjeng Tangis merupakan salah satu serangga yang menjadi indicator kestabilan ekosistem pedesaan, masyarakat Jawa sering disebut “Kinjeng Tangis” atau “Tonggeret” karena suaranya yang lebih menyerupai sayatan-sayatan kepiluan. Saat ini di desa-desa sekitar kota Yogyakarta serangga ini sudah sulit diketemukan karena rusaknya habitat tempat tinggal mereka. Berbagai jenis obat pebasmi serangga dan juga penebangan pohon-pohon perindang di sawah, ladang maupun sekitar pekarangan rumah masyarakat pedesaan diduga ikut andil menyempurnakan kemusnahan serangga ini.

Kinjeng Tangis, Tonggeret atau biasa disebut Cengreret adalah sebutan untuk segala jenis serangga dari ordo Hemiptera, subordo Cicadomorpha. Nama Gareng pung biasanya oleh orang Jawa digunakan untuk menyebut jenis dari mereka yang posturnya lebih besar daripada Kinjeng Tangis. Serangga ini mulai bisa terbang setelah berusia 17 tahun lebih 3 hari. Setelah selama tepat 17 (tujuh belas) tahun mereka hidup sebagai larva di dalam tanah. Kinjeng tangis menghabiskan waktunya selama 17 (tujuh belas tahun) di dalam tanah dengan tetap mengandalkan lemak-lemak dan protein di dalam tubuhnya. Hanya dalam waktu 3 (tiga) hari setelah mereka keluar dari tanah, mereka berubah menjadi serangga sempurna dengan bulu-bulu yang kokoh.

Menandai Bau Getah
Secara naluri serangga baru ini akan memperjuangkan kelangsungan generasinya dengan kawin, bertelor, untuk penciptaan larva-larva baru. Larva baru akan juga survive selama 17 tahun di dalam tanah seperti generasi sebelumnya.

Menurut beberapa penelitian biologi yang telah dilakukan terhadap serangga ini, jangkrik pohon akan mampu menghitung tepat 17 tahun masa survivenya dengan menandai bau getah akar pohon di sekitarnya. Mereka sangat mampu membedakan usia pohon yang ditumpanginya. Ini juga sekaligus menjadi jawaban tentang kepunahan mereka, terlebih karena banyak pohon yang sudah ditebang sebelum masa usia larva.

Saat serangga ini mencapai tahap dewasa, keluar dari bawah permukaan tanah untuk melakukan ritual musim kawin. Seusai kawin, betina meletakkan telur di tanah, serangga ini mati. Tonggeret kadang-kadang dikira belalang atau lalat besar, meskipun mereka tidak mempunyai pertalian keluarga yang dekat. Tonggeret mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.

Serangga ini mempunyai mata yang kecil dan terpisah jauh di kepalanya dan biasanya juga memiliki sayap yang tembus pandang. Tonggeret hidup di daerah beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara serangga lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan bakat akustiknya yang luar biasa (dan seringkali sangat mudah dikenali). Di Indonesia, suara tonggeret yang nyaring akan muncul di akhir musim penghujan yang biasanya jatuh sekitar pertengahan bulan April, petani desa biasanya menyebut datangnya awal musim kemarau ini dengan sebutan musim “Mareng”, karena ditandai dengan ramainya suara Gareng pung dan Kinjeng tangis yang saling bersahut-sahutan.

Taksonomi

Di dunia ada sekitar 3.000 spesies tonggeret, meskipun banyak yang belum dideskripsikan. Tonggeret dikelompokkan dalam dua familia: Tettigarctidae (di bahas di tempat lain) dan Cicadidae. Ada dua spesies Tettigarctidae yang telah punah, satu di Australia selatan, dan yang lainnya di Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam subfamilia Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae. Mereka terdapat di semua benua kecuali Antarktika.

Corak Bulu dan Suara
Setelah menjadi serangga, Kineng Tangis atau Tonggeret yang bernama asli Cicada ini akan memiliki mata yang kecil dan jauh dari permukaan kepalanya, bulunya berwarna transparan dengan corak guratan khusus dan sedikit berbeda antara bulu tonggeret jantan dan betina. Corak bulu ini yang kemudian akan membedakan bunyi nyanyian mereka.

