Tuesday, May 15, 2012

KATIK SI PUNAI GADING

Penulis agak sedikit bingung ketika akan menceritakan soal burung satu ini, karena pada waktu kecil orang tua (di Yogyakarta) menamakan burung sejenis puter ini dengan nama burung Katik. Namun setelah penulis cocokan dengan foto-foto burung Katik yang ada di FOBI kok nggak cocok. Memang sekilas mirip katik dengan burung Punai Gading yang saya maksud, maklumlah karena masih satu family Columbidae. Kadang Punai Gading ini juga disebut dengan nama Puter Lumut, karena anatominya seperti puter dengan bulu berwarna hijau lumut. Beberapa ras punai telah dideskripsikan namun perbedaan antar ras dianggap kurang nyata, kadang nama-nama lokalnya saling tumpang tindih membingungkan, sehingga masih perlu deskripsi yang lebih detil lagi.

Burung Katik (Chalcophaps indica) mempunyai warna bulu sayap yang hijau terang dan paruh berwarna merah. Sedangkan burung yang penulis maksud itu ini sepertinya termasuk keluarga Punai species Treron Vrenans (Punai Gading) dengan ciri-ciri sebagai berikut: kepala abu-abu kebiruan, sisi leher, tengkuk bawah, dan garis melintang pada dada berwarna merah jambu. Dada bagian bawah jingga, perut hijau dengan bagian bawah kuning, sisi-sisi rusuk dan paha bertepi putih, penutup bagian bawah ekor coklat kemerahan. Punggung hijau, bulu penutup ekor atas perunggu. Sayap gelap dengan tepi kuning yang kontras pada bulu-bulu penutup sayap besar. Ekor abu-abu dengan garis hitam pada bagian subterminal dan tepi abu-abu pucat. Betina: hijau, tanpa warna merah jambu, abu-abu, dan jingga seperti pada jantan.Iris merah jambu, paruh abu-abu biru dengan pangkal hijau, kaki merah.

Ingat Punai Gading ini kadang menyebabkan penulis merindukan saat-saat sekitar tahun 80’an, keaneka ragaman flora dan fauna Indonesia masih gampang dijumpai, apalagi di pedesaan-pedesaan. Kebalikannya dengan era reformasi yang berhembus justru semakin memperparah kerusakan daerah konservasi karena adanya berbagai perusakan hutan oleh masyarakat sehingga habitat burung semakin rusak. Perkembangan kota yang semakin luas juga menyebabakan vegetasi habitat burung semakin berkurang sehingga tidak ada tempat bagi burung untuk dapat berkembang biak dengan baik. Kota sebagai pusat aktifitas manusia semakin tidak memberikan ruang lingkup untuk kehidupan burung karena hilangnya pohon-pohon besar yang dapat digunakan sebagai salah satu habitat burung.

Dahulu di halaman rumah penulis yang cukup luas masih banyak ditumbuhi berbagai pohon besar yang salah satunya sering dihinggapi oleh Punai Gading ini. Penulis sendiri sudah lupa suara Punai Gading ini seperti apa, tetapi yang membekas di ingatan penulis hanya wajah manisnya saja. Biasa Punai Gading alias Katik (yk) datang berkelompok dan hinggap di pepohonan samping rumah. Biasanya Punai ini makan buah kecil-kecil seperti buah Kersen dan Salam.

Tempat hidup dan kebiasaan
Umum di hutan pantai, hutan magrove, hutan sekunder, hutan rawa-rawa, perkebunan yang berpohon jarang, di sekitar pemukiman, tempat-tempat terbuka dan lembah sampai ketinggian 1200 mdpl. Sepertinya populasinya semakin kecil di tempat yang semakin tinggi dari permukaan laut.Berkumpul dalam kelompok kecil, hinggap pada pohon buah-buahan (seperti bringin dan kersen) untuk mencari makan. Saat terganggu, terbang berdua atau bertiga dengan kepakan sayap yang keras. Pada malam dan pagi hari, mengeluarkan suara mendengkur lembut yang rendah dari tempat bertengger.

