Friday, April 29, 2011

KURA-KURA, LABI-LABI DAN PENYU


Ketiga nama hewan tersebut sering membuat kita bingung, bahkan sering kali salah sebut. Ketiganya memang masih bersaudara. Kura-kura, labi-labi dan penyu hampir semua bisa berenang, tetapi untuk kura-kura ada dua jenis yaitu kura-kura darat yang habitat hidupnya hampir seluruhnya di darat, sedangkan untuk kura-kura air yang sering disebut hewan semi aquatic ini habitatnya separuh di darat dan separuhnya di habiskan di air.

Sedangkan untuk labi-labi seluruh hidupnya dihabiskan di dalam air yang dangkal, ya karena mereka bernafas dengan paru-paru bukan ingsang seperti ikan, jadi sekali waktu masih perlu muncul ke permukaan untuk ambil udara segar lalu di simpan dalam karapasnya untuk dipakai bernafas di dalam air.


Bagaimana dengan penyu?
Penyu habitat utamanya adalah di lautan lepas, ke darat hanya setiap 2-3 tahun sekali untuk bertelur. Setelah itu penyu kembali kelautan lepas lagi. Dan yang lebih menarik lagi penyu akan bertelur di daerah di mana dulu dia dilahirkan, jadi kalau daerah tempat bertelur penyu rusak, pasti akan menyebabkan berkurangnya populasi penyu apalagi di tambah dengan perburuan liar yang tidak terkendali.

baca selengkapnya

Friday, April 15, 2011

BUAH MUNDU, SI APEL JAWA


Dibenak Penulis tiba-tiba terlintas masa-masa ketika masih kecil di kampung (sebuah dusun di Kec. Seyegan Kab. Sleman), yaitu ingat ketika berebutan memanjat pohon “apel jawa” istilah kami, soalnya pada tahun 70-an buah apel masih tergolong barang mewah bagi anak-anak pedesaan seperti penulis. Orangtua kadang kalau ke kota hanya pada waktu menjelang lebaran untuk beli makanan yang akan disajikan pada saat lebaran, dan orangtua penulis membawakan oleh-oleh buah-buahan seperti apel, anggur atau jeruk. Praktis makan buah apel kami sangat jarang pada waktu itu. Hal ini pun masih dapat penulis syukuri karena penulis masih lebih beruntung daripada temen-temen kami anak para petani yang jarang orangtuanya tidak pernah ke kota untuk membelikan buah-buahan seperti penulis.

Jadilah Mundu atau Garcinia dulcis menjadi buah favorit kami, setelah pulang sekolah penulis biasanya pergi bermain ke kebon (ladang) atau sawah, salahsatunya yaitu berburu buah-buahan “apel jawa” tadi. Mundu merupakan sejenis pohon buah-buahan yang semakin langka anggota genus Garcinia yang berkerabat dekat dengan manggis (Garcinia mangostana) dan asem kandis (Garcinia parvifolia). Mundu dipercaya sebagai tanaman buah asli Indonesia yang hanya tumbuh di Jawa dan sebagian Kalimantan, meskipun tumbuhan ini juga tumbuh di Filipina dan Thailand.

Mundu di Jawa disebut juga rata, baros atau klendeng dalam bahasa Sunda dikenal sebagai jawura atau golodogpanto. Dalam bahasa Inggris dikenal juga dengan sebutan yang sama, mundu atau moendoe. Di Filipina disebut sebagai biniti atau bagalot, sedangkan di Thailand dikenal sebagai maphut. Dalam bahasa latin (ilmiah), mundu disebut Garcinia dulcis yang bersinonim dengan Garcinia longifolia, dan Xanthochymus javanensis.