Ketika Tonggeret jantan “bernyanyi” bunyinya sangat khas dan keras. Baik tempo maupun volume bunyi yang dihasilkan Tonggeret jantan akan tergantung pada suhu udara di sekitarnya, semakin panas maka temponya semakin cepat serta volumenya juga semakin kencang. Frekuensi suara tonggeret ini memang sangat khas, sehingga pada saat tertentu bisa mencapai getaran frekuensi 125 desible (suara yang mampu di dengar oleh penderita tuli pada umumnya).

Suara tonggeret jantan terutama bertujuan untuk memancing perhatian tonggeret betina, dan mengusir tonggeret jantan lainnya. Bunyi yang dihasilkan tonggeret betina lebih menyerupai petikan jari tangan, namun itu cukup bagi Tonggeret jantan untuk mengikuti arah suaranya. Setelah masa ritual perkawinannya, tonggeret betina segera bertelor, dan meletakkan telor-telor mereka di bawah tanah, setelah itu mereka akan segera mati.

Tonggeret mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.
Demikian kisah cicada, atau kinjeng tangis, atau garengpung, atau tonggerek, dan apapun nama mereka, yang telah melewati sejarah hidup membujang selama belasan tahun untuk hanya menikmati masa perkawinan mereka selama beberapa minggu saja sebelum kemudian mati tertelan bumi.

Tuesday, January 17, 2012

MITOS SAMBAR LILIN

Sambar Lilin (Sunda), Samber Iler (Jawa) merupakan sejenis kumbang cantik yang berwarna hijau metalik. Kumbang ini memang tidak berwarna hijau polos, tetapi juga ada sedikit warna merah pada kedua ujung sayapnya maupun ujung perutnya. Dan yang menjadi unik warna hijau ini akan berubah menjadi kebiru-biruan apabila sudut pandang kita sedikit di geser, seperti model cat bunglon yang biasanya dipakai mobil-mobil modif.

Namun serangga yang cantik ini saying kurang dikenal luas dalam dunia ilmu pengetahuan, saya sendiri sudah mencari dari beberapa sumber belum menemukan nama latin dari Sambar Iler ini (mungkin karena bukan ahlinya).

Pada tahun 80an serangga ini sangat mudah diketemukan di sekitar pekarangan rumah dan biasanya serangga ini senangnya berada dipohon-pohon yang tidak banyak daunnya atau pohon yang daunnya sedang berguguran. samber lilin selalu ditemukan di pohon randu atau pohon kapuk, meski banyak juga ditemui di pohon lainnya.Pada musim kemarau, Sambar Lili kadang berbunyi nyaring mirip suara Gareng Pung (Tonggerek), kemungkinan hal ini dilakukan untuk memanggil pasangannya. Namun sekarang serangga ini sudah sulit diketemukan, walaupun belum termasuk punah, namun banyak orang yang tidak mengenalnya baik nama apalagi wujud serangganya. Memang sayang belum sempat digali informasinya, tetapi serangga ini sudah terlanjur susah untuk ditemui.

SUSUK SAMBAR ILER / LILIN

Namun begitu bagi seorang praktisi Susuk yang membidangi Pemasangan susuk, samber lilin adalah bahan yang laris manis. meski ada beberapa macam sarana menyusuk, ada emas, intan, berlian, baja, tulang, lidi aren, bunga, samber lilin dan sebagainya. Tapi dari sekian banyak media susuk ampuh adalah samber lilin.

Warnanya yang menarik hijau kuning mengkilap mempunyai daya magis alami yang luar biasa untuk kecantikan, seri wajah, ketampanan, wibawa, awet muda, dan pengasihan
Selain untuk bahan susuk samber lilin juga dapat dijadikan sarana ajimah. apabila sudah di isi (blezing) daya supranatural (daya gaib) dengan membangkitkan aura alaminya maka daya magis alami untuk mendongkrak kecantikan dan ketampanan seseorang.

Penulis juga belum tahu faktor penyebab kelangkaan serangga ini akibat pengaruh ketenaran di dunia mistis atau karena lingkungan yang rusak. Penulis hanya bisa berharap sebetulnya akan lebih cantik kalau serangga ini tetap masih bisa menghiasi pohon-pohon di sekitar lingkungan kita.