Sumber referensi:
Flickriver, FOBI, Kutilang Indonesia

Tuesday, May 8, 2012

BELALANG GORENG

Siapa tidak kenal dengan Belalang yang dalam bahasa Jawa dinamakan Walang (Valanga nigricornis, H. Burmeister, 1838), Shorthorned Grasshopper (Eng), belalang kayu, belalang jati (Ina) atau dikenal dengan nama belalang kunyit (May).

Belalang adalah serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Serangga ini memiliki antena yang hampir selalu lebih pendek dari tubuhnya dan juga memiliki ovipositor pendek. Suara yang ditimbulkan beberapa spesies belalang biasanya dihasilkan dengan menggosokkan femur belakangnya terhadap sayap depan atau abdomen(disebut stridulasi), atau karena kepakan sayapnya sewaktu terbang. Femur belakangnya umumnya panjang dan kuat yang cocok untuk melompat. Serangga ini umumnya bersayap, walaupun sayapnya kadang tidak dapat dipergunakan untuk terbang. Belalang betina umumnya berukuran lebih besar dari belalang jantan.

Bagi orang awam terutama orang perkotaan untuk membedakan belalang (Caryanda spuria), belalang kembara (Locusta migratoria) atau belalang kayu (Valanga nigricornis)mungkin masih membingungkan. Banyak spesies belalang di dunia ini, namun kali ini penulis hanya akan bercerita tentang belalang kayu (Valanga Nigricornis) yang enak dimakan sebagai lauk istimewa. Dari belalang kayu saja terdapat sekitar 18 subspesies yang diketahui tersebar di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Foto-foto belalang ini dapat anda lihat di majalah elektronik FOBI.

Belalang kayu hanya mempunyai 1 generasi per tahunnya. Belalang kayu yang ada di Jawa, telurnya bisa bertahan 6-8 bulan untuk melewati musim panas sebelum akhirnya menetas pada musim hujan. Belalang kayu yang ada di Malaysia hanya memerlukan waktu sekitar 60-75 hari sebelum akhirnya menetas. Sementara di Thailand, telur belalang kayu menetas dan nimfa berkembang di musim hujan dan belalang akan bertahan melewati musim panas sebagai belalang dewasa yang belum matang secara seksual (immature).

Belalang merupakan salah satu serangga yang mengalami proses metamorfosis tidak sempurna ya (hemimetabola) dimana hanya mengalami 3 tahapan perkembangan yang dimulai dari telur lalu nimfa yang merupakan serangga muda yang mempunyai sifat dan bentuk yang sama dengan dewasanya, dan yang terakhir adalah imago atau serangga dewasa. Baik nimfaataupun belalang kayu dewasa, keduanya sama-sama menyukai sinar matahari dan akan mencari tempat-tempat yang terbuka yang terkena sinar matahari langsung untuk hinggap seperti misalnya di pucuk-pucuk pohon atau tanaman. Umumnya belalang kayu ini aktif mencari makan pada siang hari.

Tahapan kehidupan nimfa (atau larva serangga lainnya) yang dilalui diantara proses pergantian kulit atau ekdisis satu dengan lainnya disebut ‘tahapan instar’. Nimfa belalang kayu akan berkembang dalam 6-7 kali ‘tahapan instar’ untuk belalang jantan, dan 7-8 kali ‘tahapan instar’ untuk belalang betina sebelum akhirnya menjadi belalang kayu dewasa.

Belalang atau dalam bahasa Jawa disebut walang merupakan serangga yang menurut para petani di manapun adalah perusak tanaman padi alias hama yang melahap pucuk daun padi muda sehingga membuat buah padi sulit untuk tumbuh. Belalang kayu saat ini telah menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta karena sering dibeli orang dari luar daerah. Sejumlah penjaja serangga tersebut yang banyak dijumpai di pinggir jalan jurusan Semanu-Wonosari dan Paliyan-Trowono. Bahkan, warga dari Jakarta dan Bandung sering mampir untuk sekedar membeli belalang kayu itu, kemudian dibawa pulang keasalnya untuk makanan kecil atau lauk pauk.