Klasifikasi Ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Theales; Famili: Clusiaceae; Genus: Garcinia; Spesies: Garcinia dulcis
Nama Binomial: Garcinia dulcis; Nama Indonesia: Mundu

Diskripsi dan Persebaran
.
Tumbuhan mundu (Garcinia dulcis) berupa pohon berbatang pendek dengan tinggi maksimal 13-15 meter dengan tajuk yang mengerucut ke atas. Batangnya mempunyai kulit berwarna coklat dan mempunyai semacam getah berwarna putih yang akan berubah menjadi coklat pucat saat kering. Batang mundu ditumbuhi banyak ranting berbentuk hampir persegi empat yang mudah patah dan berbulu halus.
Daun mundu berbentuk bundar telur sampai lonjong jorong, panjang 10 – 30 cm dan lebar 3,5 – 14 cm, hijau pucat bila muda, permukaan atas hijau gelap dan mengkilat, pada bagian bawah dengan tulang tengah yang menonjol dan keras, urat-urat daun banyak dan paralel, panjang tangkai daun sampai 2 cm. Bunga mundu muncul di dekat pangkal daun berwarna kuning keputihan dan berbau harum.
Buah mundu berbentuk bulat dengan ujung atas dan bawah agak meruncing dengan diameter antara 5-8 cm. Buah berwarna hijau muda saat masih mentah dan berubah menjadi kuning cerah (mengkilat) ketika masak. Buah mundu (Garcinia dulcis) memiliki 1-5 biji berukuran 2,5 cm berwarna coklat.

Pohon mundu tumbuh di Indonesia (Jawa dan sebagian Kalimantan) dan telah ditanam di negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina. Habitatnya adalah daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 meter dpl.
Manfaat. Buah mundu dapat dimakan langsung dan diolah menjadi selai bahkan sebagai campuran jamu tradisional. Sedangkan kayu dan kulitnya, dahulu sering dipakai sebagai campuran pembuat warna hijau alami.

Buah mundu, hati-hati saat memakannya
Rasa masam bercampur manis dengan kulit buah yang berwarna kuning cerah, sangat menarik bagi anak-anak desa seperti kami. Penulis sering sembunyi-sembunyi untuk makan buah ini, karena dengan alasan yang tidak jelas orangtua penulis tidak suka kalau anaknya makan buah mundu. Walupun begitu orangtua pasti tahu kalau kami habis makan buah mundu, karena warna kuning kadang masing terlihat di lidah dan gigi, apalagi penulis sering makan berlepotan sehingga baju penulis dipenuhi bercak-bercak warna kuning.

Buah mundu ini selain rasanya yang khas, juga mengandung serat dan air yang cukup tinggi. Yang perlu diperhatikan ketika memakan buah mundu secara langsung adalah getahnya. Buah yang banyak mengandung vitamin C ini memiliki getah yang kuat yang dapat membuat iritasi ringan di bibir bagi yang tidak terbiasa. Karena itu, jika hendak memakannya lebih baik mengupas dan mencucinya terlebih dahulu sehingga getah buah langka ini hilang dulu.

Anda penasaran, cobalah jalan-jalan di pelosok desa di Yogyakarta, mungkin masih beruntung dapat menemukan buah langka asli Indonesia ini.

Referensi: www.plantamor.com; www.proseanet.org;

BEDA KLUWIH DENGAN SUKUN


Nama Ilmiah
Artocarpus altilis (Park.) Fsb.

Nama Daerah
Melayu: Gomu
Aceh: Kulu
Batak: Kulur
Minangkabau: Kalawi
Lampung: Kaluwih
Sunda: Kelewih
Jawa: Kluwih
Madura: Kolor
Bali: Kalewih
Bima: Kolo
Timor: Lakuf
Makassar: Gamasi
Selayar: Kuloro
Bugis: Ulo
Seram: Limes, Unas!
Halmahera: Dolai
Indonesia: Kluwih, keluwih, kulur (Sunda)
Inggris: Seeded breadfruit
Melayu: Sukun
Vietnam: Sake
Thailand: Sa-ke
Pilipina: Rimas, kamansi
Botani
Sinonim: Artocarpus communis J.R. & G.A. incisa (Thunb.) L.f.

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledoneae / Magnoliopsida
Bangsa/Ordo: Urticales
Suku/Famili: Moraceae
Marga/Genus: Artocarpus
Jenis/Spesies: Artocarpus altilisis / Artocarpus incise (Park.) Fsb.