Thursday, December 22, 2011

MANUK (BURUNG) BIDO

Klik..klik..klik suara itu mungkin sangat familier ditelinga penduduk desa di lereng Merapi Yogyakarta. Namun suara yang berasal dari burung Elang Bido ini, sekarang belum diketahui nasibnya setelah Merapi memporak-porandakan hutan-hutan dalam radius 10 – 20 km dari puncak. Dahulu Elang Bido ini sering terlihat melakukan soaring sampai ke pedusunan di sekitar Sleman Barat sekitar 30 km dari puncak Merapi. Hanya saja Elang Bido berbeda dengan Alap-Alap yang kadang terlihat sampai menyambar anak ayam kampung yang lengah ketika melakukan soaring di atas perkampungan penduduk.Mungkin hal ini karena postur Alap-Alap lebih kecil dibanding Elang Bido, sehingga memudahkan melakukan penyusupan dan pengintaian di atas perkampungan penduduk.

Elang Bido ini juga dikenal juga sebagai Crested Serpent Eagle atau CSE oleh sebagian pecinta burung pemangsa. Berukuran sedang 50-74 cm, Rentang sayap 109-169 cm dan berat badan 420-1800 gram, berwarna gelap. Sayap sangat lebar membulat, ekor pendek dan menekuk ke atas (seperti elang jawa) dan ke depan, membentuk huruf C yang terlihat membusur.

Dewasa: tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah coklat. Perut, sisi tubuh, dan lambungnya berbintik-bintik putih, terdapat garis abu-abu lebar di tengah garis-garis hitam pada ekor. Jambulnya pendek dan lebar, berwarna hitam dan putih. Ciri khasnya adalah kulit kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh. Pada waktu terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pad pinggir belakang sayap. Ras Kalimantan berwarna lebih pucat dan coklat. Remaja: mirip dewasa, tetapi lebih coklat dan lebih banyak warna putih pada bulu.Iris kuning, paruh coklat-abu-abu, kaki kuning. Ada yang mengatakan bahwa kulit kaki dari elang ini mempunyai kekebalan terhadap bisa ular, karena itulah elang ini di sebut elang ular karena mempunyai kekebalan terhadap bisa ular.
Status konservasi Risiko Rendah

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Accipitriformes
Famili: Accipitridae
Genus: Spilornis
Spesies:S. cheela
Nama binomial Spilornis cheela

Suara:
Sangat ribut, melayang-layang di atas hutan, mengeluarkan syara nyaring dan lengking “kiu-liu”, “kwiiik-kwi”, atau “ke-liik-liik” yang khas, dengan tekanan pad dua nada terakhir, dan “kokokoko” yang lembut.

Penyebaran :
Di Dunia: S.c.cheela Himalaya dan India bagian utara ke Assam. S.c. Melanotis di India bagian selatan. S.c. spilogaster Sri Lanka, S.c. burmacus Assam bagian tenggara, Myanmar, Thailand dan Indocina. S.c.ricketti Selatan dan Tenggra bagian cina dan Vietnam bagian utara. S.c. hoya Taiwan. S.c.rutherfordhi Kepulauan Hainan. S.c.davisoni Kepulauan Andaman(berbeda dengan Spilornis elgini). S.c. batu Sumatera Selatan, Batu. S.c. palawanensis Philipina bagian timur(Kepulauan Calamian, Palawan, Balabac). S.c. malayensis Tenasserim selatan melalui Malay peninsula, Sumatera bagian utara. S.c. pallidus Borneo bagian utara. S.c. richmondi Borneo bagian selatan dan S.c. bido Jawa dan Bali.( Ferguson-Less,J. And D. A. Christie. 2001)

Di Indonesia; Kepulauan Batu, Sumatera, Riau, Kepulauan Lingga, Kalimantan, Jawa, Bawean, Panitan dan Bali. Terdapat di seluruh Sunda Besar dan mungkin merupakan elang yang paling umum di daerah berhutan. Habitatnya adalah hutan, tepi hutan, perkebunan, sub-urban.sampai pada ketinggian 1.900m.

Kebiasaan:
Sering terlihat terbang melingkar di atas hutan dan perkebunan, antar pasangan sering saling memanggil. Pada saat bercumbu, pasangan memperlihatkan gerakan aerobatik yang menakjubkan walaupun biasanya tidak terlalu gesit. Sering bertengger pada dahan yang besar di hutan yang teduh sambil mengamati permukaan tanah di bawahnya.

Makanan:
Makanan utama dari elang ular adalah Ular-ular kecil, katak, burung-burung kecil sampai ke mamalia kecil seperti tikus atau kelinci yang mempunyai ukuran yang kecil.