Iwak walang” istilah orang Jawa untuk menyebut lauk belalang, memang merupakan lauk yang istimewa dari sisi kandungan gizinya, bahkan mengandung protein lebih banyak daripada kandungan protein udang windu. Belalang kayu ini mudah didapat dan beraroma khas selain mengandung protein yang tinggi yaitu 62,2 persen tiap 100 gramnya, juga tidak menimbulkan efek yang beracun atau berbahaya, bagi yang memakannya. Bagi mereka yang terbiasa menikmati jenis lauk ini, silahkan melihat buku resep hasil karya juru masak terkenal asal Belanda, Henk van Gurp, yang telah menulis Insect Cookbook, buku resep serangga pertama di Belanda. Bahkan apabila anda menyempatkan diri datang ke Yogyakarta terutama di daerah Gunung Kidul akan dengan mudah anda temukan sajian belalang-belalang goreng siap santap. Sekarang ini juga sudah bisa ditemukan sajian belalang dalam bentuk abon belalang.

Model menu abon belalang ini ditemukan oleh sekelompok mahasiswa jurusan pendidikan IPA Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta Risti Hardiyanti Rukmana, Anggit Betania Nugrahani, Dwi Ana Rizki dan Mustofa. Mereka berharap dengan diketemukan cara mengolah belalang menjadi abon belalang ini akan dapat dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Gunungkidul bagi wisatawan yang berasal dari luar daerah, selain itu juga dapat meningkatkan nilai ekonomi belalang sehingga dapat memicu warga yang bermata pencaharian sebagai pencari belalang untuk lebih mengembangkan usahanya.

Klasifikasi ilmiah belalang kayu (Valanga nigricornis)
Kingdom: Animalia Linnaeus, 1758 – hewan (animals)
Phylum: Arthropoda Latreille, 1829 – hewan beruas (arthropods)
Subphylum: Hexapoda Latreille, 1825 – "berkaki enam"
Class: Insecta Linnaeus, 1758 – serangga (insects)
Order: Orthoptera Latreille, 1793 – belalang (grashoppers, locusts), belalang daun (katydids) dan jangkrik (crickets)
Suborder: Caelifera Ander, 1939 – belalang (short-horned grasshoppers)
Superfamily: Acridoidea (MacLeay, 1821) Burmeister, 1839
Family: Acrididae MacLeay, 1821 – belalang (grasshoppers)
Subfamily: Cyrtacanthacridinae W.F. Kirby, 1902
Tribe: Cyrtacanthacridini
Genus: Valanga Uvarov, 1923
Species: Valanga nigricornis (H. Burmeister, 1838)

Referensi:
Wikepedia, fotododi3384 (dodi estiara), FOBI

Monday, May 7, 2012

POHON SERUT

POHON SERUT (Streblus asper) sekarang lebih dikenal sebagai salah satu favorit pohon bonsai, bentuk batang dan daun yang eksotik menyebabkan bonsai Pohon Serut banyak diburu orang. Selain itu konon kabarnya pohon Serut ini mempunyai aura dingin yang bermanfaat untuk menangkal santet atau teluh yang mempunyai aura panas. Mengenai hal gaib ini memang secara ilmiah belum ada yang meneliti kebenarannya, tetapi secara supranatural ada orang yang menyakini kebenarannya. Memang kalau dilihat dari beberapa cerita di masyarakat pedesaan pohon Serut, Beringin, Preh, Randu Alas dan pohon-pohon tua lainnya selalu mempunyai cerita-cerita menarik yang berhubungan dengan alam gaib. Seperti di daerah Sleman Barat tepatnya di daerah Minggir terdapat kampong Serut, di depan sebuah bangunan tua peninggalan Belanda tumbuh subur Pohon Serut tua. Konon kabarnya pada malam-malam tertentu sering terjadi penampakan-penampakan gaib.