Ciri-ciri
Habitus: Pohon, tinggi 10-25 m.
Batang: Tegak, bulat, percabangan simpodial, bergetah, permukaan kasar, coklat.
Daun: Tunggal, berseling, lonjong, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi bertoreh, panjang 50-70 cm, lebar 25-50 cm, pertulangan menyirip, tebal, permukaan kasar, hijau.
Bunga: Tunggal, berumah satu, di ketiak daun, bunga jantan silindris, panjang 10-20 cm, kuning, bunga betina bulat, garis tengah 2-5 cm, hijau.
Buah: Semu majemuk, bulat, diameter 10-20 cm, berduri lunak, hijau.
Biji: Bentuk ginjal, panjang 3-5 cm, hitam.
Akar: Tunggang, coklat.

Kandungan Kimia

Bunga dan daun kluwih mengandung saponin, polifenol dan tanin, sedang kulit batangnya mengandung flavonoida, GABA (Gamma Amino Butyric Acid).

Khasiat
Bunga jantan kluwih berkhasiat sebagai obat sakit gigi dan daunnya untuk obat sakit kulit.
Untuk obat sakit gigi dipakai 1 buah bunga jantan kluwih, dibakar sampai rnenjadi arang lalu ditumbuk sampai halus. Hasil tumbukan dioleskan pada gusi gigi yang sakit.
Ekstrak daun segar dengan konsentrasi 45% atau daun kering dengan konsentrasi 18% berkasiat dapat menurunkan kadar gula darah dan SGPT, karena ekstrak daun kluwih ini mengandung GABA (Gamma Amino Butyric Acid), Flavonoid dan Polifenol.

Sakit kuning atau penyakit lever adalah penyakit yang mematikan, namun anda jangan takut, penyakit ini gampang dan mudah disembuhkan jika orang tersebut rajin dan tekum menjalani pengobatannya.

Ambillah satu buah sukun, belah menjadi 4 potong dan direbus sampai mendidih, minumlah sebanyak mungkin air rebusan tersebut dan bila perlu setiap minum pakailah air rebusan tersebut selama dua minggu atau lebih maka penyakit lever akan sembuh.
Jika buah sukun susah didapatkan maka daun sukun juga sangat berkhasiat menyembuhkan lever, caranya adalah ambil 10 helai daun sukun yang sudah tua warna kuning, rebus sampai mendidih seperti warna teh, berikan dan minumkan ke penderita air rebusan selama 2 minggu maka sakit lever tersebut sembuh, mudah-mudahan resep ini dapat membantu keluarga yang membutuhkan.

Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/alternative-medicine/1823111-khasiat-buah-dan-daun-sukun/#ixzz1JZywqpvk

Kerabat Dekat

Mentawa, Pintau, Cempedak, Sukun, Selanking, Benda, Nangka, Monkey Jack, Klempatak, Keledang, Tampang, Betoh
KLUWIH. Disebut juga kelewih, timbul, sukun, sake dll. Bahasa kerennya seeded breadfruit. Buahnya mirip nangka tetapi daunnya beda jauh dari nangka. Ia berdaun lebar seperti daun jati. Kluwih banyak ditemukan di dataran rendah, tumbuh subur di hampir pelosok wilayah Pulau Jawa.
Kluwih bisa dinikmati sebagai pelengkap sayur asam, atau sayur kluwih semata. Sebagai moraceae alias suku nangka-nangkaan, kluwih memang kalah famor dibanding nangka atau cempedak. Kluwih terlanjur disebut buah udik yang cuma mampu disantap jika sudah diolah. Tidak seperti nangka, cempedak dan sejenisnya, kluwih butuh pendamping untuk bisa menjadi penganan.