Perkembangbiakan:
Sarang di hutan yang rapat tersusun dari ranting berlapis dedaunan. Telur 1-2 berwarna putih suram dengan bercak kemerahan. Berbiak setiap waktu sepanjang tahun.

Sunday, December 11, 2011

MINYAK NYAMPLUNG

Salah satu jenis Hasil Hutan Bukan Kayu yang potensial dan sampai saat ini masih belum tergali baik informasi maupun teknologinya adalah jenis-jenis yang berasal dari genus Calophyllum. Calophyllum (dari bahasa Yunani: kalos yang artinya cantik, dan phullon yang artinya daun) adalah genus dari sekitar 200 spesies tanaman hijau abadi dari suku Clusiaceae. Calophyllum dapat ditemukan di Madagaskar, Afrika Timur, Asia Selatan dan Tenggara, Kepulauan Pasifik, Hindia Barat, dan Amerika Selatan. Tumbuhan ini disebut bintangor di Malaysia dan poon di India. Berdasarkan hasil ekplorasi tanaman jenis ini terdapat di hutan Cagar Alam Tanjung Pangandaran dan pada umumnya jenis ini tumbuh di daerah pesisir pantai.

Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) termasuk salahsatu anggota dari marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup luas di Di Indonesia, tersebar mulai dari Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua. Sampai saat ini potensi alami nyamplung di Indonesia belum diketahui secara pasti, Hasil penafsiran tutupan lahan dari Citra Satelit Landsat7 ETM+ tahun 2003 menunjukkan bahwa tegakan alami nyamplung seluruh pantai di Indonesia mencapai luas total 480,000 ha, dan sebagian besar (± 60 %) berada dalam kawasan hutan.

Ciri-Ciri
Batang: Berkayu, Bulat, warna coklat, Daun: Tunggal, bersilang berhadapan, bulat memanjang atau bulat telur, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10-21 cm, lebar 6-11 cm tangkai 1,5-2,5 cm,Bunga: Majemuk, berbentuk tandan, Buah: Bulat seperti peluru, Diameter 2,5-3,5 cm, warna hijau, kering menjadi coklat, Biji: Bulat, tebal, keras, warna coklat, pada inti terdapat minyak berwarna kuning, Akar: Tunggang, Tinggi Pohon : + 20 meter

Mengingat potensi manfaat jenis Calophyllum ini cukup besar, maka ada baiknya kita mengetahui informasi yang telah diperoleh tentang jenis ini sehingga dapat digali lebih jauh hal-hal yang belum tertangani menuju upaya pengembangannya baik untuk pembangunan hutan tanaman maupun rehabilitasi daerah pantai akibat bencana alam.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malpighiales
Famili: Clusiaceae
Upafamili:Kielmeyeroideae
Bangsa: Calophylleae
Genus: Calophyllum L.

Manfaat
Nyamplung memiliki manfaat ganda yaitu:
1.Kayu: Kayu nyamplung termasuk kayu komersial yang dapat digunakan untuk perkapalan, balok, tiang, papan lantai dan papan pada bangunan perumahan dan bahan kontruksi ringan
2.Getah: penyadapan getah Nyamplung dilakukan untuk mendapatkan minyak yang dikenal dengan nama minyak tamanu (Tahiti)
3. Biji : biji Nyamplung segar mengandung 40 - 55 %-b, sedang pada biji kering kandungan minyaknya 70 – 73%-b. Bahan aktif yang terkandung pada biji adalah Inophylum A-E, Calophylloide dan Asid calophynic. Kandungan lain dalam jumlah kecil antara lain 1,2,3,4,4a, 7-beksahidro-1, 6 dimetil-4 (1-metilletil) naftalin, cubebene, selinene, calerene, farnesene, scadinene, bourbonene, zingiberene, copaene, murelene, sesquiphellandrene, octadecanal, heksadecane, farmesol. (Dahlan dan Gusmailina, 2006).

Karakteristik Minyak Nyamplung
Soerwidjaja (2005) mendapatkan bahwa inti biji dari jenis ini sangat berpotensi penghasil minyak lemak yang dapat digunakan sebagai minyak bakar, sementara Zuhud (1995) mengemukakan bahwa biji Calophyllum dapat berkhasiat sebagai obat kurap.
Pabrik pengolahan minyak nyamplung di Jawa terdapat di Desa Karang Mangu Kecamatan Kroya. Pabrik ini merupakan bantuan dari Dinas Perindustrian bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Kab. Cilacap yang pada awalnya di khususkan untuk mengolah biji jarak, namun karena di wilayah tersebut banyak tersedia biji nyamplung, maka oleh Pak Samino (pemilik pabrik) dimanfaat juga untuk mengolah biji nyamplung. Kapasitas masak pabrik tersebut sebanyak 300 kg/hari.