Pohon Serut tumbuh menyemak sampai pohon menengah setinggi 4-10 meter, bentuk daun persegi panjang-bulat telur sampai belah ketupat dengan panjang 4-12 cm, permukaan daunnya kasar, tepi daun bergerigi, ujung runcing, pangkal daun meruncing, tulang daun menyirip. Bunga laki-laki pendek dan kuning kehijauan. Bunga femal adalah peduncled, biasanya berpasangan, hijau dan hampir penutup buah. Buah berbentuk bulat, dengan panjang 8-10 milimeter, kuning pucat, pericarpnya lembut dan berdaging, sedangkan bijinya bulat telur dengan diameter 5-6 milimeter.
Penyebaran pohon Serut ini dari sekitar India, Sri Lanka dan Asia Selatan sampai ke Asia Tenggara (termasuk Filipina). Di Indonesia saat ini Pohon Serut banyak dijumpai selain di Taman Nasional Alas Purwo sebagai salah satu habitat alaminya, juga dapat ditemukan di nursery – nursery sebagai tanaman bonsai yang di jual dengan harga dari Rp. 50.000,- s.d. Rp.150.000,-

Pohon Serut sangat apik jika dibonsai karena mempunyai perakaran tunjang yang kuat, berwarna coklat keputihan dengan batang berkayu, silindris, banyak cabang tinggi atau rendah, batang retak/bercelah, kulit batang hampir mengelupas, abu-abu. Dengan system percabangan yang banyak menjadikan Pohon Serut banyak diminati karena memudahkan untuk membentuk bonsai sesuai dengan selera masing-masing.

Manfaat:
Daun Serut kasar sehingga sering digunakan untuk membersihkan peralatan masak dan sebagai pengganti amplas. Kulit pohon serut yang telah direbus digunakan untuk desinfektan luka, dan juga digunakan secara internal untuk penyakit kulit yang disebut "culebra”, selain itu kulit pohon yang digunakan untuk penawar racun dengan cara dikunyah. Di India rebusan kulit Serut digunakan untuk demam, disentri dan diare. lateks dari serut digunakan untuk mengobati tumit yang sakit dan tangan pecah-pecah dengan dioleskan pada kelenjar pembengkakan. Selain itu Akar serut digunakan untuk menyembuhkan epilepsi dan pembengkakan inflamasi dan diterapkan untuk bisul serta sebagai astringen dan antiseptik.

Klasifikasi Ilmiah: Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Urticales, Family Moraceae, Genus Streblus, Species Streblus asper Lour
Sinonim : Calius lactescens Blanco; Streblus lactescens Blanco


Referensi: Taman Asri, TN Alas Purwo

Sunday, May 6, 2012

TOKEK YANG MENGGIURKAN

Tokek siapa yang tidak kenal dengan hewan satu ini walaupun sebetulnya terdapat 44 spesies Tokek, namun yang terkenal adalah Tokek rumah. Cicak besar bernama latin Gekko gecko dikenal di beberapa tempat dengan sebutan berbeda, misalnya tekek atau tokek, (Jawa), tokok (Sunda), dan tokay gecko atau tucktoo (Inggris).

Cecak yang berukuran besar, berkepala besar. Panjang total mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya. Dorsal (sisi punggung) kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Ventral (perut, sisi bawah tubuh) abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang. Kulit punggung tertutupi oleh sisik-sisik granular, bercampur dengan bintil-bintil yang agak besar. Pupil mata tegak bentuk jorong, dengan tepi yang bergerigi.

Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Jari-jari kaki depan dan belakang tumbuh sempurna, melebar di ujung, terkadang dengan selaput di antara pangkal jari, cakar (kuku) terdapat pada jari-jari sebelah luar, sisi bawah jari dengan sederetan bantalan pelekat (disebut scansor) yang berkembang baik dan tidak berbelah (berbagi). Terdapat pula pori-pori preanal atau preano-femoral, serta bintil post-anal. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar.