Waktu kecil saya sering memanfaatkan bakal buah kluwih gagal (onthel) yaitu bunganya yang lonjong mirip cakue, bakal buah ini gagal menjadi buah yang lezat sehingga ia jatuh dan mengering. Buah gagal ini bisa untuk mengusir nyamuk dengan cara dibakar... Baranya mengeluarkan asap.... mirip pembasmi nyamuk bakar. Tapi seingat saya dulu kalau bakar “obat nyamuk Jawa” ini nyamuk-nyamuk jagoan masih saja berani datang dan melancarkan operasinya…he..he…sudah kebal kali.
Selain itu bunga kluwih yang disebut "onthel" itu jaman dulu suka dipakai sebagai "lampu" kalau berjalan dalam kegelapan malam.

Beda Kluwih Dengan Sukun
Saya mencoba mencari info tentang perbedaan antara sukun dan kluwih. Ternyata kedua tanaman ini satu jenis (A. altilis), hanya kalau sukun itu tak berbiji sedangkan kluwih adalah yang jenis berbiji. Buah sukun di Indonesia seringnya dimasak sebagai makanan kecil, seringnya buah yang tua dan mengandung banyak tepung ini digoreng atau dibuat kolak (dengan santan dan gula merah) atau dijadikan keripik sukun. Sedangkan kluwih seringnya dipetik muda dan dijadikan sayur lodeh.

"Tewel" itu kalau dirumahku dulu dipakai untuk membedakan antara "Jangan Tewel" dengan "Gudeg" yang dibuat dari "gori" atau nangka muda. Jangan tewel sendiri pakai kuah encer seperti lodeh dan dibuat dari kluwih (juga disebut nangka sayur), yang buahnya bundar seperti bola seukuran sukun (breadfrfuit), tetapi kulitnya berduri seperti nangka. Nangka, kluwih dan sukun ... ketiganya dari genus yang sama, Artocarpus, tetapi species yang berbeda:

Nangka - Artocarpus integra
Kluwih - Artocarpus incise
Sukun - Artocarpus altilis

Nangka, sukun dan kluwih menu makanan jenis ini terkenal di pedesaan, tetapi masalah kelezatan tidak kalah dengan menu-menu impor… peluang bisnis untuk menu restro bernuansa back to nature.

Thursday, March 24, 2011

KUNTUL DAN BLEKOK

Kuntul Kecil atau dalam nama ilmiahnya Egretta garzetta berukuran lebih besar daripada ‎Kuntul Kerbau yaitu 55-65 cm dan memiliki panjang bentangan sayap 88-106 cm. Pada musim kawin, burung ini mempunyai dua bulu hias putih yang tipis memanjang pada tengkuknya dan lebih banyak bulu pada punggungnya yang meluas melebihi ekor. Kuntul adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ardeidae. Burung ini berkaki panjang, berleher panjang, dan tersebar di seluruh dunia.
Burung kuntul sewaktu terbang lehernya membentuk seperti huruf "s" dan tidak diluruskan, berbeda dengan burung dari keluarga Bangau (Ciconiidae) dan Ibis (Threskiornithidae) yang meluruskan leher dan merentangkan kaki-kakinya sewaktu terbang.
Dalam bahasa Melayu, burung dari keluarga Ardeidae dan Ciconiidae disebut Bangau, sedangkan di Indonesia istilah Bangau digunakan untuk burung dari keluarga Ciconiidae.
Habitat burung Kuntul di lahan basah, di pantai atau terumbu karang. Makanan berupa ikan, Katak, dan hewan invertebrata. Spesies seperti Kuntul kerbau (Bubulcus ibis ) memakan serangga yang berukuran lebih besar dan tidak terlalu tergantung pada tanah yang berair.
Pada tahun 2005, ilmuwan Kanada yang bernama Dr Louis Lefebvre mengumumkan metode pengukuran IQ yang berkaitan dengan kebiasaan makan. Berdasarkan metode ini, burung Kuntul merupakan salah satu burung yang paling pintar.
Klasifikasi burung Kuntul mengalami kesulitan karena ada perbedaan pendapat dalam pengelompokan spesies ke dalam dua genus besar: Ardea dan Egretta.

Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) merupakan burung terkecil dari bangsa Kuntul-kuntulan (sekitar 50 cm). Burung ini suka mencari makanan di dekat kerbau atau sapi yang merumput. Bentuk tubuhnya lebih ramping daripada Blekok Sawah (Ardeola speciosa), meskipun tidak seramping kuntul-kuntul yang lebih besar. Seluruh bulunya berwarna putih, tetapi selama musim kawin, bulu-bulu pada kepala, leher dan punggungnya berwarna kuning kerbau. Paruhnya kuning dan lebih tebal daripada kuntul lain.





Bangau adalah sebutan untuk burung dari keluarga Ciconiidae. Badan berukuran besar, berkaki panjang, berleher panjang namun lebih pendek dari burung Kuntul, dan mempunyai paruh yang besar, kuat dan tebal.
Bangau bisa dijumpai di daerah beriklim hangat. Habitat di daerah yang lebih kering dibandingkan burung Kuntul dan Ibis. Makanan berupa Katak, ikan, serangga, cacing, burung kecil dan mamalia kecil dari lahan basah dan pantai.
Bangau tidak memiliki organ suara syrinx sehingga tidak bersuara. Paruh yang diadu dengan pasangannya merupakan cara berkomunikasi menggantikan suara panggilan.
Bangau merupakan burung pantai migran, terbang jauh dengan cara melayang memanfaatkan arus udara panas sehingga dapat menghemat tenaga. Foto burung Bangau yang sedang terbang oleh Ottomar Anschütz (1884) menjadi inspirasi Otto Lilienthal untuk membuat glider yang digunakan untuk terbang layang pada akhir abad ke-19.
Bangau merupakan burung yang berat dengan rentang sayap yang lebar. Spesies Leptoptilos crumeniferus dari Afrika mempunyai rantang sayap 3,2 meter, sehingga dijuluki sebagai "burung darat dengan rentang sayap terpanjang di dunia" bersaingan dengan burung Kondor dari Pegunungan Andes
Sarang digunakan untuk beberapa tahun, berukuran sangat besar, diameter hingga 2 meter. dan kedalaman sarang 3 meter. Bangau pernah dikira monogami, tapi ternyata tidak selalu benar. Bangau cenderung setia pada sarang dan pasangannya, tapi mungkin juga berganti pasangan sehabis migrasi atau pergi bermigrasi tanpa ditemani pasangannya.
Badan yang berukuran besar, bersifat monogami, dan kesetiaan pada tempat bersarang menjadikan burung Bangau sering dijadikan simbol pembawa kebahagiaan di dalam banyak kebudayaan dan mitologi.

Cangak Abu atau dalam nama ilmiahnya Ardea cinerea merupakan salah satu burung jenis Kuntul-kuntulan. Burung ini umumnya berwarna abu-abu pucat, kepala (burung) dan leher (burung)nya berwarna putih, serta memiliki kedok hitam di belakang mata (burung) yang memanjang ke belakang membentuk guratan lengkung yang halus.
Burung ini banyak terdapat di kawasan pesisir {jenis lainnya, Cangak Merah (Ardea purpurea)}, yang berwarna merah kecoklatan tua, mencari ikan di air tawar}. Kedua burung ini mempunyai daerah penyebaran dari Afrika, Eropa, Asia sampai Indonesia bagian barat (khususnya pulau Dua)

Jika Anda tertarik untuk mengamati salah satu burung jenis Kuntul-kuntulan ini, Anda dapat berkunjung ke Desa Wisata Kentingan yang merupakan salah satu habitat sarang dari jenis satwa ini. Untuk informasinya selengkapnya klik di sini