1.Untuk mendapatkan 1 liter minyak nyamplung dibutuhkan 2,5 kg biji nyamplung kering.
2.1 kg Biji nyamplung yang ada kulitnya di kupas menjadi 0,7 kg biji nyamplung tanpa kulit.

Malaysia berhasil mengembangkan Calanolida-A, aktif sebagai anti virus HIV (in vivo) diperoleh dari tanaman Calophyllum inulifolium/C. langinerum (Anonim, 2003). Minyak nyamplung ber-warna hijau gelap atau kuning kebiru-biruan. Minyak Nyamplung dinamakan juga minyak tamanu (Tahiti), minyak undi (India), minyak domba (Afrika?).
Minyak nyamplung mentah mengandung komponen yang aktif mempercepat kesembuhan luka atau pertumbuhan kulit (cicatrization). Karakteristik minyak nyamplung : berat jenis 0,941 - 0,945; angka iodium 82 - 98; angka penyabunan 192 - 202, titik leleh 8°C. Komposisi asam lemak (%-b) : oleat 48 - 53, linoleat 15 - 24, palmitat 5 - 18, stearat 6 - 12.

Kelebihan nyamplung sebagai bahan baku biofuel adalah bijinya mempunyai rendemen yang tinggi, bisa mencapai 74%, dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi dengan kepentingan pangan. Beberapa keunggulan nyamplung ditinjau dari prospek pengembangan dan pemanfaatan lain, antara lain adalah tanaman nyamplung tumbuh dan tersebar merata secara alami di Indonesia; regenerasi mudah dan berbuah sepanjang tahun menunjukkan daya survival yang tinggi terhadap lingkungan; tanaman relatif mudah budidayakan baik tanaman sejenis (monoculture) atau hutan campuran (mixed-forest); cocok di daerah beriklim kering, permudaan alami banyak, dan berbuah sepanjang tahun; hampir seluruh bagian tanaman nyamplung berdayaguna dan menghasilkan bermacam produk yang memiliki nilai ekonomi; tegakan hutan Nyamplung berfungsi sebagai pemecah angin (wind breaker) untuk tanaman pertanian dan konservasi sempadan pantai; dan pemanfaatan biofuel nyamplung dapat menekan laju penebangan pohon hutan sebagai kayu bakar; produktivitas biji lebih tinggi dibandingkan jenis lain (Jarak pagar 5 ton/ha; sawit 6 ton/ha; nyamplung 20 ton/ha).

Beberapa keunggulan biodiesel yang dihasilkan dari nyamplung adalah rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (jarak pagar 40-60%, Sawit 46-54 %; dan Nyamplung 40-73 %), sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia, minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah. Dalam test untuk mendidihkan air, minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml; mempunyai keunggulan kompetitif di masa depan antara lain biodiesel nyamplung dapat digunakan sebagai pencampur solar dengan komposisi tertentu, bahkan dapat digunakan 100 % apabila teknologi pengolahan tepat, kualitas emisi lebih baik dari solar, dapat digunakan sebagai biokerosen pengganti minyak tanah.

Perbanyakan Tanaman
Pohon nyamplung dapat diperbanyak secara generatif (biji) dan vegetatif (stek). Biasanya pada pohon yang sudah besar, terdapat anakan di bawahnya.Namun untuk perbanyakan tanaman,umumnya diperoleh dari biji, karena buah nyamplung mudah diperoleh dan berbuah sepanjang tahun. Walaupun perkecambahan benih nyamplung tergolong lama (± 3 bulan) tapi persen kecambahnya relatif tinggi yaitu mencapai ± 90%. Bibit nyamplung ditempatkan dalam bedeng yang diberi naungan dengan intensitas cahaya 50%.

Nyamplung (Calophyllum spp.) berpotensi besar untuk dikembangkan di Indonesia karena banyak tersebar secara alami di Indonesia. Pohon nyamplung sangat bermanfaat ganda. Selain kayunya, buah dan getahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi cair juga sebagai bahan farmasi.