Hewan ini tersebar luas mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh, lewat Myanmar, Tiongkokselatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa,Borneo, Sulawesi, Lombok, Flores, Timor, Aru dan Kepulauan Filipina (Manthey & Grossmann, 1997: 232).

Sepuluh tahun yang lalu Tokek ini masih mudah dicari di habitatnya baik pada rumah-rumah penduduk di pedesaan maupun di pohon-pohon besar di hutan. Perburuan Tokek yang tanpa pandang bulu dan ganas menjadikan segala ukuran Tokek lenyap dan sulit ditemukan lagi, Suara teritorialnya yang keras dan khas, tokke ... tokkee ..., menjadi dasar penyebutan namanya dalam berbagai bahasa. Suara khas dan keras ditambah lagi ukurannya yang relative lebih besar dibanding cicak menjadikan Tokek mudah dicari.

Isu bisnis Tokek yang menggiurkan lebih dominan daripada isu manfaat Tokek untuk keseimbangan alam. Banyak orang sekarang ini mempunyai falsafah tidak peduli dengan alam asal uang ada ditangan. Falsafah ini sedikit demi sedikit mulai benar-benar mengancam kenyamanan lingkungan yang kita cintai ini. Memang sebetulnya bisnis tokek masih diselimuti misteri. Meski para penjualnya telah mendapatkan keuntungan banyak dari bisnis ini, tapi khasiatnya belum benar-benar teruji. Bahkan rumor terakhir, tokek bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Namun belum bisa ada yang membuktikannya.

Hewan ini kebanyakan aktif di saat senja dan malam hari, meski suara panggilannya kadang-kadang terdengar di siang hari. Tokek tinggal di lubang pepohonan di hutan atau di rekahan batuan atau gua; namun sebagian jenisnya juga beradaptasi dengan lingkungan manusia dan bersifat komensal.

Tokek memburu aneka serangga dan invertebrata lain sebagai makanannya, walaupun juga tidak segan memangsa vertebrata lain yang lebih kecil ukurannya. Tokek betina biasanya mengeluarkan sepasang telur, yang disimpan berlekatan di sudut lubang atau dinding. Tempat menyimpan telur ini biasa digunakan berulang kali oleh tokek yang sama.

Anehnya walaupun di alam liar sudah sulit dicari, padahal bisnis Tokek juga belum berhenti namun sampai saat ini belum ada orang mencoba beternak Tokek. Untuk keluarga penulis sendiri di Yogyakarta sudah melepas liarkan beberapa Tokek ke habitatnya salah satunya dua ekor di lepas di rumah penulis dan semoga saja tidak di tangkap oleh para pemburu Tokek. Penulis hanya tidak ingin Tokek tinggal ceritanya saja di samping berharap Tokek juga dapat ikut mengendalikan populasi serangga-serangga yang menjadi hama para petani seperti wereng, kupu-kupu, kecoa maupun nyamuk.

Klasifikasi Ilmiah:
Kerajaan: Animalia, Filum: Chordata, Kelas: Reptilia, Ordo: Squamata, Up Ordo: Lacertilia, Famili: Gekkonidae, Up Famili: Gekkoninae, Genus: Gekko, Spesies: Gekko Gecko

Referensi: wikipedia, Biodeversitas Indonesia

Thursday, May 3, 2012

PELESTARIAN AYAM HUTAN

Ayam Hutan Abu-Abu
Keaneka ragaman kekayaan flora fauna Indonesia sangat indah dan menarik untuk dikagumi. Salah satunya adalah ayam hutan yang merupakan nama umum bagi jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Jantan dengan betina berbeda bentuk tubuh, warna dan ukurannya (dimorfisme seksual, sexual dimorphisme). Ayam hutan jantan memiliki bulu yang berwarna-warni dan indah, berbeda dengan ayam betinanya yang cenderung berwarna monoton dan kusam.

Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang ayam peliharaan. Dalam bahasa daerah, ayam ini disebut dengan berbagai nama seperti canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas (Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.). Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris disebut Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl; yakni merujuk pada warna, asal tempatnya hidupnya dan sifatnya yang liar.