SPECIES
• Genus Ardea
o Kuntul putih besar, Kuntul besar (Ardea alba, Egretta alba)
o Kuntul sedang atau Kuntul perak (Ardea intermedia, Egretta intermedia, atau Mesophoyx intermedia)
o Cangak laut atau Cangkak laut (Ardea sumatrana)
o Cangak abu (Ardea cinerea)
o Great Blue Heron (Ardea herodias)
o Goliath Heron (Ardea goliath)
o Cocoi Heron (Ardea cocoi)
o White-necked Heron atau Pacific Heron (Ardea pacifica)
o Black-headed Heron (Ardea melanocephala)
o Madagascar Heron (Ardea humbloti)
o White-bellied Heron (Ardea insignis)
o Cangak merah (Ardea purpurea)
o Pied Heron (Ardea picata atau Egretta picata)
o Swinhoe's Egret atau Chinese Egret (Ardea eulophotes atau Egretta eulophotes)
• Genus Philherodias
o Capped Heron (Pilherodius pileatus)
• Genus Butorides
o Green Heron atau Green-backed Heron (Butorides virescens)
o Kokokan laut (Butorides striatus atau Ardea striatus)
• Genus Ardeola
o Blekok sawah, Kuntul Putih, atau Kuntul Sawah (Ardeola speciosa)
o Indian Pond Heron (Ardeola grayii)
o Squacco Heron (Ardeola ralloides)
o Chinese Pond Heron (Ardeola bacchus)
o Madagascar Pond Heron (Ardeola idae)
o Rufous-bellied Heron (Ardeola rufiventris)
• Genus Bubulcus
o Kuntul kerbau (Bubulcus ibis atau Ardea ibis)
• Genus Egretta
o Kuntul kecil atau Kuntul perak kecil (Egretta garzetta atau Ardea garzetta)
o Kuntul karang (Egretta sacra atau Ardea sacra)
• Kuntul china (Egretta eulophotes)
o Snowy Egret (Egretta thula)
o Reddish Egret (Egretta rufescens)
o Slaty Egret (Egretta vinaceigula)
o Black Heron (Egretta ardesiaca)
o Tricolored Heron atau Louisiana Heron (Egretta tricolor)
o Cangak Australia (Egretta novaehollandiae atau Ardea novaehollandiae)
o Little Blue Heron (Egretta caerulea)
o Western Reef Heron (Egretta gularis)
• Genus Agamia
o Agami Heron (Agamia agami)
• Genus Tigrisoma
o Bare-throated Tiger Heron (Tigrisoma mexicanum)
o Fasciated Tiger Heron (Tigrisoma fasciatum)
o Rufescent Tiger Heron (Tigrisoma lineatum)
• Genus Tigriornis
o White-crested Tiger Heron (Tigriornis leucolophus)
• Genus Zonerodius
o New Guinea Tiger Heron (Zonerodius heliosylus)
• Genus Zebrilus
o Zigzag Heron (Zebrilus undulatus)
• Genus Syrigma
o Whistling Heron (Syrigma sibilatrix)
• Genus Nycticorax
o Kowak-malam kelabu atau Kowak maling (Nycticorax nycticorax)
o Kowak-malam kuning (Nycticorax violaceus)
o White-backed Night Heron (Nycticorax leuconotus)
o Rodrigues Night-Heron (Nycticorax megacephalus) (sudah punah)
• Genus Gorsachius
o Kowak malam merah atau Kowak Melayu (Gorsachius melanolophus atau Nycticorax caledonicus)
o White-eared Night Heron (Gorsachius magnificus)
o Japanese Night Heron (Gorsachius goisagi)
o Malayan Night Heron (Gorsachius melanolophus)

Sunday, March 20, 2011

SI KANCIL YANG MALANG

Kancil atau Pelanduk merupakan spesies sebangsa Rusa dari genus Tragulus yang memiliki tubuh kecil. Sedikitnya terdapat 6 spesies Kancil atau Pelanduk yang terdapat di Asia Tenggara. Yang sering dijumpai di Indonesia adalah Tragulus javanicus, Tragulus napu dan Tragulus kanchil.

Gambar Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus)Pelanduk atau Kancil (Tragulus javanicus) dalam bahasa Inggris disebut Javan Chevrotain, Java Mousedeer, Javan Mousedeer, Kanchil, dan Lesser Mouse Deer. Sedang dalam bahasa Belanda biasa disebut Kleine Kantjil.
Ciri-ciri dan Habitat Pelanduk. Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) mempunyai ukuran tubuh yang kecil seukuran dengan kelinci. Panjang tubuhnya sekitar 20-25 cm. Tubuh bagian atas Kancil atau Pelanduk berwarna coklat kemerahan, sedangkan tengkuk bagian tengah biasanya lebih gelap daripada bagian tubuh lainnya. Bagian bawah berwarna putih dengan batas sedikit kecoklatan di tengah, tanda khusus di kerogkongan dan dada bagian atas berwarna coklat tua.
Raut muka Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) berwarna putih, terlihat seperti sebuah garis dari dagu sampai dada. Kancil jantan tidak mempunyai tanduk tetapi mempunyai gigi taring yang yang memanjang keluar dari mulutnya.
Kancil atau Pelanduk merupakan binatang herbivora yang menyukai rumput, daun-daunan yang berair, kecambah, buah-buahan yang jatuh di tanah, kulit pisang, papaya, ubi, dan ketela. Binatang ini mempunyai masa mengandung selama 137-155 hari dan akan menyusui bayinya hingga berusia antara 60-70 hari.
Habitat Pelanduk atau Kancil (Tragulus javanicus) di hutan primer dan sekunder yang cukup lebat atau tanah kering di dataran rendah atau kaki bukit tidak jauh dari sungai dengan vegetasi lebat. Di Indonesia Kancil dapat ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Selain itu Pelanduk dapat dijumpai pula di Malaysia.
Populasi dan Konservasi. Populasi Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) hingga kini tidak dketahui dengan pasti. Baik oelh pemerintah Indonesia maupun oleh organisasi konservasi lingkungan hidup lainnya. Karena itu IUCN Redlist memasukkannya dalam status konservasi “Data Deficient” (DD; Informasi Kurang) yang berarti selama lima tahun terakhir belum diadakan evaluasi atau penelitian ulang.
Kancil bersama semua anggota genus Tragulus merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.
Spesies Lainnya. Sedikitnya terdapat 6 spesies Kancil atau Pelanduk yang tergabung dalam genus Tragulus. Keenam spesies tersebut yaitu:
• Tragulus javanicus (Java Mouse-deer)
• Tragulus kanchil (Lesser Mouse-deer)
• Tragulus napu (Greater Mouse-deer)
• Tragulus nigricans (Philippine Mouse-deer)
• Tragulus versicolor (Vietnam Mouse-deer)
• Tragulus williamsoni (Williamson’s Mouse-deer)
Sebuah ironi memang mengingat begitu populernya kisah fabel Kancil yang cerdik bahkan licik dan banyaknya peribahasa dan pepatah dalam budaya kita (Melayu dan Jawa) yang menggunakan kata Kancil dan Pelanduk tetapi ternyata kita kekurangan data (Data Deficient) mengenai binatang berspesies Tragulus javanicus ini.

KANCIL PUTIH

Selain itu juga pernah dijumpai di kawasan hutan Kabupaten Nunukan Kaltim seekor kancil putih di kawasan hutan Sembakung. Beberapa ahli satwaliar yang ditemui masih memperdebatkan apakah satwa ini merupakan jenis baru ataukah albino? Albino adalah suatu jenis kelainan genetic pada Makhluk hidup, dimana makhluk hidup tersebut tidak memiliki pigmen, karena tidak mempunyai pigmen maka spesies albino biasanya sangat sensitif terhadap sinar matahari. Kemungkinan albino pada satwaliar di alam adalah satu berbanding satu juta. Ini berarti setiap ada satu juta satwa kemungkinan diketemukan satu spesies yang albino. Sedangkan di kawasan ini, menurut informasi dari masyarakat Sembakung mereka sering bertemu dengan jenis satwa tersebut. Selain itu masyarakat yang berada di daerah Sebuku juga sering bertemu dengan satwa tersebut, padahal jarak antara Sebuku dengan Sembakung adalah sekitar 25 km dengan kawasan yang telah terpisahkan oleh koridor permukiman, jalan, dan areal pertanian.

Baca selengkapnya

Klasifikasi ilmiah: Kingdom: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Tragulidae; Genus : Tragulus; Spesies : Tragulus javanicus
Referensi: IUCN Redlist.
Gambar: www.malaysiasite.nl dan www.fotografer.net