Ada empat spesies ayam liar yang semuanya digolongkan dalam genus Gallus Kelas Aves. Keempat spesies ayam liar tersebut dikenal dengan sebutan ayam hutan, yaitu ayam hutan Ceylon (Gallus lafayetti Lesson), ayam hutan abu-abu (Gallus sonneratti Temmick), ayam hutan merah (Gallus gallus Linnaeus), dan ayam hutan hijau (Gallus varius Shaw) (HUTT, 1949).

Ayam hutan Ceylon (Gallus lafayetti Lesson) banyak ditemukan di Sri Langka. Ciri utama ayam ini mempunyai warna bulu mirip ayam hutan merah. Pada ayam jantan, bulu bagian dada berwarna merah jingga dan coklat gelap dan yang betina mempunyai bercakbercak coklat pucat dan coklat gelap atau bercak lurik, jengger pada bagian tengahnya berwarna kuning serta telurnya totol-totol. Sayap dan ekor mempunyai lurik coklat hitam (HUTT, 1949; WALUYO dan SUGARDJITO, 1984).

Ayam hutan abu-abu (Gallus sonneratti Temmick) tersebar di bagian Barat dan Selatan India dari Bombay sampai Madras (HUTT, 1949). Ayam jantan mempunyai warna bulu dada kombinasi antara warna hijau, hitam dan putih. Ujung sayap dan ekor mengecil seperti cacing. Bulu dominan pada jantan dan betina adalah abu-abu dan perak sedangkan pada bagian leher ada lurik putih (WALUYO dan SUGARDJITO, 1984).

Ayam hutan merah (Gallus gallus Linnaeus) tersebar meliputi dari India, Burma, Siam, Cochin, Cina, Semenanjung Malaya, Filipina, dan Indonesia. Di Indonesia dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, Lombok dan Timor (HUTT, 1949; WALUYO dan SUGARDJITO, 1984). Ayam jantan memiliki bulu dada berwarna hitam, jengger tunggal berukuran besar dan bergerigi yang berwarna merah. Bulu leher panjang dan sempit, punggung dan sayap berwarna coklat.

Ayam-ayam ini dari segi bentuk tubuh dan perilaku sangat serupa dengan ayam-ayam peliharaan (Gallus gallus domesticus), karena memang merupakan leluhur dari ayam peliharaan. Terutama Ayam hutan merah (Gallus gallus) yang lebih banyak miripnya dengan moyang dari ayam peliharaan. Hal inipun juga mempengaruhi hasil persilangan antara ayam domestik dengan ayam hutan merah, hidup dan yang dapat bereproduksi secara normal, dibanding jika menyilangkan dengan ayam hutan hijau. Fenomena ini didukung oleh penelitian polymorphisme protein darah oleh HASHIGUCHI et al. (1993) yang mendapatkan hasil bahwa kemiripan genetik ayam domestik dengan ayam hutan merah lebih dekat dibandingkan dengan ayam hutan hijau, sehingga kemungkinan hal ini yang mempengaruhi aktivitas perkawinan di antaranya.

Dahulu di pedesaan di daerah Yogyakarta masih banyak ditemukan ayam kampong yang mirip dengan ayam hutan merah ini. Namun untuk saat ini ayam kampong jenis ini yang bertubuh kecil dengan corak bulu yang hamper sama dengan ayam hutan merah sudah sulit dicari. Saat ini penduduk desa lebih senang menyilangkan ayam kampong mereka dengan ayam Bangkok, sehingga keturunan ayam kampong sekarang rata-rata berpostur tegap dan besar.

Ayam Hutan Hijau
Dahulu sekitar tahun 1980 di daerah pegunungan Pare dan Menoreh Daerah Istimewa Yogyakarta masih banyak ditemukan Ayam Hutan Hijau. Ayam-hutan Hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak dan sempidan.

Secara geografis kedua wilayah di Yogyakarta ini berbukit-bukit dan relative masih terdapat hutan-hutan kecil yang tidak begitu rapat. Seperti kebanyakan ayam hutan hijau lebih menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Bahkan dahulu di dusun Ngaran Margokaton Seyegan Sleman sering terjadi beberapa ayam hutan masuk ke pedesaan dan berbaur dengan ayam kampung peliharaan penduduk, hal ini terjadi biasanya pada saat musim kemarau dimana-mana hutan pada merangas karena daunya kering. Ayam hutan yang kesulitan mencari makan akhirnya masuk ke pedesaan untuk mencari makan.

Ayam Hutan Merah
Tetapi tidak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Anak ayam hutan ini telah mampu terbang menghindari bahaya dalam beberapa minggu saja. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam-hutan Hijau mampu terbang lurus hingga beberapa ratus meter; bahkan diyakini mampu terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut.

Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa sampai belasan detik, semakin lama semakin panjang jedanya. Kokok ini biasanya segera diikuti atau disambut oleh satu atau beberapa jantan yang tinggal berdekatan. Ayam betina berkotek mirip ayam kampung, dengan suara yang lebih kecil-nyaring, di pagi hari ketika akan keluar dari sarangnya.


Di Indonesia terdapat dua jenis ayam hutan yang menyebar alami terutama di bagian barat kepulauan. Kedua jenis itu ialah ayam-hutan merah, yang menyukai bagian hutan yang relatif tertutup; dan ayam-hutan hijau, yang lebih menyenangi hutan-hutan terbuka dan wilayah berbukit-bukit.

Pagi dan sore ayam ini biasa mencari makanan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.

Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui senang membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu.

Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.

Ayam-hutan Hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan.

PELESTARIAN AYAM HUTAN
Walaupun dibeberapa daerah ayam hutan liar sudah jarang ditemukan namaun ayam hutan saat ini belum termasuk satwa liar yang harus dilindungi akan tetapi melihat nilai ekonomi yang dimiliki maka konservasi untuk mempertahankan populasinya perlu mendapat perhatian sejak dini agar tidak terlambat.

Penangkaran ayam hutan adalah cara terbaik untuk tetap dapat mempertahankan populasi ayam hutan perlu segera dilakukan. Penangkaran akan lebih mudah dilakukan dengan jalan penetasan dan pembesaran bersama ayam kampung. Apabila diperoleh beberapa ekor anak jantan dan betina hasil penetasan dan pembesaran, ini dapat dijadikan sebagai stok awal dalam memperbanyak populasi ayam hutan yang ada tersebut.

Penangkaran ayam hutan dan mengembangkan populasinya tidak cukup mudah walaupun ayam hutan yang dipelihara sudah cukup jinak. Ayam hutan adalah salah satu satwa liar yang mungkin dapat dibudidayakan akan tetapi sukarnya ayam hutan dalam berkembang biak merupakan salah satu masalah yang akan dihadapi jika akan dibudidayakan. Namun dengan desain kandang yang menyerupai habitat asli di samping ketersediaan pakan yang cukup seperti di sangkar burung TMII maupun Taman Safari, ternyata dapat meningkatkan perkembangbiakan ayam hutan ini.

Sebetulnya tujuan konservasi satwa liar adalah terjaminnya kelangsungan hidup satwa liar dan terjaminnya kebutuhan masyarakat untuk memanfaatkannya baik langsung maupun tidak langsung berdasarkan prinsip kelestariannya. Pola konservasi satwa liar di Indonesia mengikuti strategi konservasi dunia, yaitu tidak saja bertujuan untuk melestarikan spesiesspesies yang ada tetapi juga berusaha untuk memanfaatkannya bagi kesejahteraan manusia secara lestari. Dalam pelaksanaannya, konservasi satwa liar diselenggarakan baik di habitat alamnya (in situ) maupun di luar habitat almnya (ex situ) dengan cara penangkaran.

Referensi:
Biodeversitas Indonesia, Ayam Hutan Wikipedia, Klub Burung dll